Saham

Dividen Tinggi Tak Cukup, Saham ITMG Ditekan Pelemahan Batu Bara dan Risiko Biaya

Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) masih menghadapi tekanan struktural meski menawarkan imbal hasil dividen dua digit. Pelemahan harga batu bara, tekanan margin, serta risiko biaya dan regulasi membatasi prospek jangka pendek emiten Grup Banpu tersebut. Sejumlah analis menilai daya tarik dividen belum cukup untuk menahan sentimen negatif terhadap saham ITMG.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Saham ITMG tertekan di tengah pelemahan harga batu bara dan risiko biaya

Saham ITMG tertekan di tengah pelemahan harga batu bara dan risiko biaya (Foto:ITMG)

Emitenhub.com - Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) dinilai masih menghadapi tekanan struktural meski menawarkan imbal hasil dividen dua digit.

Sejumlah analis menilai daya tarik dividen tersebut belum cukup untuk menahan sentimen negatif, seiring dengan pelemahan fundamental dan keterbatasan katalis pertumbuhan dalam jangka pendek.

Teranyar, Sinarmas Sekuritas menurunkan rekomendasi untuk emiten batu bara tersebut menjadi reduce atau setara jual, dari sebelumnya neutral. Sekuritas ini juga merevisi target harga ITMG menjadi Rp19.500, dari sebelumnya Rp25.000.

Penurunan rekomendasi dan target harga tersebut didorong oleh proyeksi tekanan laba emiten Grup Banpu yang diperkirakan berlanjut hingga 2026, di tengah pelemahan harga batu bara dan meningkatnya risiko biaya. Di sisi lain, Sinarmas Sekuritas memperkirakan ITMG masih menawarkan imbal hasil dividen yang menarik sebesar 12 persen pada tahun buku 2026.

“Meskipun ITMG menawarkan daya tarik dividen yang besar, kami percaya hal ini dibayangi oleh fundamental yang memburuk dan keterbatasan struktural yang membatasi potensi kenaikan,” tulis analis Sinarmas Sekuritas, Kenny Shan, dalam riset yang dirilis Rabu (7/1/2026).

Terdapat tiga faktor yang saling terkait dan memengaruhi rekomendasi terhadap saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Faktor pertama adalah pendapatan ITMG yang dinilai masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga batu bara acuan, mengingat eksposur perseroan yang signifikan terhadap komoditas batu bara berkalori tinggi.

Sejalan dengan tren penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) acuan, Sinarmas Sekuritas memperkirakan kinerja ITMG akan terus tertekan akibat penyusutan margin. Margin kotor dan margin operasi sepanjang 2026 masing-masing direvisi turun menjadi 26 persen dan 16 persen, dari level 52 persen dan 46 persen pada 2022, yang sebelumnya didorong oleh harga batu bara yang tinggi dan strip ratio yang lebih rendah.

Faktor kedua berkaitan dengan kondisi regulasi di sektor batu bara yang dinilai berpotensi menekan kinerja dalam jangka pendek. Pengetatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), potensi revisi bea ekspor, serta meningkatnya pengawasan dari satuan tugas pertambangan diperkirakan dapat mengganggu volume produksi dan mendorong kenaikan biaya operasional.

Faktor ketiga adalah strategi transisi energi PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang dinilai belum akan memberikan kontribusi material terhadap kinerja keuangan selama periode proyeksi. Meski perseroan tengah mengembangkan lebih dari 100 MWp proyek tenaga surya yang telah dikontrak serta memasuki sektor nikel melalui NICE, seluruh inisiatif tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan.

Di sisi lain, risiko kenaikan biaya operasional juga membayangi kinerja ITMG seiring rencana penerapan mandatori biodiesel B50 pada paruh kedua 2026. Manajemen ITMG memperkirakan kebijakan tersebut berpotensi menambah biaya operasional sekitar US$0,30–US$0,40 per ton, yang dapat semakin menekan margin perseroan.

Kinerja ITMG Tertekan: Laba Bersih Anjlok Menjadi Rp2,17 Triliun

Dalam catatan Bisnis, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan penurunan laba bersih sebesar US$130,5 juta atau setara Rp2,17 triliun per September 2025, dengan asumsi kurs Jisdor BI Rp16.692 per dolar AS pada 30 September 2025. Laba bersih tersebut turun 52,17 persen secara tahunan (YoY) dibandingkan posisi US$273 juta pada 30 September 2024.

ITMG juga mencatat penurunan pendapatan menjadi US$1,36 miliar, turun 17,38 persen YoY dari sebelumnya US$1,65 miliar.

Dalam keterangan resminya, manajemen ITMG menjelaskan bahwa penurunan pendapatan antara lain disebabkan oleh penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 21 persen, dari US$97 per ton pada sembilan bulan 2024 menjadi US$77 per ton pada sembilan bulan 2025, seiring pelemahan harga acuan batu bara.

Pada periode yang sama, beban pokok pendapatan ITMG tercatat turun 12 persen YoY menjadi US$1,04 miliar.

Di sisi operasional, ITMG melaporkan peningkatan produksi batu bara sebesar 2 persen YoY menjadi 15,4 juta ton, serta kenaikan volume penjualan sebesar 4 persen menjadi 17,9 juta ton.

Hingga 30 September 2025, total aset PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) tercatat sebesar US$2,38 miliar, sedikit menurun dibandingkan US$2,40 miliar pada akhir 2024. Kas dan setara kas tercatat sebesar US$972 juta, yang mewakili sekitar 41 persen dari total aset perseroan.

Di sisi liabilitas, total liabilitas ITMG meningkat tipis menjadi US$475 juta dari US$473 juta pada akhir 2024. Sementara itu, total ekuitas tercatat turun menjadi US$1,90 miliar dari US$1,93 miliar pada akhir 2024, terutama dipicu oleh penurunan laba ditahan menjadi US$1,46 miliar dari sebelumnya US$1,49 miliar.

Iklan