Saham

Hanya 1 IPO di April 2026, Pipeline BEI Masih Tebal dengan 15 Perusahaan Siap Melantai

Hingga akhir April 2026, baru satu perusahaan (WBSA) yang IPO dengan dana Rp0,30 triliun. Namun pipeline pencatatan saham masih cukup tebal dengan 15 perusahaan. Aktivitas obligasi jauh lebih kuat dengan Rp58,90 triliun, sementara rights issue terealisasi Rp3,75 triliun.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Pipeline IPO BEI April 2026 dengan 15 perusahaan siap melantai

Pipeline IPO BEI April 2026 dengan 15 perusahaan siap melantai

Pipeline Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menjadi sorotan pelaku pasar akibat minimnya realisasi IPO hingga akhir April 2026. Hingga 30 April 2026, baru satu perusahaan yang berhasil mencatatkan saham di bursa, yaitu PT BSA Logistik Tbk (WBSA) dengan dana dihimpun Rp0,30 triliun.

Meski realisasi masih rendah, antrean perusahaan yang siap melantai terbilang cukup tebal. BEI mencatat terdapat 15 perusahaan yang berada dalam pipeline pencatatan saham.

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyatakan pipeline tersebut masih terjaga. Menurutnya, kondisi ini mencerminkan minat dunia usaha yang tetap tinggi untuk memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan di tengah dinamika ekonomi saat ini.

“Kami melihat pipeline masih terjaga, ini menunjukkan minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal tetap ada,” ujar Nyoman dalam keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).

Dari sisi klasifikasi aset, mayoritas perusahaan dalam pipeline IPO BEI berasal dari kelompok aset besar. Sebanyak 11 perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, sementara 4 perusahaan berada di kategori aset menengah dengan rentang Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tidak ada perusahaan dengan skala aset kecil di bawah Rp50 miliar.

Pipeline IPO juga menunjukkan diversifikasi antar sektor, meski tidak merata. Sektor consumer cyclicals dan consumer non-cyclicals masing-masing menyumbang 3 perusahaan atau sekitar 20 persen dari total pipeline. Sektor healthcare turut mendominasi dengan 3 perusahaan (20 persen). Sementara itu, sektor infrastructure dan technology masing-masing menyumbang 2 perusahaan (13,3 persen).

Sektor energy dan financials hanya diisi masing-masing oleh 1 perusahaan atau sekitar 6,7 persen. Tidak terdapat perusahaan dari sektor basic materials, industrials, properties & real estate, serta transportation & logistics dalam pipeline saat ini.

Selain pipeline saham, aktivitas penghimpunan dana melalui obligasi dan sukuk juga menunjukkan geliat yang kuat. Hingga akhir April 2026, telah terbit 54 emisi dari 35 penerbit dengan total dana dihimpun mencapai Rp58,90 triliun.

Pipeline obligasi dan sukuk masih cukup tebal, dengan 47 emisi dari 33 penerbit yang sedang dalam proses. Sektor financials mendominasi pipeline obligasi dengan porsi 38,3 persen, diikuti sektor infrastructure sebesar 21,3 persen, dan sektor energy 14,9 persen.

Sektor basic materials menyumbang 6,4 persen, consumer non-cyclicals 4,3 persen, technology 2,1 persen, serta transportation & logistics dalam porsi terbatas. Tidak terdapat pipeline obligasi dari sektor healthcare maupun industrials.

Hingga 30 April 2026, tercatat tiga perusahaan telah melaksanakan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun. Rights issue merupakan aksi korporasi penambahan modal dengan memberikan hak prioritas kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru.

Pipeline rights issue ke depan relatif terbatas. Hanya tersisa satu perusahaan yang masih dalam proses, dan berasal dari sektor properties & real estate dengan porsi 100 persen dari total pipeline saat ini.

Meski realisasi IPO masih minim di awal 2026, potensi penghimpunan dana melalui pasar modal Indonesia tetap terbuka lebar, didukung aktivitas obligasi yang kuat dan pipeline rights issue yang masih ada.

Iklan