Saham

BlackRock hingga Vanguard Kompak Borong Saham BRMS, Sentimen Emas Jadi Katalis

Aksi borong saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) oleh investor institusi global seperti BlackRock, Vanguard, dan JP Morgan terjadi di tengah reli harga emas dunia. Analis menilai sentimen emas masih menjadi katalis utama bagi prospek kinerja dan saham BRMS ke depan.

4 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Aksi borong saham BRMS oleh BlackRock, Vanguard, dan JP Morgan di tengah reli harga emas

Aksi borong saham BRMS oleh BlackRock, Vanguard, dan JP Morgan di tengah reli harga emas (Foto:BRMS)

Emitenhub.com - Pemodal besar tercatat kompak mengakumulasi saham emiten tambang Grup Bakrie–Grup Salim, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), sepanjang Desember 2025. Aksi tersebut sejalan dengan reli kuat harga saham perseroan di pasar.

Saham BRMS ditutup menguat 5,53% ke level Rp1.145 per saham pada perdagangan Senin (29/12/2025). Secara year-to-date (YtD), harga saham tersebut telah melonjak 230,92%.

Seiring penguatan saham BRMS, harga emas di pasar spot juga tercatat berada pada tren tinggi. Berdasarkan data Bloomberg, hingga Senin (29/12/2025) pukul 18.42 WIB, harga emas spot berada di level US$4.450 per ons, meski terkoreksi 1,83% pada hari itu.

Sepanjang 2025, harga emas telah melonjak 69,57%, mencatatkan kinerja tahunan terbaik sejak 1979.

Dari sisi pemodal besar, sejumlah nama tercatat terus menambah kepemilikan saham BRMS sepanjang Desember 2025. Vanguard Group Inc. memimpin aksi akumulasi dengan pembelian sebanyak 846.200 lembar saham selama bulan ini.

Dengan tambahan tersebut, Vanguard kini menggenggam 2,302 miliar lembar saham BRMS, meningkat dari posisi akhir bulan sebelumnya yang tercatat 2,301 miliar lembar. Aksi ini menegaskan konsistensi minat investor institusional terhadap saham BRMS.

Di bawah Vanguard, BlackRock Inc. tercatat memborong 39,53 juta lembar saham BRMS sepanjang Desember 2025. Firma investasi global tersebut kini menguasai 1,62 miliar lembar saham BRMS, naik dari posisi akhir bulan lalu sebesar 1,58 miliar lembar.

Selain itu, JP Morgan Chase & Co. juga terpantau mengakumulasi 8,14 juta lembar saham BRMS sepanjang Desember 2025. Kepemilikannya meningkat dari 128,28 juta lembar pada akhir bulan sebelumnya menjadi 136,43 juta lembar saat ini.

State Street Corp turut menambah kepemilikan saham BRMS dengan akumulasi 3,11 juta lembar sepanjang Desember 2025. Investor institusional tersebut baru mulai mengoleksi BRMS pada November 2025 dengan pembelian 120,19 juta lembar, dan kini total kepemilikannya meningkat menjadi 123,30 juta lembar.

Di sisi lain, Norges Bank yang juga mulai masuk ke saham BRMS pada November 2025 justru melakukan aksi sebaliknya pada bulan ini. Setelah mengakumulasi 262,21 juta lembar saham BRMS pada bulan lalu, Norges Bank melepas 37,41 juta lembar, sehingga kepemilikannya turun menjadi 224,79 juta lembar.

Berdasarkan konsensus analis, saham BRMS saat ini mengantongi 14 rekomendasi beli dari total 16 analis yang melakukan peliputan. Sementara itu, dua analis lainnya merekomendasikan tahan, dengan target harga rata-rata 12 bulan berada di level Rp1.143,57 per saham.

Dampak Lonjakan Harga Emas

Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menilai peningkatan kinerja emiten sektor emas turut ditopang oleh sentimen penguatan harga emas global. Kondisi tersebut dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan trading pada saham-saham terkait.

“Pelaku pasar memanfaatkan momen tersebut untuk trading di saham-saham tersebut. Jika aksi beli ini berlanjut tentunya kenaikan masih dimungkinkan terjadi. Jadi, tergantung sentimen ke depannya,” ujar Reza kepada Bisnis, Minggu (14/12/2025) malam.

OCBC Sekuritas memproyeksikan harga emas dunia akan bertahan di kisaran US$4.500 hingga US$4.700 per ons pada 2026–2027. Proyeksi tersebut didorong ekspektasi penurunan suku bunga The Fed serta tingginya permintaan terhadap aset safe haven, yang dinilai kondusif bagi profil keuangan BRMS.

Sementara itu, JP Morgan memperkirakan harga emas masih berpotensi meningkat dan menyentuh level US$5.000 per troy ounce pada akhir 2026. Dalam insight terbarunya, JP Morgan mencatat harga emas mencetak kenaikan beruntun sepanjang 2025 dengan lonjakan mencapai 55%.

Untuk pertama kalinya, harga emas juga tercatat menembus level US$4.000 per ons pada Oktober 2025.

Menurut mereka, kekhawatiran terkait perdagangan global, melemahnya permintaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta meningkatnya pembelian oleh bank sentral menciptakan kondisi yang mendukung reli harga emas.

Dengan sejumlah katalis tersebut, OCBC Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham BRMS dengan target harga Rp1.300 per saham. Target tersebut mencerminkan optimisme terhadap potensi pertumbuhan produksi dan laba perseroan dalam beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, antara lain fluktuasi harga komoditas global, perubahan kebijakan pemerintah, serta potensi keterlambatan realisasi ekspansi fasilitas pemrosesan.

“Valuasi BRMS akan semakin menarik pasca-2028 seiring keberhasilan eksekusi kapasitas produksi dan perbaikan arus kas yang substansial,” tulis OCBC Sekuritas.

Iklan