Saham

Saham ULTJ Terus Diakumulasi Pengendali, Prospek Laba Mulai Berbalik Arah?

Saham ULTJ terus diakumulasi keluarga Prawirawidjaja di tengah tekanan penjualan. Efisiensi biaya, prospek pemulihan laba, serta potensi kontribusi program pemerintah menjadi faktor yang menopang outlook Ultrajaya ke depan.

7 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Analisis saham ULTJ Ultrajaya dan akumulasi keluarga Prawirawidjaja

Analisis saham ULTJ Ultrajaya dan akumulasi keluarga Prawirawidjaja (Foto: Dok. Ultrajaya)

Emitenhub.com - PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ), yang sahamnya terus diakumulasi oleh keluarga konglomerat Prawirawidjaja, diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan laba bersih, meskipun kinerja penjualan bersih diperkirakan mengalami koreksi.

Berdasarkan data terminal Bloomberg, laba bersih emiten produsen susu UHT tersebut diperkirakan mencapai Rp1,21 triliun. Proyeksi konsensus dari tiga sekuritas ini mencerminkan pertumbuhan laba sebesar 6,19% secara tahunan.

Sebagai pembanding, laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ULTJ pada periode sebelumnya tercatat sebesar Rp1,14 triliun. Pada fase tersebut, laba bersih perseroan mengalami koreksi sekitar 2,79% secara tahunan, sehingga proyeksi pemulihan laba mencerminkan perbaikan profitabilitas di tengah tantangan penjualan.

Berbeda dengan proyeksi laba bersih, kinerja penjualan bersih Ultrajaya diperkirakan mengalami koreksi. Berdasarkan konsensus Bloomberg dari tiga sekuritas, penjualan bersih ULTJ diproyeksikan mencapai Rp8,66 triliun atau turun 2,35% secara tahunan.

Sebagai perbandingan, penjualan bersih perseroan pada periode sebelumnya tercatat sebesar Rp8,87 triliun. Capaian tersebut melanjutkan tren pertumbuhan penjualan yang telah berlangsung sejak 2021, sebelum diperkirakan mengalami normalisasi pada periode berikutnya.

Tahun

Penjualan Bersih (Miliar Rp)

YoY (%)

Laba Bersih (Miliar Rp)

YoY (%)

2020

5.967,36

-4,11%

1.099,70

6,53%

2021

6.616,64

10,88%

1.271,64

15,64%

2022

7.656,25

15,71%

960,79

-24,45%

2023

8.302,74

8,44%

1.169,21

21,69%

2024

8.874,20

6,88%

1.136,62

-2,79%

Proyeksi tersebut tercermin dari kinerja Ultrajaya sepanjang Januari–September 2025. Dalam periode tersebut, pendapatan perseroan mengalami penurunan, namun laba bersih tetap mencatatkan pertumbuhan berkat pengendalian beban yang lebih efisien.

Berdasarkan laporan keuangan, ULTJ membukukan pendapatan sebesar Rp6,23 triliun hingga akhir September 2025. Capaian ini turun 5,24% secara tahunan dibandingkan Rp6,58 triliun pada periode yang sama sebelumnya.

Penurunan penjualan terjadi secara merata di seluruh segmen usaha. Pada segmen minuman, pendapatan tercatat sebesar Rp6,59 triliun, melemah 4,56% YoY. Sementara itu, segmen makanan membukukan pendapatan Rp47,57 miliar, turun 13,65% YoY dibandingkan periode yang sama sebelumnya.

Sejalan dengan pelemahan pendapatan, beban pokok penjualan ULTJ juga mengalami penurunan. Hingga akhir September 2025, beban pokok penjualan tercatat sebesar Rp4,18 triliun, atau menyusut 4,07% secara tahunan, yang turut menopang kinerja laba perseroan.

Dampaknya, laba bruto perseroan tercatat sebesar Rp2,05 triliun hingga periode September 2025, turun 7,53% secara tahunan seiring dengan tekanan pada sisi pendapatan.

Meski demikian, Ultrajaya mampu menjaga efisiensi biaya, khususnya pada pos beban penjualan. Hingga kuartal III/2025, beban penjualan tercatat sebesar Rp740,84 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp848,03 miliar pada periode yang sama sebelumnya.

Penurunan beban penjualan terutama berasal dari penghematan pada pos iklan dan promosi. Beban iklan dan promosi ditekan hingga 20,44% secara tahunan menjadi Rp356,30 miliar, dari sebelumnya Rp447,85 miliar, sehingga membantu menjaga profitabilitas di tengah pelemahan penjualan.

