Nasional

Rupiah Tembus Rp17.500, Menkeu Siapkan Jurus Baru dan Panda Bond China

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat rupiah yang menyentuh level Rp17.500 per dolar AS. Pemerintah akan masuk ke pasar obligasi, menjajaki penerbitan Panda Bond, dan menyiapkan instrumen tambahan yang dampaknya disebut terlihat pekan depan.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan strategi penguatan rupiah melalui pasar obligasi dan Panda Bond

Defisit APBN April 2026 turun ke Rp164 triliun dengan penerimaan pajak rebound dan belanja negara meningkat

Emitenhub.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan strategi khusus untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda saat ini terpantau berada di level Rp17.500 per dolar AS.

Pemerintah berencana meluncurkan instrumen baru pada pekan depan. Kebijakan tersebut diharapkan memberi dampak signifikan terhadap upaya penguatan rupiah.

Purbaya menegaskan pemerintah memiliki peran penting dalam menjaga mesin pertumbuhan ekonomi. Fondasi ekonomi yang tetap solid dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor domestik dan asing, sehingga mendukung penguatan rupiah secara alami.

Dalam jangka pendek, Kementerian Keuangan akan fokus membantu stabilisasi melalui pasar obligasi. Pemerintah telah mulai masuk ke pasar tersebut dan berencana meningkatkan volume intervensi.

Purbaya menyebut pemerintah dapat masuk ke pasar obligasi dengan nilai sekitar Rp2 triliun setiap hari. Langkah tersebut diarahkan untuk menekan imbal hasil obligasi atau bond yield.

Penurunan bond yield dinilai penting untuk menjaga minat investor asing di pasar domestik. Purbaya menyebut investor cenderung bertahan apabila risiko capital loss dapat ditekan, bahkan berpeluang memperoleh capital gain ketika yield bergerak turun.

Selain masuk ke pasar obligasi, Kementerian Keuangan juga mempertimbangkan penerbitan Panda Bond. Instrumen utang tersebut menggunakan mata uang yuan atau renminbi asal China.

Penerbitan Panda Bond diarahkan untuk mendiversifikasi sumber pendanaan pemerintah di luar dolar AS. Penggunaan yuan dinilai dapat menekan kebutuhan terhadap dolar AS, sehingga membantu mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Minat investor China terhadap instrumen tersebut disebut cukup besar. Purbaya menyampaikan telah bertemu dengan perwakilan ICBC dan Bank of China.

Kedua institusi itu menunjukkan ketertarikan untuk mendukung penerbitan Panda Bond Indonesia di China.

Purbaya menyebut yield Panda Bond berada di kisaran 2,3 persen. Angka tersebut hampir separuh dari bunga atau yield surat utang Indonesia yang diterbitkan dalam denominasi dolar AS.

Pasar China yang besar dinilai membuka prospek menarik bagi diversifikasi pasar utang Indonesia. Meski demikian, pemerintah masih menyiapkan instrumen tambahan untuk memperkuat strategi stabilisasi rupiah.

Instrumen baru tersebut belum dapat diumumkan saat ini. Namun, Purbaya menyatakan dampaknya akan mulai terlihat pada pekan depan.

Iklan