Saham

Saham PBSA Usahanya Apa? Profil Emiten Konstruksi & Struktur Pemegang Saham

Saham PBSA menarik perhatian pasar seiring volatilitas harga dan lonjakan transaksi. Artikel ini mengulas bidang usaha PT Paramita Bangun Sarana Tbk, portofolio proyek yang dikerjakan, serta struktur kepemilikan saham perseroan.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Aktivitas proyek konstruksi PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA)

Aktivitas proyek konstruksi PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA)

Emitenhub.com - Pergerakan saham PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) kembali menjadi perhatian pasar. Pada perdagangan Jumat (22/1/2026) sesi pertama, harga saham PBSA ditutup di level Rp2.470 per saham, melemah 8,18 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

PBSA tercatat masuk dalam jajaran top value harian dengan nilai transaksi mencapai Rp62,92 miliar, sekaligus berada di kelompok top loser dengan penurunan sekitar 8 persen. Meski demikian, dalam sebulan terakhir saham PBSA masih membukukan kenaikan harga sebesar 60,78 persen.

PT Paramita Bangun Sarana Tbk tercatat di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia sebagai emiten sektor infrastruktur dengan fokus usaha pada konstruksi bangunan, pekerjaan infrastruktur, serta layanan mekanikal dan elektrikal.

Berdasarkan laman resmi perseroan per 22 Januari 2026, perusahaan ini berdiri sejak 2002 dan menjalankan kegiatan utama di bidang konstruksi bangunan sipil, pembangunan infrastruktur seperti pemerataan dan fondasi jalan, serta pekerjaan mekanikal dan kelistrikan.

PBSA mulai memasuki industri sawit pada 2008 melalui proyek pembangunan bulking station berkapasitas 13.000 metrik ton di Kalimantan Tengah. Pada 2009, perseroan memperoleh proyek konstruksi kilang minyak milik PT SMART Tbk yang berlokasi di Marunda, Jakarta.

Pada periode selanjutnya, fokus proyek PBSA banyak diarahkan ke sektor sawit. Lingkup pekerjaan konstruksi yang ditangani mencakup pembangunan fasilitas refinery, oleochemical, biodiesel, pembangkit listrik, jetty, pabrik kelapa sawit, hingga gedung perkantoran.

Perseroan tercatat pernah mengerjakan pembangunan pabrik PKS di Sampit, kilang minyak di Tarjun dan Lampung, fasilitas oleochemical untuk PT Energi Sejahtera Mas, serta fasilitas industri bagi PT Ivo Mas Tunggal.

Pada 2018, perseroan membentuk entitas anak yang berdomisili di Malaysia sebagai langkah ekspansi sekaligus mengantisipasi permintaan jasa konstruksi dari negara tersebut. Hingga akhir 2024, perseroan memiliki total empat entitas anak.

Wilayah operasional PBSA tersebar di sejumlah kawasan industri dan strategis, meliputi Medan, Dumai, Lampung, Banten, Jakarta, Karawang, Bogor, Gresik, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, hingga Malaysia.

Adapun struktur kepemilikan saham PBSA saat ini dapat ditelusuri melalui data yang dirilis Bursa Efek Indonesia. Informasi tersebut mencerminkan komposisi pemegang saham di PT Paramita Bangun Sarana Tbk sebagaimana tercatat di bursa.

Saham PBSA bergerak di bidang infrastruktur dengan fokus pada jasa konstruksi bangunan dan fasilitas industri. Informasi kepemilikan saham perseroan menjadi salah satu aspek yang turut dicermati investor seiring pergerakan harga saham emiten ini di pasar.

Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek yang disampaikan ke bursa pada Januari 2026, pengendali saham PT Paramita Bangun Sarana Tbk per akhir 2025 adalah PT Ascend Bangun Persada dan PT Sigma Mutiara.

Kedua entitas tersebut masing-masing menggenggam 1,38 miliar saham dan 1,12 miliar saham, setara dengan 46,15 persen dan 37,56 persen dari total saham tercatat. Sementara itu, pemegang saham terbesar berikutnya adalah Bank of Singapore dengan kepemilikan sebanyak 117 juta saham atau sekitar 3,93 persen.

Adapun porsi kepemilikan publik atas saham PBSA tercatat sebanyak 370 juta saham atau setara 12,34 persen dari total saham beredar. Penerima manfaat akhir dari struktur kepemilikan tersebut adalah Yonggi Tanuwidjaja, Erwin Tanuwidjaja, dan Halim Susanto.

PBSA resmi melantai di bursa pada 2016 dengan melepas 300 juta saham atau sekitar 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh, pada harga penawaran Rp1.200 per saham. Melalui penawaran umum perdana tersebut, perseroan menghimpun dana sebesar Rp360 miliar.

Iklan