Saham

IPO Masih Nol hingga Akhir Februari 2026, BEI Ungkap 8 Emiten Mengantre

Hingga akhir Februari 2026, belum ada perusahaan yang mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia dengan dana IPO masih Rp0. Meski demikian, BEI mencatat delapan perusahaan telah masuk dalam pipeline pencatatan saham dengan dominasi emiten beraset besar.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Bursa Efek Indonesia IPO 2026 pipeline emiten

Bursa Efek Indonesia IPO 2026 pipeline emiten

Emitenhub - Memasuki penghujung Februari 2026, aktivitas pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia masih belum bergerak. Hingga kini, belum ada perusahaan yang menghimpun dana melalui Initial Public Offering (IPO). Total dana yang masuk dari jalur tersebut tercatat nol.

Kondisi tersebut disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (22/2/2026). Ia menegaskan bahwa hingga periode tersebut belum terdapat emiten baru yang melantai di bursa.

“Hingga 20 Februari 2026 tercatat 0 perusahaan yang mencatatkan saham di BEI dengan dana dihimpun Rp0,” tulis Nyoman.

Di sisi lain, antrean calon emiten masih terbentuk. BEI mencatat terdapat 8 perusahaan yang saat ini berada dalam pipeline pencatatan saham, mencerminkan minat ke pasar modal tetap terjaga meski realisasi IPO belum terjadi.

Nyoman memaparkan profil aset calon emiten yang saat ini berada dalam antrean pencatatan saham. Dari total delapan perusahaan di pipeline, lima di antaranya tergolong emiten berskala besar dengan nilai aset di atas Rp250 miliar. Tiga perusahaan lainnya masuk kategori menengah dengan aset berkisar Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, tanpa adanya calon emiten beraset di bawah Rp50 miliar.

Dari sisi sektor usaha, dua perusahaan berasal dari sektor barang baku (basic materials) dan dua lainnya dari sektor keuangan (financials). Empat calon emiten sisanya masing-masing mewakili sektor barang konsumen non-primer (consumer non-cyclicals), energi, perindustrian (industrials), serta transportasi dan logistik. Adapun sektor Consumer Cyclicals, Healthcare, Infrastructures, Properties & Real Estate, dan Technology belum tercatat dalam antrean IPO.

Sementara itu, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan pandangannya terkait belum adanya IPO pada awal tahun. Ia ditemui di Main Hall Gedung BEI, Jakarta, Jumat (20/2/2026).

“Ya enggak apa-apa,” ujar Jeffrey.

Menurutnya, bursa saat ini memilih bersikap lebih selektif dalam menyaring calon emiten. Fokus tersebut menunjukkan bahwa BEI tidak semata mengejar jumlah pencatatan saham, melainkan menekankan kualitas perusahaan yang masuk ke pasar modal.

“Kita tunggu kesiapan emiten yang mau IPO. Kita sudah sepakat akan mengutamakan kualitas,” tegas Jeffrey.

Ia menekankan bahwa keputusan untuk mencatatkan saham sepenuhnya berada di tangan masing-masing perusahaan. Dari sudut pandang bursa, fokus diarahkan pada penyediaan akses bagi emiten dengan fundamental yang solid.

“Listing itu keputusan strategis masing-masing perusahaan. Kita mengundang perusahaan-perusahaan yang punya fundamental baik untuk bertumbuh lebih lanjut di Bursa dan berbagi value dengan investor,” ujarnya.

Terkait daftar antrean IPO, Jeffrey menjelaskan bahwa perusahaan yang belum mengajukan pencatatan akan mengikuti ketentuan terbaru Peraturan Nomor I-A tentang pencatatan saham pada saat aturan tersebut mulai berlaku efektif.

“Emiten yang baru akan melakukan pencatatan tentu akan menyesuaikan dengan peraturan yang baru,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai peluang IPO pada kuartal I-2026, Jeffrey belum menyampaikan kepastian. Ia hanya menyatakan, “Kita lihat nanti.”

Adapun untuk target tahunan, otoritas bursa masih mempertahankan sikap optimistis. BEI sebelumnya menyesuaikan target IPO tahun 2026 dari 66 emiten menjadi 50 emiten baru.

“Sampai saat ini belum ada perubahan. Kita masih bekerja dengan target itu,” tutup Jeffrey.

Iklan