Lo Kheng Hong Terus Borong Saham DILD, Ini Prospek Intiland Development dan Strategi Deleveraging
Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menambah kepemilikan saham PT Intiland Development Tbk. (DILD) di tengah perbaikan kinerja dan strategi deleveraging perseroan. Emiten properti ini juga didorong oleh kontribusi kawasan industri serta proyek strategis, termasuk di IKN.
Lo Kheng Hong dan prospek saham Intiland Development DILD
Emitenhub.com - Investor kawakan Lo Kheng Hong tercatat terus menambah kepemilikannya pada saham emiten properti PT Intiland Development Tbk. (DILD). Aksi tersebut tercermin dari data kepemilikan efek terbaru.
Mengacu pada data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 23 Desember 2025, Lo Kheng Hong menambah 1 juta lembar saham DILD dibandingkan posisi per 22 Desember 2025.
Berdasarkan data tersebut, Lo Kheng Hong kini menggenggam 694.069.100 lembar saham DILD atau setara 6,7%. Sebelumnya, per 22 Desember 2025, kepemilikannya tercatat sebanyak 693.069.100 lembar saham atau setara 6,69%.
Dalam catatan Bisnis, Lo Kheng Hong tercatat telah tiga kali melakukan aksi beli saham DILD sepanjang Desember 2025 hingga 23 Desember 2025. Transaksi pertama dilakukan pada 19 Desember 2025 dengan menambah sebanyak 953.100 lembar saham DILD.
Selanjutnya, pada 22 Desember 2025, Lo Kheng Hong tercatat menambah 600.000 lembar saham DILD dari posisi per 19 Desember 2025 yang mencapai 692,46 juta lembar atau setara 6,68%.
Terbaru, per 23 Desember 2025, jumlah saham DILD yang dimiliki Lo Kheng Hong kembali bertambah 1 juta lembar, dari 693,06 juta saham atau 6,69% menjadi 694,06 juta saham atau setara 6,70%.
Sementara itu, mengacu pada Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek yang berakhir pada 30 November 2025, Lo Kheng Hong tercatat menggenggam 691,51 juta lembar saham DILD atau setara 6,67%.
Sebagai gambaran, kepemilikan saham DILD oleh Lo Kheng Hong tersebar di tujuh sekuritas, yakni Sucor Sekuritas, Korea Investment and Sekuritas Indonesia, MNC Sekuritas, Sinarmas Sekuritas, Pluang Maju Sekuritas, Panin Sekuritas, dan BCA Sekuritas. Kepemilikan terbesar tercatat melalui Sinarmas Sekuritas sebanyak 539,47 juta lembar, sementara yang terkecil melalui Pluang Maju Sekuritas sebanyak 700 lembar.
Nama Lo Kheng Hong pertama kali tercatat sebagai pemegang saham PT Intiland Development Tbk. (DILD) dengan kepemilikan di atas 5% sejak 10 Agustus 2022. Dalam catatan Bisnis, Lo Kheng Hong membeli sebanyak 453,1 juta lembar saham DILD dengan harga rata-rata Rp147 per saham atau senilai sekitar Rp66,6 miliar.
Seiring waktu, Lo Kheng Hong secara bertahap terus menambah kepemilikan saham DILD. Langkah tersebut mencerminkan keyakinan jangka panjang terhadap prospek emiten properti tersebut.
Mengutip tayangan YouTube Intiland Development pada 23 Juni 2023, Lo Kheng Hong mengungkapkan alasan di balik keputusannya membeli saham Intiland. Ia mengawali analisis dengan menelaah profil jajaran direksi dan komisaris perseroan.
Dari penelaahan tersebut, Lo Kheng Hong menilai manajemen Intiland memiliki profesionalisme dan integritas yang kuat. Selain itu, ia juga mencermati nilai proyek yang tengah digarap perseroan.
Berdasarkan penjelasan manajemen Intiland saat itu, nilai proyek yang dikembangkan perseroan mencapai sekitar Rp20 triliun.
“Market cap-nya berapa? Rp1,5 triliun, properti yang dimiliki Rp20 triliun. Anggap ada utang Rp3 triliun, masih ada Rp17 triliun sisanya dibagi jumlah saham 10 miliar, kan Rp1.700. Kan mercy harga bajaj ya!”
Berdasarkan pertimbangan tersebut, Lo Kheng Hong kemudian mendalami laporan keuangan serta profil aset properti milik PT Intiland Development Tbk. (DILD) sebelum memutuskan membeli saham perseroan.
Di lantai bursa, pergerakan harga saham Intiland Development terpantau masih berada di zona merah secara year-to-date (YtD) 2025. Meski demikian, dalam enam bulan terakhir, saham DILD tercatat telah bergerak menguat.
Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, saham PT Intiland Development Tbk. (DILD) pada perdagangan Rabu (24/12/2025) bergerak di kisaran Rp132–Rp135 per saham. Kapitalisasi pasar perseroan pada periode tersebut tercatat sebesar Rp1,38 triliun.
