Saham

Rekomendasi Saham UNVR Usai Divestasi Sariwangi: Beli, Hold, atau Jual?

Sejumlah sekuritas memperbarui rekomendasi saham UNVR setelah Unilever melepas bisnis teh Sariwangi. Divestasi ini dinilai mempertegas fokus bisnis inti, namun memunculkan perbedaan pandangan analis terkait prospek pertumbuhan dan valuasi saham.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Rekomendasi saham UNVR pasca divestasi Sariwangi Unilever Indonesia

Rekomendasi saham UNVR pasca divestasi Sariwangi Unilever Indonesia (Foto:UNVR)

Emitenhub.com - Sejumlah perusahaan sekuritas memperbarui rekomendasi terhadap saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) setelah perseroan mengumumkan rencana pelepasan bisnis teh dengan merek Sariwangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa yang terafiliasi dengan Grup Djarum.

Sebagian sekuritas memilih mempertahankan rekomendasi dengan melakukan penyesuaian target harga saham UNVR. Namun, terdapat pula sekuritas yang menurunkan peringkat rekomendasi terhadap saham emiten sektor konsumer tersebut, seiring evaluasi ulang atas prospek bisnis pascadivestasi.

UNVR saat ini tengah menjalani proses pelepasan bisnis teh Sariwangi kepada perusahaan yang terafiliasi dengan Grup Djarum. Aksi korporasi tersebut dilakukan melalui penandatanganan Perjanjian Pengalihan Bisnis atau Business Transfer Agreement (BTA) antara Unilever Indonesia dan PT Savoria Kreasi Rasa sebagai pihak pembeli, yang dinyatakan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan.

Kedua pihak menyepakati nilai transaksi sebesar Rp1,5 triliun untuk pengalihan bisnis teh Unilever, di luar pajak yang berlaku. Nilai tersebut mencerminkan kesepakatan komersial atas pelepasan merek dan operasional bisnis teh perseroan.

Manajemen Unilever menyatakan keyakinan bahwa transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis Sariwangi untuk memasuki fase pertumbuhan berikutnya. Di sisi lain, langkah divestasi ini dinilai dapat mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen inti yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi, sekaligus menegaskan komitmen perseroan dalam menciptakan nilai berkelanjutan bagi pemegang saham.

Unilever juga menegaskan bahwa transaksi tersebut tidak menimbulkan dampak material terhadap kegiatan operasional maupun keberlangsungan usaha perseroan secara keseluruhan. Penyelesaian transaksi direncanakan dilakukan pada awal Maret 2026.

Sebaliknya, pelepasan bisnis teh tersebut dinilai membuka ruang bagi Unilever untuk merealisasikan nilai investasinya di bisnis teh domestik dan mengembalikan nilai tersebut kepada pemegang saham dalam jangka pendek. Langkah ini juga memungkinkan perseroan untuk lebih fokus pada bisnis inti yang tersisa guna mendorong penciptaan nilai jangka panjang.

Nilai transaksi tersebut disebut merepresentasikan sekitar 45 persen dari ekuitas Unilever berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025. Sementara itu, aset Sariwangi mencerminkan sekitar 2,5 persen dari total aset perseroan.

Dari sisi kinerja, laba bersih Sariwangi berkontribusi sekitar 3,1 persen terhadap laba bersih Unilever. Pada sisi pendapatan, bisnis teh tersebut menyumbang sekitar 2,7 persen terhadap total pendapatan usaha UNVR.

Target Harga Saham UNVR Usai Divestasi Sariwangi

Berdasarkan data konsensus analis, mayoritas sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), meskipun target harga konsensus 12 bulan berada sedikit di bawah harga pasar.

Sebanyak 15 dari 29 sekuritas atau sekitar 51,7 persen memberikan rekomendasi beli terhadap saham UNVR. Sementara itu, 10 sekuritas atau 34,5 persen menyematkan rekomendasi hold, dan empat sekuritas lainnya atau 13,8 persen merekomendasikan jual.

Target harga konsensus 12 bulan tercatat di kisaran Rp2.648,18, atau sekitar 2,6 persen lebih rendah dibandingkan harga saham UNVR di pasar. Pergerakan harga saham UNVR sendiri sempat kembali ke level Rp2.650 dengan penguatan harian sebesar 1,92 persen, mencerminkan respons pasar yang relatif stabil di tengah pembaruan rekomendasi analis.

Data Bloomberg menunjukkan terdapat sejumlah sekuritas yang memperbarui rekomendasi dan target harga saham UNVR. BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp3.200, sementara beberapa sekuritas lain melakukan penyesuaian rekomendasi dan valuasi.

Citi tetap memberikan rekomendasi beli untuk UNVR dengan target harga Rp2.700. Di sisi lain, CLSA menurunkan rekomendasi menjadi hold meski mempertahankan target harga saham Unilever di level Rp2.700.

BNI Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dan menaikkan target harga saham UNVR menjadi Rp3.000 dari sebelumnya Rp2.500. Sebaliknya, Indo Premier Sekuritas tetap memberikan rekomendasi hold namun menurunkan target harga saham perseroan menjadi Rp1.950 dari sebelumnya Rp2.000.

Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, analis Indo Premier Sekuritas, menjelaskan bahwa pihaknya mempertahankan rekomendasi hold untuk saham UNVR dengan target harga yang lebih rendah. Penyesuaian tersebut sejalan dengan revisi turun estimasi pendapatan perseroan sebesar 2,3 persen untuk 2026 dan 2027 setelah divestasi bisnis Sariwangi yang direncanakan efektif pada kuartal I-2026.

Keduanya juga mengingatkan bahwa divestasi lini es krim sebelumnya telah berdampak pada penurunan pendapatan dan laba UNVR sekitar 10 persen. Faktor tersebut menjadi pertimbangan utama dalam penilaian ulang prospek kinerja perseroan.

Secara keseluruhan, Indo Premier Sekuritas tetap mempertahankan peringkat hold dengan target harga saham UNVR sebesar Rp1.950 per saham, mencerminkan sikap berhati-hati terhadap potensi pertumbuhan pascadivestasi.

Selain itu, Indo Premier Sekuritas memperkirakan masih terdapat potensi divestasi lanjutan oleh UNVR, khususnya pada segmen non-HPC (home & personal care) atau di luar produk perawatan rumah tangga dan pribadi.

Menurut analis, langkah tersebut sejalan dengan strategi Unilever Global yang semakin memfokuskan portofolio bisnis pada segmen HPC, yang dinilai menawarkan laju pertumbuhan lebih cepat serta margin yang lebih tinggi dibandingkan segmen makanan dan minuman.

Sebagai catatan, segmen makanan dan minuman berkontribusi sekitar 36,5 persen terhadap total penjualan UNVR pada periode Januari–September 2025. Porsi yang relatif besar ini, menurut analis, berpotensi menjadi hambatan pertumbuhan apabila tidak diimbangi dengan akselerasi kinerja pada segmen dengan profitabilitas yang lebih tinggi.

Iklan