Saham

Prospek Saham INET Usai Kantongi Restu Rights Issue Rp3,2 Triliun, Analis Naikkan Target Harga

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) mengantongi restu OJK untuk rights issue Rp3,2 triliun guna mendukung ekspansi jaringan dan akuisisi. Analis menilai prospek saham INET tetap menarik seiring lonjakan kinerja dan pertumbuhan laba yang agresif.

6 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Prospek saham INET usai Sinergi Inti Andalan Prima mendapat restu rights issue Rp3,2 triliun

Prospek saham INET usai Sinergi Inti Andalan Prima mendapat restu rights issue Rp3,2 triliun (Foto:INET)

Emitenhub.com - Pergerakan harga saham emiten telekomunikasi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) tercatat terus melesat dan masih bertahan di atas target harga para analis. Kinerja saham tersebut mencerminkan minat pasar yang kuat.

Sejumlah aksi korporasi yang telah dilakukan, serta rencana bisnis perseroan pada 2026, menjadi sentimen positif yang menopang reli saham INET. Penguatan harga tercatat berlangsung konsisten dalam enam bulan terakhir, bahkan sejak awal tahun berjalan (year-to-date/YtD) 2025.

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham INET pada perdagangan Senin (29/12/2025) bergerak di kisaran Rp710–Rp800 per saham. Kapitalisasi pasar perseroan pada periode tersebut tercatat mencapai Rp7,09 triliun.

Saham INET dibuka di level Rp735 per saham dan ditutup menguat di Rp740 per saham. Dengan posisi tersebut, saham INET melesat 667 poin atau 913,70% secara YtD, serta naik 573 poin atau 343% dalam enam bulan terakhir.

Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun Bloomberg per Senin (29/12/2025) pukul 15.12 WIB, target harga saham INET dalam 12 bulan ke depan ditetapkan di level Rp646,36. Target tersebut mencerminkan potensi imbal hasil -16,6% dan LTM return sebesar 1.284,6% dari harga terakhir di kisaran Rp775 per saham.

Dari konsensus tersebut, terdapat 11 analis yang mengulas kinerja Sinergi Inti Andalan Prima. Seluruh analis masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham INET.

Sinergi Inti Andalan Prima juga menyiapkan sejumlah rencana ekspansi, termasuk aksi korporasi berupa akuisisi PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA). Langkah ini menjadi bagian dari strategi pertumbuhan perseroan ke depan.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, INET berencana melaksanakan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue dengan target perolehan dana sebesar Rp3,2 triliun. Selain itu, perseroan juga merencanakan penerbitan obligasi senilai Rp1 triliun.

INET menyampaikan telah memperoleh persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk pelaksanaan rights issue. Pernyataan efektif atas aksi korporasi tersebut diterbitkan pada Selasa, 23 Desember 2025.

Dalam prospektus ringkas perseroan, INET berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 12,8 miliar saham biasa baru dengan nilai nominal Rp10 per lembar. Aksi korporasi ini menjadi bagian dari pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD).

INET menetapkan harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp250 per saham. Dengan skema tersebut, perseroan menargetkan perolehan dana maksimal hingga Rp3,2 triliun dari pelaksanaan rights issue.

Seiring dengan rights issue, INET juga akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 3,2 miliar Waran Seri II. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.304.000.000 Waran Seri II akan melekat pada saham baru yang diterbitkan dalam PM-HMETD I.

Waran Seri II diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi pemegang saham baru yang melaksanakan haknya. Apabila seluruh waran tersebut dieksekusi, potensi tambahan dana yang dapat dihimpun perseroan mencapai Rp691,2 miliar.

Pemegang saham pengendali INET, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (AKUN), telah menyatakan kesanggupannya bertindak sebagai pembeli siaga atau standby buyer. AKUN siap menyerap sisa saham porsi publik yang tidak diambil bagian, dengan jumlah maksimal mencapai 5.652.377.067 saham.

Seluruh dana segar yang diperoleh dari pelaksanaan PMHMETD I akan dialokasikan untuk membiayai ekspansi INET di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital. Penggunaan dana difokuskan untuk memperkuat kapasitas jaringan dan layanan perseroan.

Sekitar Rp2,8 triliun dari dana HMETD akan disalurkan melalui entitas anak, PT Garuda Prima Internetindo (GPI), untuk pengembangan jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi dengan teknologi Wi-Fi 7. Melalui ekspansi ini, INET menargetkan layanan bagi hingga 2 juta pelanggan di wilayah strategis Pulau Bali dan Lombok.

Selanjutnya, sekitar Rp215,38 miliar akan dialokasikan kepada entitas anak PT Pusat Fiber Indonesia (PFI) untuk pelunasan biaya Indefeasible Right of Use (IRU) jaringan kabel bawah laut (submarine cable) kepada PT JMP. Sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja bagi perseroan dan entitas anak.