Selain beban iklan dan promosi, ULTJ juga menekan beban penjualan lain berupa biaya angkutan pihak ketiga. Hingga kuartal III/2025, pos ini tercatat sebesar Rp204,07 miliar, lebih rendah dibandingkan Rp230,16 miliar pada periode yang sama sebelumnya.

Di luar efisiensi biaya, pertumbuhan laba juga ditopang oleh perbaikan pada pos pendapatan lain-lain. Pada kuartal III/2025, pendapatan lain-lain ULTJ tercatat sebesar Rp17,06 miliar, berbalik dari posisi rugi Rp9,46 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dengan kombinasi pengendalian beban dan perbaikan pendapatan non-operasional tersebut, Ultrajaya mampu mencatatkan laba bersih sebesar Rp960,88 miliar hingga kuartal III/2025. Capaian ini tumbuh 9,04% secara tahunan dibandingkan laba bersih Rp881,18 miliar pada periode yang sama sebelumnya.

Proyeksi Kinerja ULTJ ke Depan

Di tengah kinerja yang masih tertekan pada periode sebelumnya, kalangan analis mulai melihat prospek yang lebih konstruktif terhadap kinerja PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ). Perbaikan fundamental dinilai berpeluang terbentuk seiring meredanya tekanan eksternal dan langkah efisiensi yang telah dijalankan perseroan.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani, menilai fase berikutnya berpotensi menjadi periode pemulihan bagi ULTJ. Proyeksi tersebut antara lain ditopang oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang lebih solid, yang diharapkan mampu mendorong konsumsi produk makanan dan minuman.

Selain faktor makro, optimalisasi pusat distribusi yang telah beroperasi secara penuh juga dinilai menjadi katalis penting. Langkah ini diharapkan memperluas jangkauan distribusi ke wilayah yang sebelumnya belum tergarap secara optimal, sehingga mendukung pertumbuhan volume penjualan.

Di sisi lain, potensi penurunan harga komoditas bahan baku global serta biaya bunga pinjaman dinilai dapat membuka ruang ekspansi margin laba. Kondisi tersebut memberi peluang bagi ULTJ untuk meningkatkan profitabilitas secara lebih berkelanjutan dibandingkan periode sebelumnya.

Meski prospeknya dinilai membaik, kinerja ULTJ pada paruh pertama 2026 diperkirakan masih dibayangi dampak lanjutan dari lemahnya konsumsi pada periode sebelumnya. Tekanan daya beli masyarakat dinilai belum sepenuhnya mereda pada awal tahun.

Chory menilai pengetatan daya beli kemungkinan masih akan terasa sebelum berbagai stimulus fiskal pemerintah serta penyesuaian upah minimum terserap secara optimal oleh perekonomian. Kondisi tersebut berpotensi menahan laju pemulihan permintaan dalam jangka pendek.

Selain itu, terdapat sejumlah faktor risiko yang perlu dicermati, antara lain fluktuasi nilai tukar rupiah yang dapat memengaruhi biaya bahan baku impor, serta potensi kenaikan harga energi yang berisiko meningkatkan beban logistik perseroan.

Pandangan serupa disampaikan Head of Equity Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi. Ia menilai meskipun peluang pemulihan volume penjualan pada 2026 terbuka, tekanan daya beli masyarakat masih berpotensi dirasakan hingga paruh pertama tahun tersebut.

Di luar faktor tersebut, ULTJ juga menantikan dampak implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap kinerja perseroan. Produk susu sebagai lini utama dinilai menjadi pintu masuk bagi Ultrajaya untuk berpartisipasi dalam program unggulan pemerintahan Prabowo–Gibran tersebut.

Sejak Juli 2025, ULTJ mulai memperoleh kontribusi dari program prioritas pemerintah tersebut. Pendapatan perseroan yang terkait dengan program ini tercatat meningkat secara bertahap dari bulan ke bulan, hingga mencapai level tertinggi pada Oktober 2025.

Untuk berpartisipasi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), ULTJ memproduksi varian susu khusus yang tidak dipasarkan secara umum. Produk yang dikenal sebagai “Susu Sekolah” tersebut diperuntukkan khusus bagi anak berusia 6–18 tahun dan tidak tersedia di jalur penjualan ritel. Meski demikian, perseroan tidak mengungkapkan secara terbuka besaran pendapatan yang berasal dari program tersebut.

