Laba PJAA Naik Tipis di 2025 Meski Pendapatan Turun, Ditopang Kompensasi Jalan Tol
PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk mencatat kenaikan laba bersih pada 2025 meski pendapatan menurun. Kinerja ini ditopang pendapatan satu kali dari kompensasi ganti rugi proyek jalan tol di kawasan Ancol.
Ilustrasi kawasan Ancol dan pergerakan kinerja saham PJAA Foto:PJAA
Emitenhub - PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan kenaikan laba bersih pada 2025 meski pendapatan mengalami penurunan, di tengah dinamika bisnis pariwisata dan properti yang masih berfluktuasi.
Laporan keuangan yang dirilis pada Selasa (17/2/2025) menunjukkan pendapatan Jaya Ancol sepanjang tahun lalu mencapai Rp1,1 triliun. Angka tersebut turun 11 persen dibandingkan realisasi 2024 yang tercatat sebesar Rp1,27 triliun.
Penurunan pendapatan turut menekan kinerja laba kotor. Laba kotor perseroan menyusut 23 persen menjadi Rp512 miliar dari sebelumnya Rp667 miliar, seiring beban pokok pendapatan yang naik tipis 1,7 persen menjadi Rp610 miliar.
Di tengah tekanan tersebut, Jaya Ancol mencatat penghasilan lain sebesar Rp225 miliar. Kontribusi terbesar berasal dari kompensasi ganti rugi proyek pembangunan jalan tol Ir. Wiyoto Wiyono Seksi Harbour Road II (HBR II) seluas 7.185 meter persegi dengan nilai Rp176 miliar.
Dalam laporan keuangan PJAA yang berakhir 31 Desember 2025, pembayaran ganti rugi proyek jalan tol tersebut dicatat sebagai piutang usaha. Kompensasi dalam bentuk kas itu dipastikan telah diterima pada 5 Januari 2026.
Penjualan lahan dilakukan berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 648 Tahun 2022 tentang penetapan lokasi pembangunan pengembangan Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono yang diterbitkan pada 19 Juli 2022. Ketentuan tersebut kemudian diperbarui melalui Kepgub No. 564 Tahun 2025 tertanggal 31 Juli 2025.
Ketetapan tersebut mencakup pengembangan proyek jalan tol HBR II yang berdampak pada delapan kelurahan di Jakarta Utara, termasuk Kelurahan Ancol dan Pademangan yang merupakan aset perseroan. Nilai ganti rugi atas enam bidang lahan seluas 7.185 meter persegi milik perseroan ditetapkan oleh Tim Pengadaan Tanah Proyek.
Adanya pendapatan yang bersifat satu kali ini menahan penurunan laba usaha Jaya Ancol menjadi 13 persen atau Rp325 miliar. Beban keuangan juga turun 25 persen menjadi Rp72 miliar, sehingga laba bersih tercatat Rp180 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp178 miliar.
Capaian tersebut sejalan dengan proyeksi manajemen yang disampaikan pada awal Desember 2025. Direktur Utama Jaya Ancol, Winarto, sebelumnya menyebutkan bahwa sesuai Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP), pendapatan perseroan pada 2025 ditargetkan sebesar Rp1,1 triliun.
Perbedaan muncul pada sisi laba bersih. Manajemen semula memproyeksikan laba bersih sebesar Rp101 miliar, sementara realisasi 2025 mencapai Rp180 miliar. Hasil ini tidak hanya melampaui proyeksi, tetapi juga lebih tinggi dibandingkan capaian 2024, ditopang kompensasi ganti rugi pembangunan jalan tol HBR II di kawasan Ancol.
Dari sisi operasional, kinerja Jaya Ancol masih berada dalam tekanan. Kondisi ini tercermin dari penurunan jumlah kunjungan pada sejumlah unit rekreasi utama, dipengaruhi pasar yang belum sepenuhnya pulih serta persaingan yang semakin ketat di wilayah Jabodetabek.
Tekanan juga datang dari peningkatan beban operasional bersifat tetap, terutama biaya pemeliharaan, utilitas, dan biaya siklus hidup wahana yang meningkat seiring usia. Pada saat yang sama, aset-aset tersebut terus mengalami depresiasi, sehingga dapat menekan kinerja laba pada periode berikutnya.


