NICL Panas Jelang Cum Dividen! Investor Bertambah, Saham Nikel Ini Masih Jadi Sorotan
PT PAM Mineral Tbk (NICL) menjadi perhatian pasar menjelang cum dividen tunai Rp6 per saham pada 12 Mei 2026. Di tengah koreksi harga jangka pendek, jumlah investor perseroan bertambah dan free float tetap berada jauh di atas batas minimum BEI.
Saham NICL menjadi sorotan jelang cum dividen tunai Rp6 per saham pada Mei 2026 (Foto:NICL)
Emitenhub.com - Pergerakan saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) mulai menjadi perhatian pelaku pasar menjelang jadwal cum dividen tunai pada 12 Mei 2026. Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, saham emiten nikel ini mencatat pertumbuhan jumlah investor dan aktivitas perdagangan yang tetap tinggi.
Jumlah pemegang saham NICL bertambah 782 single investor identification (SID) sepanjang April 2026. Dengan tambahan tersebut, total investor perseroan meningkat menjadi 17.148 SID dari sebelumnya 16.366 SID pada Maret 2026.
Kenaikan minat investor terjadi saat NICL memasuki periode pembagian dividen tunai sebesar Rp6 per saham. Cum date dijadwalkan pada 12 Mei 2026, ex date pada 13 Mei 2026, recording date 18 Mei 2026, dan pembayaran dividen direncanakan berlangsung pada 26 Mei 2026.
Transaksi NICL Memanas Jelang Cum Dividen
Momentum pembagian dividen mulai terlihat pada aktivitas perdagangan saham PT PAM Mineral Tbk (NICL). Dalam sepekan terakhir, nilai transaksi harian bergerak aktif di kisaran Rp18 miliar hingga Rp23 miliar.
Pada perdagangan 4 Mei 2026, saham NICL sempat menguat ke level 880 dengan nilai transaksi Rp23,55 miliar dan volume 260,31 ribu lot. Investor asing saat itu mencatat net foreign buy Rp316,67 miliar, menjadi salah satu aliran dana asing terbesar NICL dalam periode berjalan.
Arah transaksi berubah cepat dalam beberapa hari berikutnya. Setelah sempat bergerak di area 850 hingga 870, tekanan jual mulai meningkat menjelang cum dividen. Pada 8 Mei 2026, saham NICL ditutup turun 8,62 persen ke level 795 dari posisi sebelumnya 870.
Koreksi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya aksi jual asing. Data perdagangan menunjukkan foreign sell mencapai Rp1,97 miliar, sedangkan foreign buy sebesar Rp846,86 juta. Dengan begitu, NICL mencatat net foreign sell sekitar Rp1,12 miliar dalam sehari perdagangan.
Riwayat Dividen NICL Masih Dicermati
Tekanan jual pada saham NICL belum sepenuhnya dibaca negatif oleh pasar. Secara historis, perseroan termasuk rutin membagikan dividen dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, NICL membagikan dividen Rp3 dan Rp4 per saham.
Dividen perseroan kemudian meningkat menjadi Rp3,5 dan Rp5 per saham pada 2024. Pada 2025, nilainya kembali naik menjadi Rp12 dan Rp15 per saham.
Pada 2026, NICL kembali membagikan dividen Rp6 per saham. Nilai tersebut lebih kecil dibandingkan distribusi besar tahun lalu, tetapi pasar melihat langkah ini sebagai sinyal konsistensi pembagian laba kepada investor di tengah perubahan dinamika industri nikel global.
Struktur Saham dan Free Float NICL Jadi Sorotan
Di luar agenda dividen, perhatian pasar juga mengarah pada pertumbuhan basis investor dan struktur kepemilikan PT PAM Mineral Tbk (NICL). Laporan registrasi pemegang efek menunjukkan PT Pam Metalindo masih menjadi pengendali utama dengan kepemilikan 43,23 persen atau sekitar 4,59 miliar saham.
PT Artha Perdana menempati posisi kedua dengan kepemilikan 28,82 persen atau sekitar 3,06 miliar saham. Sementara itu, publik menguasai sekitar 27,95 persen saham perseroan.
Free float NICL tercatat mencapai 27,34 persen atau sekitar 2,90 miliar saham. Posisi ini berada jauh di atas batas minimum Bursa Efek Indonesia sebesar 7,5 persen, sehingga likuiditas saham perseroan relatif lebih terjaga dibanding sejumlah emiten tambang berkapitalisasi menengah lainnya.
Pertumbuhan jumlah SID NICL mulai dibaca pasar sebagai sinyal meningkatnya perhatian investor ritel terhadap saham berbasis nikel. Sektor ini masih menjadi salah satu tema besar pasar dalam beberapa tahun terakhir, seiring perkembangan hilirisasi, baterai kendaraan listrik, dan rantai pasok energi baru.
Pergerakan jangka pendek NICL masih sensitif setelah koreksi tajam ke area 795. Posisi itu menunjukkan pasar belum sepenuhnya nyaman menahan saham menjelang ex dividen.
Pola tersebut lazim terjadi pada saham dengan karakter trader aktif. Sebagian pelaku pasar memilih merealisasikan keuntungan lebih awal sebelum periode cum date selesai.
Meski mengalami tekanan, NICL masih berada dalam radar pasar. Faktor pendukungnya berasal dari kenaikan jumlah investor, konsistensi pembagian dividen, dan likuiditas transaksi yang tetap aktif.
Arah saham NICL kini tidak hanya bertumpu pada sentimen dividen. Pelaku pasar juga mencermati prospek sektor nikel serta kemampuan perseroan menjaga pertumbuhan investor di tengah volatilitas harga komoditas global.