Langkah strategis ini dinilai mencerminkan komitmen manajemen INET dalam memperkuat fondasi bisnis jangka panjang. Adapun pemegang saham lama yang tidak melaksanakan haknya berpotensi mengalami dilusi kepemilikan maksimal sebesar 57,14%.

Analis Samuel Sekuritas Jonathan Guyadi dan Jason Sebastian dalam riset terbarunya menyebutkan laba INET pada kuartal III/2025 telah mencapai 86% dari estimasi internal dan 84,7% dari estimasi konsensus. Capaian tersebut dinilai membuka ruang untuk peninjauan ulang terhadap proyeksi kinerja perseroan.

Langkah INET menggelar rights issue dan penerbitan obligasi dinilai krusial bagi perseroan, mengingat pertumbuhan bisnisnya ditopang ekspansi strategis di berbagai segmen. Ekspansi tersebut mencakup jaringan kabel bawah laut, kontrak fiber to the home (FTTH), serta layanan internet berbasis node yang diproyeksikan mendorong margin EBITDA meningkat menjadi 52% pada 2026 dan 55,9% pada 2027.

Analis Samuel Sekuritas menilai ekspansi tersebut akan menopang lonjakan laba INET hingga mencapai Rp257 miliar pada 2026 dan Rp736 miliar pada 2027. Proyeksi ini mencerminkan dampak positif dari strategi pertumbuhan yang dijalankan perseroan.

“Selain itu, kami menyambut baik akuisisi PT Personel Alih Daya Tbk. (PADA) dan PT Trans Hybrid Communication (THC) karena rencana tersebut akan meningkatkan kontrak FTTH INET serta memperkuat kinerja bisnis secara keseluruhan,” tulis keduanya.

Samuel Sekuritas kemudian memberikan rekomendasi spekulatif beli untuk saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) dengan target harga dinaikkan menjadi Rp1.350. Penetapan target tersebut mempertimbangkan peningkatan laba perseroan dengan kelipatan EV/EBITDA 2027 sebesar 25 kali.

“Kami yakin INET adalah salah satu ISP dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia. Ini terjadi karena permintaan internet cepat meningkat. Permintaan ini datang dari perkantoran, hiburan, dan rumah tangga,” tulis analis Samuel Sekuritas.

Meski demikian, rekomendasi tersebut tetap dibayangi sejumlah risiko, antara lain potensi penundaan ekspansi, pertumbuhan pelanggan yang lebih lambat dari perkiraan, serta kemungkinan pelemahan daya beli masyarakat.

Pendapatan dan Laba INET Naik 195%

Sebagai gambaran, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET) mencatat pertumbuhan signifikan pada pendapatan dan laba sepanjang periode Januari–September 2025, seiring peningkatan layanan jasa internet yang dijalankan perseroan.

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan INET tercatat sebesar Rp68,60 miliar, melonjak sekitar 195% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp23,28 miliar.

Lonjakan pendapatan tersebut turut mendorong laba kotor perusahaan menjadi Rp32,42 miliar, atau meningkat lebih dari tiga kali lipat secara tahunan. Kontribusi pendapatan dari penyedia layanan internet naik signifikan menjadi Rp67,15 miliar dari sebelumnya Rp23,28 miliar.

Pada periode ini, INET juga membukukan pendapatan baru dari jasa konstruksi sebesar Rp1,44 miliar, yang sebelumnya belum tercatat. Diversifikasi sumber pendapatan ini memperkuat kinerja operasional perseroan.

Dari sisi operasional, laba usaha INET meningkat tajam dari Rp2,49 miliar menjadi Rp25,27 miliar, atau tumbuh lebih dari 900%. Sementara itu, laba bersih melonjak 819%, dari Rp2,10 miliar menjadi Rp19,37 miliar.

Sejalan dengan kinerja tersebut, EBITDA INET juga mencatat pertumbuhan signifikan menjadi Rp35,35 miliar, dari sebelumnya Rp4,68 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan EBITDA ini mencerminkan penguatan arus kas operasional serta peningkatan efisiensi bisnis perseroan.

Dari sisi neraca, total aset INET hampir berlipat ganda menjadi Rp454,59 miliar, dibandingkan Rp229,85 miliar pada akhir 2024. Liabilitas perseroan turut meningkat menjadi Rp93,07 miliar dari sebelumnya Rp13,98 miliar, seiring dengan ekspansi usaha yang dijalankan.

Meski demikian, tingkat leverage perusahaan masih tergolong rendah. Rasio utang terhadap ekuitas (DER) tercatat 0,26 kali. Angka ini naik dari 0,06 kali pada akhir 2024. Ini menunjukkan bahwa struktur permodalan tetap sehat. Meskipun ada peningkatan utang, rasio ini masih relatif konservatif.

Iklan