Saham

Target Produksi Batu Bara Dipangkas, Kontraktor Tambang Tertekan, AADI Masih Diunggulkan

Pemerintah berencana memangkas target produksi batu bara nasional pada 2026, memicu tekanan bagi industri tambang, khususnya segmen kontraktor. Di tengah risiko penurunan volume dan laba, sejumlah emiten besar masih dinilai mampu bertahan, dengan AADI tetap direkomendasikan beli oleh Sucor Sekuritas.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Target produksi batu bara 2026 dipangkas dan dampaknya ke saham kontraktor tambang

Harga batu bara global melemah setelah sentimen geopolitik Timur Tengah mereda

Emitenhub - Rencana pemangkasan target produksi batu bara

nasional dari 790 juta ton pada 2025 menjadi 600 juta ton pada 2026 dinilai dapat memberi tekanan bagi bisnis jasa kontraktor tambang. Penurunan volume acuan tersebut berisiko mempersempit ruang pertumbuhan bagi pelaku usaha yang aktivitasnya sangat bergantung pada tingkat produksi tambang.

Dalam riset tertanggal 3 Februari 2026, Sucor Sekuritas menilai kebijakan tersebut menjadi policy headwind yang nyata bagi industri batu bara. Tekanan paling terasa berpotensi dialami perusahaan kontraktor yang kinerjanya ditopang oleh volume produksi dari klien tambang.

Sejumlah laporan media dan panduan awal dari otoritas menunjukkan sebagian besar penambang berhadapan dengan pemangkasan kuota RKAB. Besarannya berkisar 9 hingga 80 persen dibandingkan dengan level yang diajukan sebelumnya.

Tekanan tersebut muncul di tengah pelemahan harga batu bara global akibat turunnya permintaan dari China dan India. Kondisi ini menekan profitabilitas pelaku usaha serta berimbas pada penerimaan negara dari sektor tambang.

Namun, dampak kebijakan tersebut tidak bersifat merata. Sucor menilai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui anak usahanya Kideco masih memiliki ruang untuk mempertahankan tingkat produksi.

Ketiga emiten tersebut dipandang memiliki skala operasi yang besar serta peran strategis dalam menjaga pasokan batu bara bagi PLN melalui skema domestic market obligation (DMO).

Sebaliknya, segmen kontraktor tambang dinilai paling rentan terhadap kebijakan ini. PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) disebut menghadapi risiko penurunan kinerja paling besar.

Baca Juga : Produksi Batu Bara dan Nikel Dipangkas, Emiten Jasa Tambang Masih Tahan?

Sucor memperkirakan setiap penurunan volume hauling sebesar 1 juta ton dapat memangkas laba MAHA sekitar 9,8 persen.

Risiko tersebut membesar karena PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi klien utama MAHA. Kontribusi BYAN mencapai sekitar 42 persen dari total hauling, sementara produksinya dikabarkan dipangkas hingga 53 persen secara tahunan.

Tekanan serupa juga membayangi PT United Tractors Tbk (UNTR). Lebih dari separuh portofolio bisnis perseroan masih terkait dengan sektor batu bara.

Sucor memperkirakan penurunan sekitar 5 persen pada volume overburden removal PAMA. Unit kontraktor tambang UNTR tersebut dinilai dapat menggerus laba perseroan sekitar 2 persen.

Setiap penurunan penjualan batu bara sebesar 1 juta ton disebut dapat menekan laba bersih sekitar 0,1 persen. Pelemahan produksi juga dinilai dapat menurunkan permintaan alat berat, yang selama ini menjadi salah satu penopang kinerja PT United Tractors Tbk (UNTR).

Di tengah tekanan pada sektor batu bara dan kontraktor tambang, Sucor tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Emiten ini dipandang memiliki posisi yang relatif lebih solid sebagai produsen batu bara murni dengan struktur biaya yang efisien.

AADI disebut memiliki tingkat cash cost yang rendah serta potensi imbal hasil dividen sekitar 10 persen. Perseroan juga dinilai berada dalam posisi yang menguntungkan apabila harga batu bara kembali menguat.

Iklan