Saham DILD dibuka di level Rp133 per lembar dan ditutup pada harga yang sama. Dengan posisi tersebut, saham DILD tercatat melemah 27 poin atau turun 16,88% secara year-to-date (YtD), namun masih menguat 8 poin atau naik 6,4% dalam enam bulan terakhir.
Potensi Intiland Development (DILD)
Sentimen positif atas membaiknya prospek pertumbuhan ekonomi nasional menjadi katalis tersendiri bagi emiten sektor properti, khususnya yang memiliki portofolio kawasan industri dan pergudangan. Kondisi ini turut mendukung prospek kinerja PT Intiland Development Tbk. (DILD).
Direktur Utama Intiland Development Archied Noto Pradono menyampaikan bahwa perbaikan sentimen ekonomi menjadi salah satu alasan perseroan tetap optimistis mampu mencapai target marketing sales sebesar Rp2 triliun hingga akhir tahun.
“Hingga kuartal III/2025, pencapaian marketing sales adalah sebesar Rp1,1 triliun atau setara dengan 56% dari target tahunan. Industrial memberikan kontribusi sekitar Rp548 miliar atau mengambil porsi 49% dari total,” ujar Archied kepada Bisnis.
Saat ini, DILD mengelola dua proyek kawasan industri utama, yakni Batang Industrial Park (BIP) di Jawa Tengah dan Ngoro Industrial Park (NIP) di Mojokerto, Jawa Timur. Selain itu, perseroan juga memiliki kawasan pergudangan Aeropolis Techno Park yang berlokasi di Tangerang.
Archied mengungkapkan Batang Industrial Park menjadi kontributor terbesar marketing sales dengan nilai Rp468 miliar. Selanjutnya disusul Aeropolis Techno Park sebesar Rp56 miliar dan Ngoro Industrial Park senilai Rp24 miliar.
“Bahkan, jumlah pencapaian marketing sales industrial itu naik 93% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp284 miliar. Hal ini menunjukkan permintaan di segmen ini terus membaik dan diharapkan semakin bertumbuh seiring peningkatan kondisi ekonomi nasional,” tuturnya.
Di sisi lain, DILD juga tercatat menjadi pemrakarsa proyek perumahan Menteri di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Proyek tersebut tertuang dalam Surat Persetujuan Kepala Otorita IKN No. B.317/Kepala/Otorita IKN/XI/2025 tertanggal 3 November 2025.
Proyek yang diusulkan DILD berupa pembangunan rumah tapak bagi pejabat setingkat Wakil Menteri serta anggota yudikatif dan legislatif, dengan luas bangunan 390 meter persegi.
Dengan asumsi penyediaan fasilitas umum (fasum) minimal 40% dari total kawasan, proyek ini diperkirakan membutuhkan lahan seluas 7 hektare. Total kebutuhan investasi untuk proyek yang dilelang tersebut ditaksir mencapai Rp2,88 triliun.
“Bentuk kompensasi yang diberikan kepada PT Intiland Development Tbk. berupa penambahan nilai 10%. Perkiraan nilai investasi proyek adalah sebesar Rp2,88 triliun,” tulis panitia lelang IKN dalam pengumuman, Kamis (13/11/2025).
Dari sisi strategi bisnis, Direktur Utama Intiland Development Archied Noto Pradono sebelumnya menyampaikan bahwa perseroan tengah menjalankan strategi deleveraging guna meningkatkan efisiensi pembiayaan. Langkah ini ditujukan untuk secara bertahap menurunkan tingkat utang perusahaan.
Dalam tiga tahun terakhir, PT Intiland Development Tbk. (DILD) secara konsisten memperkuat neraca keuangan melalui strategi deleveraging, sehingga perseroan dapat lebih fokus pada efisiensi struktur pembiayaan.
Upaya tersebut dilakukan melalui pelunasan, pengurangan, maupun refinancing utang dan beban bunga, serta penjualan aset non-core agar struktur keuangan menjadi lebih efisien.
Seiring implementasi strategi tersebut, total utang DILD tercatat mengalami penurunan. Hingga 30 Juni 2025 atau semester I/2025, total utang perseroan mencapai Rp4,38 triliun, menyusut Rp687 miliar atau sekitar 14% dibandingkan posisi per 31 Desember 2022 yang sebesar Rp5,06 triliun.
Selain itu, beban bunga perseroan juga tercatat menurun dalam tiga tahun terakhir. Pada 2022, DILD membukukan beban bunga pinjaman sebesar Rp518,1 miliar, yang kemudian turun menjadi Rp431,8 miliar pada 2024. Hingga 30 Juni 2025, beban bunga DILD tercatat sebesar Rp176,3 miliar.
Di sisi lain, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) turut menunjukkan tren penurunan. Pada 2022, DER DILD masih berada di level 61,1%, lalu menyusut menjadi 47% pada semester I/2025.
“Selain mendorong kinerja penjualan, fokus penting kami saat ini adalah menjalankan strategi deleveraging secara disiplin, mulai dari pelunasan, pengurangan, refinancing pinjaman berbunga tinggi, hingga divestasi aset non-core. Langkah ini akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan beban bunga dan penguatan struktur permodalan,” ujarnya.


