Saham

Prospek Saham SMGR dan INTP di 2026, Saatnya Bangkit atau Masih Tertahan?

Sektor semen menghadapi tekanan sepanjang 2025 dengan penurunan volume penjualan. Artikel ini mengulas proyeksi permintaan semen 2026, pandangan analis global dan domestik, serta rekomendasi saham SMGR dan INTP di tengah peluang dan risiko yang ada.

4 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Prospek sektor semen dan pergerakan saham SMGR dan INTP

Prospek sektor semen dan pergerakan saham SMGR dan INTP (Foto:SMGR)

Emitenhub.com - Emiten semen PT Semen Indonesia Tbk. (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) menghadapi periode yang menantang sepanjang 2025, dengan volume penjualan diperkirakan terkoreksi sekitar 3%. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai prospek sektor semen pada periode berikutnya.

Kalangan analis memproyeksikan pertumbuhan permintaan semen yang relatif tipis sepanjang 2026. Di tengah ekspektasi tersebut, pergerakan saham emiten semen di Bursa Efek Indonesia cenderung bergerak terbatas.

Saham SMGR ditutup di level Rp2.650, mencatatkan kenaikan 0,38% secara year to date (YtD). Sementara itu, saham INTP berada di level Rp7.200 dengan koreksi 3,68% secara YtD.

Analis JP Morgan, Henry Wibowo, dalam riset terbarunya mengenai sektor semen Indonesia memproyeksikan penjualan nasional berpotensi tumbuh tipis di kisaran 1%–2% pada 2026. Di sisi lain, tingkat utilisasi industri diperkirakan masih berada pada rentang 52%–53%, mencerminkan kapasitas yang belum sepenuhnya optimal.

Dengan kondisi tersebut, JP Morgan menilai ruang peningkatan margin masih relatif terbatas akibat leverage operasional yang rendah. Meski demikian, pengendalian biaya operasional dinilai tetap berperan penting dalam menjaga kinerja emiten semen agar tetap stabil.

Sebelumnya, sepanjang sepuluh bulan 2025, industri semen nasional mencatatkan penjualan sebesar 50,69 juta ton, turun 3,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 52,35 juta ton. Dari total tersebut, SMGR membukukan penjualan 24,42 juta ton, turun 5,7% secara tahunan dari 25,90 juta ton.

Di tengah tekanan penjualan domestik, kinerja ekspor SMGR justru mencatatkan pertumbuhan. Volume ekspor meningkat 19,4% secara tahunan menjadi 5,42 juta ton dari sebelumnya 4,54 juta ton. Sementara itu, INTP mencatatkan penjualan sebesar 14,75 juta ton sepanjang sepuluh bulan 2025, turun 4,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 15,49 juta ton.

Ia menilai peningkatan belanja pemerintah berpotensi memperbaiki daya beli secara keseluruhan, sehingga dapat menopang permintaan semen kantong. Faktor ini dinilai menjadi salah satu penopang utama konsumsi di tengah kondisi pasar yang masih menantang.

Namun demikian, pertumbuhan yang lebih berarti diperkirakan baru akan terlihat pada paruh kedua 2026 atau bahkan 2027. Menurutnya, pemulihan permintaan semen umumnya terjadi setelah konsumsi masyarakat secara keseluruhan kembali stabil.

Sejalan dengan proyeksi tersebut, pemulihan di segmen infrastruktur juga diperkirakan masih terbatas. Hal ini berkaitan dengan belum adanya kepastian terkait kelanjutan proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Adapun katalis positif bagi sektor semen mencakup peningkatan belanja pemerintah yang mendorong permintaan renovasi perumahan, perbaikan daya beli pasar secara umum, serta potensi perbaikan volume penjualan yang pada akhirnya mendukung lingkungan penetapan harga.

Di sisi lain, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati. Di antaranya adalah pergeseran berkelanjutan ke merek semen kantong dengan harga lebih murah yang dapat menekan profil pengembalian jangka panjang industri, serta tekanan biaya yang berpotensi berlanjut hingga 2026 akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kemungkinan penerapan regulasi truk Over Dimension Over Load (ODOL).

JP Morgan tetap mempertahankan rekomendasi neutral untuk saham INTP dan underweight untuk SMGR. INTP dinilai telah menunjukkan pengendalian biaya yang solid dalam 12–18 bulan terakhir, yang membantu menahan tekanan dari pendapatan yang masih lemah.

Kinerja tersebut dinilai sebagian besar telah tercermin dalam pergerakan harga saham INTP yang relatif lebih baik dibandingkan SMGR. JP Morgan menilai ruang penghematan biaya tambahan semakin terbatas tanpa adanya pemulihan volume yang lebih signifikan.

Oleh karena itu, potensi kenaikan harga saham dinilai masih terbatas untuk saat ini. JP Morgan juga menilai pasar cenderung terlalu optimistis terhadap kemampuan manajemen baru SMGR dalam mendorong pemulihan jangka pendek, mengingat kompleksitas struktur usaha SMGR yang terdiri dari 17 anak perusahaan.

Permintaan untuk Proyek Pemerintah meningkat namun tidak pasti

Analis Maybank Sekuritas, Kevi Halim dan Jeffrosenberg Chenlim, memperkirakan potensi rebound sektor semen pada 2026 akan ditopang oleh pemulihan bertahap di segmen semen kantong serta berbagai program pemerintah. Mereka menilai sejumlah inisiatif berpotensi memberikan dorongan tambahan terhadap permintaan.

Maybank menyoroti beberapa program yang dinilai dapat berkontribusi pada pertumbuhan volume, seperti Kopdes Merah Putih dengan potensi peningkatan 1–4%, program perumahan 3 juta unit sebesar 2–10%, skema Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) sekitar 1%, serta proyek tanggul laut raksasa dengan kontribusi 1–6%.

Namun demikian, Maybank memilih bersikap konservatif dengan mengecualikan program-program tersebut dari skenario dasar proyeksi mereka. Pertimbangan ini didasari oleh ketidakpastian dalam aspek pelaksanaan dan tingkat penyerapan anggaran pemerintah.

Secara keseluruhan, Maybank memperkirakan permintaan semen domestik pada 2026 tumbuh sekitar 2% secara tahunan dari basis rendah 2025. Dalam proyeksi tersebut, permintaan semen kemasan diperkirakan naik 3% seiring perbaikan daya beli secara bertahap, sementara permintaan semen curah justru turun 1% akibat pemangkasan signifikan anggaran pembangunan IKN pada 2026.

Pandangan yang relatif positif ini juga didukung oleh pola historis dalam beberapa siklus pemilihan sebelumnya. Maybank mencatat bahwa permintaan semen cenderung pulih dalam rentang 6–18 bulan setelah pemilu, seiring proses transisi yang lebih stabil dan percepatan pencairan proyek pemerintah.

Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi buy untuk kedua saham emiten semen, yakni SMGR dan INTP. Sekuritas ini menetapkan target harga saham SMGR di level Rp4.500, sementara target harga untuk saham INTP dipasang di Rp8.800.

Iklan