Saham

Saham MBMA Berpotensi Meledak, Analis Ungkap Dampak Moratorium Nikel

Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dinilai masih tertinggal meski IHSG mencetak rekor. Analis melihat potensi penguatan saham MBMA seiring rencana moratorium investasi nikel dan pembatasan produksi bijih oleh pemerintah.

2 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Aktivitas pertambangan nikel dan pergerakan saham MBMA di Bursa Efek Indonesia

Arif Kurniawan dan peran strategisnya dalam perdagangan nikel Indonesia

Emitenhub - Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), emiten nikel dengan cadangan terbesar, cenderung tertinggal di tengah laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencetak rekor di kisaran 8.700. Meski demikian, analis menilai saham MBMA masih berpotensi menguat, didukung arah kebijakan pemerintah.

Berdasarkan riset Yuanta Sekuritas, pemerintah berencana menerapkan moratorium investasi nikel yang mencakup nickel pig iron dan produk nikel kelas 2 lainnya, serta mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel matte. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan nilai tambah nikel produksi dalam negeri.

Yuanta menilai kebijakan tersebut tidak serta-merta mendorong kenaikan harga nikel global. Pasalnya, fasilitas smelter yang masih dalam tahap konstruksi dikecualikan dari penerapan moratorium tersebut.

“Selain itu, harga NPI saat ini turun akibat faktor musiman. Beberapa fasilitas HPAL yang memproduksi MHP dijadwalkan mulai beroperasi tahun depan, sehingga menambah kapasitas sekitar 500 ribu ton per tahun,” tulis Yuanta dalam risetnya, dikutip Minggu (14/12/2025).

Namun dalam jangka panjang, Yuanta menilai pengetatan investasi smelter merupakan langkah yang tepat untuk menekan kelebihan pasokan di pasar nikel global. Kebijakan tersebut diperkirakan akan mendorong kenaikan harga nikel, terutama MHP yang digunakan sebagai material prekursor baterai kendaraan listrik.

Pada saat yang sama, Yuanta juga mencatat rencana pemerintah untuk membatasi produksi bijih nikel. Kebijakan ini dinilai dapat menjaga harga bijih nikel tetap premium, dengan potensi mencapai US$20 per ton.

Meski demikian, Yuanta mencatat harga nikel hingga saat ini masih terkoreksi sekitar 3%. Kendati demikian, saham-saham emiten nikel di Bursa Efek Indonesia dinilai tetap menarik untuk dicermati.

Yuanta menjadikan saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sebagai top pick di sektor nikel BEI. Saham ini dinilai memiliki profil risiko dan peluang yang seimbang, serta berpotensi mencatat pembalikan kinerja keuangan. Selain itu, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel juga dinilai menarik, karena relatif lebih defensif di tengah volatilitas harga nikel, seiring posisinya sebagai salah satu pionir industri pengolahan nikel di Indonesia.

Yuanta masih memberikan pandangan netral terhadap sektor saham nikel secara keseluruhan. Meski demikian, broker tersebut merekomendasikan buy untuk saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dengan target harga Rp750, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 40%.

Sementara itu, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga mendapat rekomendasi buy dengan target harga Rp1.500.

Iklan