Elnusa (ELSA) Soroti Peluang Lonjakan Harga Minyak, Target Produksi 1 Juta Barel Jadi Momentum
PT Elnusa Tbk (ELSA) menilai dinamika geopolitik global dan kenaikan harga minyak dapat menjadi momentum untuk mempercepat produksi migas domestik. Perseroan juga mencatat kinerja 2025 yang tumbuh dengan pendapatan naik 8 persen dan laba bersih meningkat 11 persen.
Ilustrasi layanan teknologi migas dan logistik energi PT Elnusa Tbk (ELSA) (Foto:ELSA)
Emitenhub.com - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global. Sorotan utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Perkembangan tersebut ikut memunculkan kembali diskusi mengenai ketahanan energi Indonesia. Pemerintah sebelumnya menyebut cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 23 hari apabila terjadi gangguan pasokan global.
Di tengah dinamika tersebut, kerja sama antara perusahaan migas nasional dan penyedia jasa energi global turut menjadi perhatian. Salah satu yang disorot adalah kolaborasi dengan perusahaan jasa migas asal Amerika Serikat, Halliburton, yang memunculkan pertanyaan publik terkait peran perusahaan jasa energi domestik dalam mendukung produksi minyak nasional.
PT Elnusa Tbk (ELSA), perusahaan jasa energi yang berada dalam grup Pertamina, memandang situasi geopolitik tersebut sebagai momentum untuk mempercepat peningkatan produksi minyak dan gas (migas) di dalam negeri. Dari perspektif pasar modal, posisi ini menempatkan Elnusa sebagai salah satu pemain jasa energi yang terhubung langsung dengan agenda penguatan produksi migas nasional.
Direktur Utama Elnusa, Litta Ariesca, menyampaikan kinerja perseroan sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan yang solid. Capaian tersebut dinilai menjadi modal bagi perusahaan untuk memperluas kontribusi dalam mendukung target produksi migas nasional.
“Alhamdulillah Elnusa di tahun 2025 cukup solid ya. Jadi dengan disiplin dan juga kerja keras, kami bisa mencapai target yang diharapkan, bahkan melebihi dari target yang diharapkan,” ujar Litta di Bimasena, Jakarta Selatan pada Kamis, 5 Maret 2026.
Pendapatan Elnusa tercatat meningkat sekitar 8 persen secara tahunan. Laba bersih perseroan juga naik sekitar 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk revenue kami naik 8 persen year on year, sedangkan untuk pencapaian net profit kalau dibandingkan dengan operasional kami naik 11 persen year on year,” kata dia.
Menurut Litta, Elnusa memiliki peran dalam mendukung target produksi minyak nasional yang dicanangkan pemerintah hingga mencapai 1 juta barel per hari.
Sebagai perusahaan jasa di sektor hulu migas, Elnusa menyediakan berbagai layanan pendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak domestik. Layanan tersebut mencakup survei seismik, pengeboran, hingga teknologi peningkatan produksi yang digunakan untuk mendukung aktivitas pengembangan lapangan migas.
“Sebagai bagian dari Pertamina Group, kami men-support dalam pencapaian 1 juta barrel pemerintah tentunya, dimana kami berupaya untuk tetap erat dengan hulu dan juga kami berupaya untuk bisa masuk sebagai locus operator dalam pencapaian target operasi dan juga target produksi,” jelasnya.
Menurut Litta, dinamika geopolitik global justru menegaskan pentingnya penguatan kemandirian energi nasional melalui peningkatan produksi dalam negeri.
“Justru dengan adanya tantangan geopolitik global ini, kami semakin optimis bahwa pencapaian 1 juta barrel dan juga kemandirian nasional itu menjadi keharusan,” ujarnya.
Litta menambahkan peningkatan target produksi minyak nasional akan diikuti oleh kenaikan aktivitas di sektor jasa energi.
Dinamika geopolitik dinilai membawa dampak yang tidak sepenuhnya seragam bagi industri energi. Indonesia yang masih berstatus sebagai net importer minyak tetap menghadapi tekanan ketika harga minyak global mengalami kenaikan.
