Saham

BBTN Salurkan KPP Rp2,97 Triliun, BTN Genjot Ekosistem Pembiayaan Rumah

BTN mencatat realisasi pencairan KPP nasional sekitar Rp2,97 triliun hingga 18 Mei 2026. Realisasi tersebut berasal dari KPP Supply sebesar Rp1,98 triliun dan KPP Demand Rp987 miliar, sebagai bagian dari penguatan ekosistem perumahan nasional.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
BTN mencatat pencairan KPP Rp2,97 triliun untuk memperkuat pembiayaan perumahan nasional

BTN mencatat pencairan KPP Rp2,97 triliun untuk memperkuat pembiayaan perumahan nasional. (Foto:BBTN)

Emitenhub.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN (BBTN) mencatat realisasi pencairan KPP nasional sekitar Rp2,97 triliun hingga 18 Mei 2026.

Realisasi tersebut terdiri atas KPP Supply sebesar Rp1,98 triliun dan KPP Demand senilai Rp987 miliar. Capaian itu masing-masing setara sekitar 33 persen dari kuota KPP Supply 2026 sebesar Rp6 triliun dan 25 persen dari kuota KPP Demand 2026 sebesar Rp4 triliun.

Direktur Utama BTN, Nixon Napitupulu, menyampaikan keseimbangan antara sisi supply dan demand menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem perumahan nasional.

Ia menjelaskan KPP Supply berperan memperkuat kapasitas pengembang dalam membangun proyek perumahan. Sementara itu, KPP Demand memastikan masyarakat memiliki akses pembiayaan yang lebih terjangkau untuk memiliki rumah guna mendukung usaha.

Nixon menyebut sinergi kedua aspek tersebut diarahkan untuk membuat ekosistem perumahan nasional tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan. Menurutnya, BTN ingin memastikan pembiayaan perumahan juga memberi dampak ekonomi yang lebih luas.

Pada sisi pasokan, KPP Supply BTN mencatat pencairan Rp1,98 triliun secara nasional. Realisasi tersebut didukung 178 debitur dari skala UMKM maupun wilayah.

Jawa Barat menjadi salah satu kontributor terbesar dalam penyaluran KPP Supply. Posisi berikutnya ditempati wilayah Sulampua yang mencakup Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Dari sisi permintaan, KPP Demand BTN menjangkau 781 debitur secara nasional. Nilai pencairannya mencapai Rp987 miliar.

Wilayah Jabanus menjadi penyumbang penyaluran terbesar pada KPP Demand. Capaian ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap akses pembiayaan rumah yang terjangkau masih tinggi.

Nixon menambahkan integrasi KPP Supply dan KPP Demand menjadi strategi penting BTN. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat penyerapan pembiayaan perumahan di lapangan.

Nixon menyebut kebutuhan masyarakat terhadap hunian terjangkau harus diimbangi kesiapan pasokan dari pengembang. Karena itu, BTN terus melakukan penyelarasan antara sisi pembiayaan pengembang dan kebutuhan konsumen.

BTN mengarahkan proyek-proyek yang didukung melalui KPP Supply agar dapat terhubung langsung dengan basis konsumen KPP Demand. Integrasi tersebut diharapkan membuat penyaluran pembiayaan perumahan berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Iklan