Saham

INET Rights Issue Jumbo Rp3,2 Triliun, Terbitkan 12,8 Miliar Saham Baru

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) akan melaksanakan rights issue dengan menerbitkan 12,8 miliar saham baru senilai Rp3,2 triliun. Dana hasil PMHMETD akan digunakan untuk pengembangan jaringan FTTH dan pelunasan biaya infrastruktur jaringan.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Aksi rights issue INET untuk pengembangan jaringan FTTH dan infrastruktur telekomunikasi

Aksi rights issue INET untuk pengembangan jaringan FTTH dan infrastruktur telekomunikasi (Foto: Dok. INET)

Emitenhub - PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) akan melaksanakan Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue dengan skala besar.

Perseroan berencana menerbitkan sebanyak 12,8 miliar saham baru atau setara 57,14 persen dari modal ditempatkan dan disetor. Harga pelaksanaan ditetapkan Rp250 per saham dengan rasio 3:4, sehingga potensi dana yang dihimpun mencapai Rp3,2 triliun.

Seiring pelaksanaan rights issue, INET juga akan menerbitkan waran. Dalam prospektus terbaru yang dirilis pada Selasa (23/12/2025), perseroan berencana menerbitkan Waran Seri II sebanyak-banyaknya 2,30 miliar unit atau setara 10,29 persen.

Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan rencana sebelumnya yang mencapai 3,07 miliar waran atau sekitar 13,71 persen. Rasio waran turut disesuaikan dari 25:6 menjadi 50:9, sehingga setiap pemegang 50 saham baru berhak memperoleh 9 waran.

Perubahan tersebut berdampak pada potensi dana yang dapat dihimpun INET dari penerbitan waran, yang turun dari Rp921,6 miliar menjadi Rp691,2 miliar.

Dalam aksi rights issue ini, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) selaku pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 60,62 persen akan bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer). Dengan demikian, sisa hak memesan efek yang tidak ditebus oleh pemegang saham akan diserap oleh pengendali.

Perubahan tersebut berdampak pada potensi dana yang dapat dihimpun INET dari penerbitan waran, yang turun dari Rp921,6 miliar menjadi Rp691,2 miliar.

Seiring pelaksanaan rights issue, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN) selaku pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 60,62 persen akan bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer). Artinya, sisa hak memesan efek yang tidak ditebus oleh pemegang saham akan diserap oleh pengendali.

Selain bertindak sebagai pembeli siaga, AKUN yang memperoleh jatah 7,15 miliar hak memesan efek akan berpartisipasi dalam aksi korporasi ini dengan menyiapkan dana sekitar Rp1,79 triliun.

Perseroan berencana menggunakan dana hasil rights issue sebesar Rp2,8 triliun sebagai setoran modal kepada anak usaha, GPI, untuk pengembangan jaringan Fiber to the Home (FTTH) dengan teknologi Wi-Fi 7 di Bali dan Lombok. Sementara itu, sisa dana sebesar Rp213 miliar akan disalurkan sebagai setoran modal kepada PFI untuk pelunasan biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut.

Selain itu, dana sebesar Rp135 miliar akan dialokasikan sebagai setoran modal kepada IAB untuk modal kerja pembangunan jaringan FTTH di Pulau Jawa. Adapun sisa dana akan digunakan untuk mendukung modal kerja perseroan.

Dalam prospektus terbaru, INET juga mengungkapkan jadwal pelaksanaan PMHMETD, di mana cum rights di pasar reguler dan negosiasi berakhir pada 2 Januari 2026. Pencatatan saham hasil rights issue dijadwalkan pada 8 Januari 2026, dengan awal perdagangan pada tanggal yang sama dan akhir perdagangan pada 22 Januari 2026.

Sementara itu, perdagangan perdana waran dijadwalkan mulai 12 Januari 2026 dan akan berakhir atau kedaluwarsa pada 13 Juli 2028.

Iklan