Investor Kakap Jual Saham ADRO Jelang Dividen Interim, Masih Menarik untuk Dibeli?
Sejumlah investor institusi global melepas sebagian saham ADRO menjelang pencairan dividen interim. Artikel ini mengulas aksi investor kakap, besaran dividen, kinerja keuangan, serta prospek bisnis ADRO ke depan.
Aksi investor institusi dan dividen interim saham ADRO (Foto:Inews)
Emitenhub.com - Menjelang pencairan dividen interim, transaksi saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) oleh investor institusional besar menjadi perhatian pasar.
Agenda pembagian dividen interim tahun buku 2025 ADRO telah melewati periode recording date pada 2 Januari 2026. Selanjutnya, pemegang saham yang tercatat berhak akan menerima pembayaran dividen pada 15 Januari 2026.
Menjelang pembayaran tersebut, terpantau adanya aksi jual sebagian kepemilikan oleh sejumlah investor institusi kakap. Berdasarkan data Bloomberg, BlackRock Inc. tercatat melepas 2,14 juta saham ADRO pada 2 Januari 2026. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan BlackRock di ADRO turun menjadi 485,53 juta saham.
Langkah serupa juga dilakukan oleh The Goldman Sachs Group Inc. Bank investasi asal Amerika Serikat tersebut tercatat menjual sekitar 1,17 juta saham ADRO, sehingga kepemilikannya turun menjadi 285.205 saham per 2 Januari 2026.
Selain itu, JPMorgan Chase & Co. juga melepas 535.000 saham ADRO pada 5 Januari 2026. Dengan transaksi tersebut, porsi kepemilikan JPMorgan di ADRO berkurang menjadi sekitar 1,69 juta saham.
Meski terdapat aksi jual dari sejumlah investor institusi besar, pandangan analis terhadap saham ADRO cenderung tetap positif. Berdasarkan ulasan sekuritas, mayoritas masih merekomendasikan beli terhadap saham ini.
Secara rinci, dari total 23 sekuritas yang memberikan penilaian, sebanyak 19 memberikan rekomendasi beli, sementara masing-masing dua sekuritas merekomendasikan hold dan jual.
Terkini, target harga saham ADRO berdasarkan konsensus sekuritas berada di level Rp2.556,15 untuk proyeksi 12 bulan ke depan. Angka tersebut mencerminkan pandangan pasar yang masih konstruktif terhadap prospek saham perseroan.
Sebagaimana telah diumumkan, ADRO menetapkan kurs dividen sebesar Rp16.720 per dolar AS untuk pembagian dividen interim. Dengan ketentuan tersebut, investor berhak memperoleh dividen tunai sebesar Rp145,14 per saham.
Sekretaris Perusahaan ADRO, Maharani Cindy Opssedha, menjelaskan bahwa kurs yang digunakan dalam pembagian dividen interim tahun buku 2025 mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia per 2 Januari 2026, yakni Rp16.720 per dolar AS.
Dengan acuan tersebut, total nilai dividen tunai interim yang akan dibagikan ADRO dalam mata uang rupiah mencapai sekitar Rp4,18 triliun.
Dividen interim tersebut akan dibagikan kepada sebanyak 28.800.494.200 saham, dengan nilai dividen tunai sebesar Rp145,14 per saham.
Sebelumnya, manajemen ADRO telah mengumumkan rencana pembagian dividen interim senilai US$250 juta yang bersumber dari laba bersih tahun buku 2025, dengan periode laporan keuangan yang berakhir pada 30 September 2025.
Maharani menjelaskan bahwa keputusan pembagian dividen interim tersebut telah sesuai dengan persetujuan direksi dan dewan komisaris yang ditetapkan pada 17 Desember 2025. Dividen interim diberikan kepada pemegang saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham per 2 Januari 2026 hingga pukul 16.00 WIB.
Kinerja Keuangan Alamtri Resources Indonesia (ADRO)
Alamtri Resources Indonesia (ADRO) membukukan laba bersih sebesar US$301,5 juta atau setara Rp5,03 triliun hingga akhir September 2025. Capaian tersebut turun 74,5% secara tahunan dibandingkan laba bersih sebelumnya yang mencapai US$1,18 miliar.
Dalam laporan keuangan, manajemen ADRO menjelaskan bahwa penurunan laba bersih tersebut dipengaruhi oleh pelepasan bisnis batu bara termal PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) melalui penawaran umum pemegang saham (PUPS). Hingga akhir September, ADRO masih mengonsolidasikan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lainnya dari AADI.
Dari sisi pendapatan, ADRO mencatatkan pendapatan sebesar US$1,34 miliar sepanjang Januari–September 2025. Angka tersebut turun 12,97% secara tahunan dibandingkan pendapatan US$1,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan tersebut ditopang oleh penjualan hasil tambang domestik kepada pihak ketiga senilai US$223,4 juta, serta penjualan ekspor hasil tambang ke pihak ketiga sebesar US$127,7 juta. Kontribusi ini mencerminkan aktivitas penjualan yang masih berjalan di pasar domestik maupun ekspor.
Selain penjualan hasil tambang, ADRO juga membukukan pendapatan dari jasa pertambangan sebesar US$640,94 juta hingga September 2025. Segmen jasa pertambangan tetap menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan perseroan.
Hingga akhir kuartal III/2025, beban pokok pendapatan ADRO tercatat meningkat tipis 1,04% menjadi US$884,6 juta, dibandingkan US$875,5 juta pada periode sebelumnya. Kenaikan biaya ini turut memengaruhi kinerja profitabilitas perseroan.
Seiring dengan perkembangan tersebut, laba bruto ADRO tercatat sebesar US$463,5 juta sampai akhir September 2025. Nilai ini turun 31,18% secara tahunan dari sebelumnya US$673,4 juta.
Sebelumnya, manajemen ADRO juga telah menyampaikan pertimbangan terkait kebijakan dividen tahun buku 2025 serta perkembangan proyek smelter aluminium yang tengah dikembangkan di Kalimantan Utara.
Alamtri Resources Indonesia melalui anak usahanya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), menargetkan penjualan batu bara metalurgi di kisaran 5,6 juta hingga 6,1 juta ton hingga akhir 2025. Target tersebut mencerminkan fokus perseroan pada segmen batu bara bernilai tambah lebih tinggi.
Corporate Communication ADRO, Karina Novianti, menyampaikan bahwa manajemen tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan industri batu bara, khususnya untuk jenis berkalori tinggi. Optimisme tersebut ditopang oleh karakteristik produk batu bara metalurgi ADMR yang memiliki basis pelanggan yang beragam.
Menurutnya, produk batu bara metalurgi Enviromet diyakini mampu terserap oleh pelanggan dengan profil yang solid dan beragam, sehingga mendukung keberlanjutan kinerja penjualan perseroan.


