Saham

Sektor Kesehatan Diproyeksi Melesat, MIKA & KLBF Jadi Pilihan Utama Analis

Sektor kesehatan diproyeksikan tumbuh kuat hingga 2027, didorong penambahan kapasitas rumah sakit dan meredanya tekanan dari perusahaan asuransi. Pendapatan emiten kesehatan diperkirakan naik 12% per tahun, sementara EPS tumbuh 14%. MIKA dan KLBF menjadi pilihan utama analis berkat valuasi menarik dan fondasi bisnis yang solid.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Grafik pertumbuhan sektor kesehatan dan saham unggulan MIKA serta KLBF (Sumber:Freepik)

Grafik pertumbuhan sektor kesehatan dan saham unggulan MIKA serta KLBF

Emitenhub - Kinerja sektor kesehatan Indonesia diproyeksikan terus membaik dalam tiga tahun ke depan.

Dalam riset terbarunya yang dikutip Dow Jones Newswires, Jumat (5/12/2025), analis CGS International Jason Chandra menilai percepatan penambahan kapasitas tempat tidur rumah sakit (RS) akan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri.

Menurut dia, dukungan pemerintah dalam pembukaan RS baru berpotensi mendorong rata-rata pertumbuhan jumlah tempat tidur sekitar 7 persen per tahun pada 2025–2027.

Selain itu, tekanan harga dari perusahaan asuransi mulai mereda, sehingga peluang peningkatan pendapatan rumah sakit semakin terbuka.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Jason memperkirakan pendapatan emiten kesehatan dapat tumbuh sekitar 12 persen per tahun dalam periode 2025–2027.

Sementara itu, laba per saham (EPS) diproyeksikan meningkat 14 persen per tahun, yang menurutnya merupakan salah satu laju pertumbuhan terkuat dibanding mayoritas emiten di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Melihat prospek yang semakin positif, ia menaikkan rekomendasi untuk sektor kesehatan menjadi overweight dari sebelumnya neutral. Di antara emiten kesehatan, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) disebut sebagai pilihan utama berkat valuasi yang dinilai masih menarik.

Pasien Swasta Dorong Pertumbuhan RS

BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek sektor kesehatan tetap solid, didukung kebutuhan layanan rumah sakit yang terus meningkat serta permintaan obat yang relatif tahan terhadap tekanan ekonomi.

Dalam riset yang dirilis pada 20 November 2025, analis menyebut pertumbuhan rumah sakit diperkirakan terutama didorong oleh pasien swasta. Sementara itu, segmen BPJS Kesehatan masih melemah akibat rujukan yang lebih ketat, tarif yang belum mengalami penyesuaian, serta kenaikan klaim.

Di industri farmasi, permintaan obat dipandang tetap stabil. Rasio klaim yang ketat di BPJS maupun asuransi swasta dinilai tidak berdampak signifikan terhadap penjualan.

Segmen consumer health turut memperoleh manfaat dari membaiknya likuiditas pasar, sehingga prospek emiten farmasi tetap positif.

Riset tersebut mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor kesehatan. BRI Danareksa menilai ada dua tema utama yang menopang kinerja sektor ini dalam jangka panjang: rendahnya penetrasi rumah sakit di Indonesia serta permintaan obat yang bersifat inelastis.

Dari sisi emiten, rumah sakit dengan porsi pasien swasta yang besar dan kemampuan pengendalian biaya yang kuat menjadi pilihan utama. MIKA kembali disebut sebagai kandidat unggulan berkat kinerja operasional yang solid dan valuasi yang masih menarik.

Saham MIKA diperdagangkan pada 15,3 kali EV/EBITDA proyeksi 2026, setara dengan minus 1,8 standar deviasi dari rata-rata lima tahun. Emiten ini juga memiliki margin EBITDA tertinggi dibandingkan rumah sakit lain di Asia Tenggara.

Untuk sektor farmasi, BRI Danareksa menjagokan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Perusahaan ini dinilai memiliki fondasi kuat melalui bisnis consumer health yang stabil serta keunggulan kompetitif dalam pemasaran resep below-the-line. Saham KLBF diperdagangkan pada 16,2 kali P/E proyeksi 2026, atau sekitar minus 1,3 standar deviasi dari rata-rata lima tahunnya.

(Disclaimer: Keputusan pembelian maupun penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor.)

Iklan