Merger MORA–EMR Perkuat Bisnis FTTH, Ini Strategi dan Keunggulan Kompetitifnya
PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) membeberkan strategi dan sinergi di balik merger dengan PT Eka Mas Republik (EMR). Penggabungan ini menitikberatkan penguatan FTTH, optimalisasi capex, serta pemanfaatan keunggulan operasional EMR di industri broadband.
Ilustrasi merger MORA dan MyRepublic usai persetujuan pemegang saham serta perubahan nama menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk (Foto:MORA)
Emitenhub.com - “MORA akan menghasilkan sinergi finansial melalui optimalisasi belanja modal dan pembangunan infrastruktur, khususnya FTTH, seiring meningkatnya skala bisnis setelah integrasi FTTH EMR ke dalam MORA,” tulis manajemen dalam dokumen penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia, dikutip Kamis (22/1/2026).
Bagi EMR, penggabungan ini membuka akses langsung ke infrastruktur backbone MORA yang berkapasitas besar. Akses tersebut diarahkan untuk meningkatkan stabilitas jaringan, menekan latensi, serta menjaga konsistensi kualitas layanan bagi pelanggan.
EMR sendiri memiliki keunggulan pada infrastruktur last mile dan model operasional ISP terintegrasi, dengan dukungan manajemen yang berpengalaman lebih dari 25 tahun di industri telekomunikasi. Hingga September 2025, EMR mencatat total panjang kabel serat optik mencapai 58.455 kilometer dengan jumlah homepass sekitar 8,79 juta.
Setelah merger direalisasikan, MORA menegaskan tetap mempertahankan merek dagang EMR tanpa perubahan material pada proses bisnis inti maupun portofolio layanan masing-masing entitas. Dalam struktur penggabungan ini, MORA bertindak sebagai perusahaan penerima penggabungan (surviving entity), sementara status badan hukum EMR akan berakhir.
Dari sisi jadwal, rencana penggabungan usaha ini dijadwalkan memperoleh persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 Maret 2026. Perseroan memperkirakan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan terbit pada 13 Maret 2026, dengan pencatatan saham tambahan di Bursa Efek Indonesia ditargetkan berlangsung pada 23 April 2026.
Sebagai bagian dari transaksi merger, MORA akan menerbitkan sekitar 24,12 miliar saham baru. Jumlah tersebut merepresentasikan 50,50 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh pascapenggabungan, sementara porsi kepemilikan saham publik atau free float diproyeksikan berada di kisaran 16,74 persen.
Terkait aspek sumber daya manusia, manajemen menegaskan tidak akan dilakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan MORA maupun EMR. Perseroan menyatakan kesiapan memberikan kompensasi sesuai ketentuan bagi karyawan yang memilih tidak bergabung, meski hingga saat penyampaian dokumen tersebut tidak ada karyawan yang menyatakan keberatan untuk bergabung dalam penggabungan usaha.
Aksi korporasi ini juga dipastikan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap Sukuk Ijarah yang telah diterbitkan MORA. Seluruh kewajiban pembayaran imbalan dan cicilan tetap berlaku dan ditopang kemampuan keuangan entitas hasil merger, dengan liabilitas EMR per September 2025 tercatat sebesar Rp12,87 triliun.
Manajemen MORA menekankan bahwa integrasi operasional dan sistem teknologi informasi menjadi fokus utama pascapenggabungan. Sinkronisasi standar operasional prosedur dan kebijakan dilakukan tanpa mengganggu layanan pelanggan, dengan tujuan mempercepat pemerataan infrastruktur digital di berbagai wilayah Indonesia.
Berdasarkan laporan posisi keuangan proforma yang telah direviu Kantor Akuntan Publik Mirawati Sensi Idris, entitas hasil penggabungan dinilai memiliki kecukupan aset serta arus kas untuk mendukung operasional dan kewajiban keuangan. Sejalan dengan itu, MORA terus menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah kreditur, antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Indonesia Infrastructure Finance, dan PT Bank Central Asia Tbk, guna memperoleh persetujuan atas ketentuan negative covenants.
Di sisi regulasi, proses perizinan di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta penyampaian notifikasi kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dilaporkan berjalan sesuai jadwal. Perseroan menyatakan optimisme seluruh prasyarat penggabungan akan terpenuhi sebelum tanggal efektif merger.
Tiga Kelebihan Kompetitif EMR dalam Sektor Internet Broadband
MORA mengidentifikasi tiga keunggulan kompetitif utama yang dimiliki PT Eka Mas Republik (EMR) dalam menghadapi persaingan di industri internet broadband nasional.
Dalam penjelasannya, manajemen MORA memaparkan bahwa EMR memiliki fondasi bisnis yang kuat untuk menjaga ekspansi dan penetrasi pasar secara berkelanjutan di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Keunggulan tersebut tercermin dari konsistensi EMR dalam membangun dan memperluas infrastruktur last mile selama beberapa tahun terakhir. Pendekatan ini memperkuat posisi perusahaan dalam menjangkau pelanggan ritel secara langsung.
“EMR berhasil mencapai jumlah homes passed yang kompetitif disertai dengan peningkatan penetrasi pelanggan yang berkelanjutan,” tulis manajemen MORA dalam dokumen keterbukaan informasi, seraya menegaskan peran strategi penjualan yang terstruktur sebagai penggerak utama kinerja operasional EMR.
Selain itu, EMR dinilai memiliki model operasional yang solid berkat integrasi menyeluruh sebagai penyedia layanan internet (ISP). Perseroan mengendalikan langsung seluruh rantai nilai, mulai dari infrastruktur inti hingga jaringan last mile yang terhubung ke pelanggan akhir.
Struktur terintegrasi tersebut memungkinkan EMR menjaga kualitas layanan secara konsisten dan terstandardisasi. Perencanaan pembangunan infrastruktur juga dapat diselaraskan secara langsung dengan strategi penjualan yang telah ditetapkan manajemen.
Faktor pembeda lainnya terletak pada tata kelola perusahaan yang berpengalaman. EMR dipimpin oleh jajaran direksi dengan rata-rata pengalaman lebih dari 25 tahun di industri telekomunikasi.
“Kombinasi pengalaman dan pemahaman industri tersebut menjadi fondasi yang kuat bagi keberlanjutan serta stabilitas operasional perusahaan dalam jangka panjang,” tambah manajemen MORA.
Dengan penggabungan ini, MORA dan EMR diarahkan membentuk entitas dengan skala dan kapabilitas yang lebih besar. Sinergi keunggulan strategis dan teknis diharapkan memperkuat kapasitas perusahaan hasil merger dalam menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.


