Saham

Merger MORA–EMR Jaga Free Float, Ini Dampak dan Jadwal Penggabungan Usaha

PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) memastikan porsi saham publik tetap terjaga usai merger dengan PT Eka Mas Republik (EMR). Penggabungan ini diharapkan menghadirkan sinergi operasional, finansial, serta memperkuat infrastruktur digital nasional.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Rencana merger PT Mora Telematika Indonesia Tbk MORA dengan PT Eka Mas Republik EMR

MORA Catat Laba Rp128,82 Miliar di Q1 2026 dan Siap Merger dengan EMR (Foto:MORA)

Emitenhub.com - PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) atau Moratelindo memproyeksikan porsi kepemilikan saham publik atau free float tetap terjaga setelah rencana merger dengan PT Eka Mas Republik (EMR) direalisasikan. Perseroan memperkirakan saham publik akan berada di level 16,746071 persen dari total modal ditempatkan dan disetor, setara dengan 8.000.300.010 lembar saham. Per 31 Desember 2025, jumlah pemegang saham MORA tercatat sebanyak 3.879 pihak, dan manajemen menyatakan optimisme bahwa ketentuan minimal 300 pemegang saham tetap terpenuhi pascapenggabungan usaha.

“Persentase pemegang saham publik Perseroan setelah Penggabungan Usaha adalah sebesar 16,746071% dari seluruh modal ditempatkan dan disetor pada Perusahaan hasil Penggabungan,” tulis manajemen MORA dalam dokumen keterbukaan informasi, dikutip Kamis (22/1/2026).

Jika aksi korporasi tersebut berujung pada tidak terpenuhinya ketentuan free float, MORA menyatakan telah menyiapkan langkah antisipatif. Perseroan akan menempuh penyesuaian sesuai peraturan yang berlaku, termasuk membuka opsi pembelian kembali saham publik bagi pemegang saham yang menyatakan tidak setuju atas rencana merger.

Dari sisi operasional, penggabungan usaha ini diproyeksikan menghadirkan sinergi signifikan. MORA berpeluang memperluas jangkauan infrastruktur fiber-to-the-home (FTTH) sekaligus memperkuat penetrasi di segmen enterprise, termasuk memasarkan layanan enterprise secara langsung kepada basis pelanggan FTTH milik EMR.

Sementara itu, EMR akan memperoleh akses ke infrastruktur backbone MORA yang berkapasitas besar. Akses tersebut diharapkan meningkatkan stabilitas jaringan dan menekan latensi layanan, dengan sinergi finansial yang turut tercipta melalui optimalisasi belanja modal (capex).

“MORA akan menghasilkan sinergi finansial melalui optimalisasi belanja modal dan pembangunan infrastruktur, khususnya FTTH, dikarenakan antara lainnya skala bisnis yang menjadi lebih besar,” sebut manajemen perseroan.

Di sisi lain, EMR dinilai memiliki keunggulan kompetitif pada infrastruktur last mile dengan capaian homes passed yang relatif kuat. Hingga September 2025, EMR tercatat memiliki total panjang jaringan serat optik mencapai 58.455 kilometer, dengan 8.791.299 homepass serta 1.527.337 pelanggan ritel.

Meski penggabungan usaha direalisasikan, MORA menyatakan tetap mempertahankan merek dagang milik EMR. Pemanfaatan merek tersebut akan disesuaikan dengan strategi optimalisasi operasional pascaintegrasi, dengan MORA bertindak sebagai entitas penerima penggabungan (surviving entity).

Terkait aspek sumber daya manusia, manajemen memastikan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja. MORA dan EMR berencana mempertahankan seluruh karyawan yang ada, dengan komposisi tenaga kerja saat ini dinilai telah memadai untuk menopang operasional perusahaan pascapenggabungan.

Rencana merger tersebut juga ditegaskan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap Sukuk Ijarah yang telah diterbitkan MORA. Seluruh kewajiban pembayaran sisa imbalan maupun cicilan ijarah akan tetap dipenuhi, dengan laporan proforma menunjukkan perusahaan hasil penggabungan memiliki aset dan arus kas yang dinilai memadai.

Dari sisi keuangan EMR, hingga 30 September 2025 total liabilitas tercatat sebesar Rp12,87 triliun. Liabilitas jangka pendek mendominasi dengan nilai sekitar Rp3,38 triliun, sementara liabilitas jangka panjang mencapai Rp9,49 triliun.

Proses penggabungan usaha ini ditargetkan memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan pada 13 Maret 2026. Selanjutnya, persetujuan melalui RUPSLB masing-masing perusahaan dijadwalkan pada 25 Maret 2026, dengan pencatatan saham tambahan di Bursa Efek Indonesia direncanakan berlangsung pada 23 April 2026.

MORA berencana menerbitkan sebanyak 24.127.524.041 saham baru setelah merger efektif, yang merepresentasikan 50,50 persen dari total saham pascapenggabungan. Seiring proses tersebut, perseroan juga tengah mengurus persetujuan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta menyampaikan notifikasi kepada KPPU.

Sejumlah kreditur utama, antara lain Bank Mandiri, Indonesia Infrastructure Finance, Cisco, BSI, dan BCA, saat ini sedang melakukan peninjauan atas rencana merger tersebut. Manajemen menyatakan keyakinannya bahwa para kreditur akan memberikan persetujuan, dengan penggabungan usaha ini diposisikan sebagai langkah strategis dalam mendukung penguatan agenda digital nasional.

Iklan