Manajemen menyampaikan bahwa kontribusi pendapatan dari program MBG masih tergolong belum material. Oleh karena itu, perseroan belum menetapkan target kontribusi pendapatan yang spesifik untuk periode berikutnya.

Di luar aspek finansial jangka pendek, partisipasi ULTJ dalam program MBG dinilai memiliki nilai strategis. Keterlibatan ini tidak hanya mencerminkan dukungan terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga berpotensi menjadi sarana edukasi dan peningkatan konsumsi susu nasional dalam jangka panjang, meskipun kontribusinya terhadap pendapatan saat ini belum menjadi fokus utama perseroan.

Keluarga Prawirawidjaja Perkuat Kepemilikan Saham ULTJ

Di tengah dinamika kinerja perseroan, keluarga Prawirawidjaja yang merintis Ultrajaya Milk Industry & Trading Company tercatat aktif memperkuat kepemilikan sahamnya. Langkah ini mencerminkan komitmen jangka panjang pengendali terhadap prospek perseroan.

Presiden Direktur ULTJ, Sabana Prawirawidjaja, dilaporkan menambah kepemilikan saham ULTJ pada penghujung 2025. Secara akumulatif, Sabana tercatat menambah ratusan juta lembar saham ULTJ sepanjang periode tersebut.

Aksi penambahan saham tersebut terungkap melalui laporan kepemilikan saham yang disampaikan perseroan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tertanggal 6 Januari 2026. Dalam keterbukaan informasi tersebut, Sabana tercatat membeli 700.000 lembar saham ULTJ melalui transaksi pembelian tidak langsung.

Transaksi dilakukan pada 30 Desember 2025 dengan harga Rp1.440 per saham. Penambahan kepemilikan tersebut dinyatakan bertujuan untuk kepentingan bisnis, sekaligus menegaskan konsistensi pengendali dalam menjaga eksposur terhadap saham ULTJ.

Dengan transaksi tersebut, jumlah saham yang dimiliki Sabana meningkat dari 5.527.219.300 lembar menjadi 5.527.919.300 lembar. Meski demikian, porsi hak suara tetap berada di level 53,16%, tidak berubah dibandingkan sebelum transaksi.

Catatan menunjukkan bahwa aksi akumulasi saham oleh Sabana Prawirawidjaja telah berlangsung secara konsisten. Sepanjang periode berjalan, ia tercatat memborong ratusan juta lembar saham ULTJ sebagai bagian dari penguatan kepemilikan.

Salah satu transaksi terjadi pada 21 Agustus 2025, ketika Sabana menambah 120.000 lembar saham ULTJ. Setelah aksi tersebut, kepemilikan sahamnya meningkat menjadi sekitar 5,52 miliar lembar, setara dengan 53,16% dari total saham beredar.

Hingga fase tersebut, total saham ULTJ yang dipegang Sabana telah bertambah sekitar 350 juta lembar dibandingkan posisi akhir 2024 yang berada di kisaran 5,17 miliar lembar. Data Bloomberg mencatat secara keseluruhan Sabana menambah sekitar 351 juta lembar saham ULTJ sepanjang 2025.

Dari sisi harga perolehan, cost basis rata-rata saham ULTJ milik Sabana berada di kisaran Rp1.290,27 per saham. Angka ini mencerminkan strategi akumulasi yang dilakukan secara bertahap dalam rentang harga tertentu.

Sebagai tambahan informasi, Sabana Prawirawidjaja tercatat menambah sebanyak 1,62 miliar lembar saham ULTJ sepanjang 2024. Langkah tersebut dilakukan setelah sebelumnya secara akumulatif melepas sekitar 1,59 miliar lembar saham perseroan pada 2023, mencerminkan perubahan strategi kepemilikan dalam dua periode berurutan.

Selain Sabana, Suhendra Prawirawidjaja yang menjabat sebagai Komisaris ULTJ juga dilaporkan menambah kepemilikan saham pada penghujung 2025. Suhendra tercatat membeli 550.400 lembar saham ULTJ melalui transaksi pembelian tidak langsung pada 30 Desember 2025 dengan harga Rp1.440 per saham, dengan tujuan untuk kepentingan bisnis.

Seiring dengan transaksi tersebut, jumlah saham ULTJ yang dimiliki Suhendra meningkat dari 126.051.060 lembar menjadi 126.601.460 lembar. Porsi hak suara yang dimilikinya pun naik tipis dari 1,21% menjadi 1,22%, mempertegas konsistensi keluarga Prawirawidjaja dalam menjaga kepemilikan di ULTJ.

Iklan