Saham

Saham ADMR Melonjak Tajam, Prospek Aluminium dan Smelter Jadi Katalis Kuat

Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melonjak signifikan didukung sinyal teknikal positif dan prospek komoditas aluminium yang menguat. Faktor smelter baru serta ketatnya pasokan global menjadi katalis utama penguatan saham.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Pergerakan saham ADMR didukung prospek aluminium dan ekspansi smelter

Pergerakan saham ADMR didukung prospek aluminium dan ekspansi smelter (Foto:Alamtri)

Emitenhub.com - Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatatkan lonjakan signifikan hingga penutupan sesi I perdagangan. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar terhadap saham perseroan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ADMR menguat 12,77 persen ke level Rp1.855 per saham. Nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp340,39 miliar, menunjukkan tingginya aktivitas perdagangan pada saham tersebut.

Michael menambahkan bahwa struktur pergerakan harga tersebut membuka peluang lanjutan penguatan ke level yang lebih tinggi. Area 2.000 dipandang sebagai level resistance terdekat, sementara target berikutnya berada di kisaran 2.500 apabila momentum tetap terjaga.

Sebelumnya, Indo Premier Sekuritas juga menilai prospek ADMR semakin solid. Penilaian tersebut didukung oleh pemulihan harga batu bara metalurgi (met-coal) serta kondisi pasokan aluminium global yang cenderung ketat, sehingga memberikan sentimen positif terhadap kinerja perseroan.

Dalam riset yang diterbitkan pada November 2025, analis menyebutkan bahwa prospek kedua komoditas tersebut masih cenderung positif, meskipun permintaan dari industri hilir menunjukkan variasi.

Indo Premier Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih ADMR masing-masing sebesar 10 persen untuk 2026 dan 20 persen untuk 2027. Penyesuaian ini didasarkan pada revisi asumsi kinerja operasional dan harga komoditas.

Asumsi harga jual aluminium dinaikkan menjadi USD 2.900 per ton, sementara volume penjualan diproyeksikan lebih konservatif di level 325 ribu ton seiring fase ramp-up pabrik baru. Dari sisi biaya, cost produksi diperkirakan berada di kisaran USD 2.300 per ton pada 2026 dan menurun menjadi USD 2.100 per ton pada 2027, sejalan dengan peningkatan efisiensi operasional.

ADMR juga memasuki fase penting dalam ekspansi bisnis melalui rencana pengoperasian smelter aluminium pertama di dalam grup. Fasilitas tersebut dikembangkan oleh anak usaha, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), dan berlokasi di Kawasan Industri Kalimantan Utara. Kehadiran smelter ini dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat rantai nilai dan meningkatkan kontribusi bisnis aluminium.

Di sisi pasar global, kontrak berjangka aluminium di Inggris tercatat melonjak hingga menembus level USD 3.050 per ton, yang merupakan titik tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Kenaikan harga tersebut didorong oleh menguatnya indikasi pengetatan pasokan aluminium untuk kebutuhan industri manufaktur.

Mengacu pada data Trading Economics, China sebagai produsen aluminium terbesar dunia kembali menegaskan kebijakan untuk menahan ekspansi kapasitas produksi guna menghindari kelebihan pasokan dan tekanan deflasi di sektor manufaktur. Produksi aluminium China diperkirakan melampaui 45 juta ton, sehingga mendorong para smelter menahan ekspansi produksi pada periode berikutnya.

Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha mengalihkan pasokan yang terbatas ke pasar domestik dibandingkan ekspor. Dampaknya, volume ekspor aluminium China tercatat turun 9,2 persen secara tahunan pada November.

Di sisi lain, rencana sejumlah smelter China untuk membangun fasilitas baru di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Kendala utama berasal dari tingginya biaya energi serta risiko regulasi di tingkat lokal yang memengaruhi kelayakan proyek.

Di luar China, tekanan terhadap pasokan aluminium global juga meningkat akibat mahalnya biaya energi, gangguan peralatan, keterbatasan pasokan bauksit, serta risiko geopolitik. Faktor-faktor tersebut mendorong penghentian operasi di sejumlah smelter utama di negara seperti Islandia, Mozambik, dan Australia.

Iklan