Saham

BRMS Diburu Analis! Harga Emas Melejit, Target Saham Tembus Rp1.060

BRMS mencatat pertumbuhan laba dan pendapatan pada kuartal I-2026 di tengah lonjakan harga emas dunia. KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp1.060 per saham.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Kinerja saham BRMS terdorong kenaikan harga emas dan target analis Rp1060

Kinerja saham BRMS terdorong kenaikan harga emas dan target analis Rp1060 (Foto:BRMS)

Emitenhub.com - Kinerja PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) pada kuartal pertama 2026 mendapat perhatian pasar setelah mencatat pertumbuhan laba dan pendapatan di tengah reli harga emas global. Kondisi tersebut memperkuat posisi emiten tambang emas Grup Salim di tengah tingginya minat investor terhadap komoditas logam mulia.

Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, merekomendasikan beli untuk saham BRMS dengan target harga Rp1.060 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan 35,9 persen dari posisi harga saat ini di level Rp780 per saham.

BRMS membukukan pendapatan sebesar USD69 juta pada kuartal pertama 2026. Nilai itu tumbuh 9,7 persen secara tahunan. Kenaikan harga jual rata-rata atau Average Selling Price (ASP) menjadi penopang utama pertumbuhan pendapatan.

Harga jual emas BRMS mencapai USD4.512 per oz atau naik 60,6 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut menutupi penurunan volume penjualan emas sebesar 32,5 persen menjadi 14,8 ribu oz. Penurunan volume dipengaruhi aktivitas pushback di tambang River Reef milik Citra Palu Minerals (CPM).

Laba bersih BRMS tercatat USD18 juta pada kuartal pertama 2026. Angka tersebut meningkat 21,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Analis KB Valbury Sekuritas Ashalia Fitri Yuliana menyebut ekspansi pabrik CIL pertama, pengembangan tambang bawah tanah, dan aktivitas eksplorasi berkelanjutan menjadi katalis utama pertumbuhan perseroan. Dari perspektif pasar modal, agenda ekspansi ini menjadi perhatian investor terhadap arah produksi BRMS ke depan.

Aktivitas pushback di tambang River Reef dijadwalkan selesai pada Mei atau Juni 2026. BRMS juga menargetkan perluasan kapasitas pabrik CIL pertama dari 500 ton menjadi 2.000 ton per hari rampung pada Oktober 2026.

Produksi emas BRMS diproyeksikan mencapai 76 ribu oz pada tahun fiskal 2026 setelah ekspansi kapasitas selesai. Perseroan turut menyiapkan proyek tambang bawah tanah yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga 2027, dengan kandungan emas berkisar 3,5 hingga 4,9 gram per ton.

KB Valbury Sekuritas merevisi asumsi harga emas untuk periode 2026 hingga 2028 ke kisaran USD4.800 sampai USD4.900 per oz. Harga perak juga diproyeksikan berada di level USD70 hingga USD73 per oz.

Pendapatan BRMS hingga akhir 2026 diperkirakan mencapai USD365 juta dengan laba bersih sebesar USD92 juta. EBITDA diproyeksikan menyentuh USD177 juta.

BRMS saat ini memiliki cadangan emas terbesar kedua di antara perusahaan publik di Indonesia. Total cadangan sumber daya multi-mineral mencapai 171 juta ton dengan area produksi yang tersebar di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

Komposisi pemegang saham BRMS didominasi publik dengan porsi 51,6 persen. Emirates Tarian Global Ventures SPC menggenggam 25,1 persen saham. Kepemilikan lainnya terdiri atas Glastrust (Singapore) Ltd 7,6 persen, Sugiman Halim 7,5 persen, CGS International Sekuritas 5,2 persen, dan PT Bumi Resources Tbk sebesar 3,1 persen.

Ashalia Fitri Yuliana menegaskan KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BRMS dengan target harga Rp1.060 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sebesar 35,9 persen dari posisi harga saat ini.

Disclaimer: Artikel ini disajikan sebagai informasi. Isinya tidak dimaksudkan untuk mengajak pembaca membeli atau menjual saham. Seluruh pandangan dan rekomendasi bersumber dari analis sekuritas. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Lakukan riset secara mandiri sebelum menentukan pilihan investasi.

Iklan