“Kalau kita bicara masalah hulu saja itu sebenarnya ada plus point kalau hulu, jadi harga minyak tinggi. Tapi kita juga harus melihat sebagai satu ekosistem antara upstream dan downstream,” jelasnya.
Direktur Keuangan Elnusa, Nelwin Aldriansyah, menyampaikan lonjakan harga minyak global akibat konflik geopolitik dapat membuka ruang bagi pengembangan sejumlah lapangan migas domestik. Beberapa lapangan yang sebelumnya dinilai kurang ekonomis berpotensi kembali dipertimbangkan untuk diproduksikan.
“Kenaikan harga minyak ini bagi bisnis oil and gas yang berada di upstream mungkin akan membuat beberapa lapangan minyak yang sebelumnya kurang ekonomis menjadi cukup ekonomis untuk dilakukan lifting,” ujarnya.
Biaya produksi minyak di Indonesia disebut relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara produsen besar di Timur Tengah. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga minyak global dapat meningkatkan kelayakan ekonomi bagi lebih banyak lapangan migas domestik untuk dikembangkan.
“Kita tahu dibandingkan negara-negara di Timur Tengah, lifting cost di Indonesia itu cukup tinggi,” kata Nelwin.
Kenaikan harga minyak juga dinilai akan meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai layanan penunjang di sektor hulu migas. Layanan seperti pengeboran, riset, dan survei menjadi bagian dari aktivitas yang berpotensi meningkat seiring bertambahnya kegiatan eksplorasi dan eksploitasi.
“Dengan meningkatnya harga minyak tentunya kebutuhan akan services seperti drilling, research and survey ini juga akan meningkat. Ini tentu akan berdampak positif pada kegiatan usaha Elnusa,” ujarnya.
Nelwin turut menyoroti risiko gangguan pasokan energi global di tengah dinamika geopolitik, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz. Situasi tersebut kembali mengingatkan pada terbatasnya cadangan bahan bakar minyak nasional.
“Kita juga melihat ini dengan beberapa statement dari pemerintah bahwa cadangan BBM kita hanya cukup sekitar 20 sampai 23 hari. Ini tentunya cukup menjadi tantangan bagi sektor energi di Indonesia,” kata dia.
Ia menilai kondisi tersebut seharusnya menjadi dorongan untuk mempercepat kebijakan peningkatan produksi energi domestik. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
Produksi minyak Indonesia saat ini berada di kisaran 800.000 barel per hari. Pemerintah menargetkan angka tersebut meningkat hingga mencapai 1 juta barel per hari dalam beberapa tahun mendatang.
“Dengan inisiatif pemerintah dan cita-citanya ini akan menjadi 1 juta barrel, harapan kita mungkin ini lebih cepat sehingga ketergantungan kita akan impor dapat sedikit banyak digantikan oleh produksi dalam negeri,” ujarnya.
Kerja sama Pertamina dengan berbagai perusahaan jasa migas global, termasuk Halliburton, turut menjadi bagian dari dinamika industri hulu migas. Manajemen Elnusa menilai kolaborasi lintas perusahaan merupakan praktik yang umum karena skala proyek energi yang besar.
Litta menyebut pencapaian target produksi minyak nasional memerlukan keterlibatan banyak perusahaan jasa energi. Hal ini membuka ruang kolaborasi dengan berbagai mitra industri.
“Pencapaian 1 juta barrel di Indonesia itu kan cukup besar ya. Jadi kerja sama dengan perusahaan mana pun itu sangat terbuka,” katanya.
Ia menambahkan Elnusa tetap menempati posisi strategis dalam ekosistem energi nasional sebagai penyedia layanan teknis yang mendukung eksplorasi dan produksi minyak di berbagai wilayah Indonesia.
“Intinya adalah kami membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan seluruh perusahaan services maupun perusahaan migas lainnya,” ujarnya.
Direktur Operasi Elnusa, Andri Haribowo, menyebut salah satu kekuatan perusahaan terletak pada kemampuan riset serta pengembangan teknologi yang dirancang sesuai kebutuhan lapangan migas di Indonesia.
“Teknologi migas ini sangat update, gabungan dari teknologi IT bahkan teknologi kedokteran pun ada di kita,” ujarnya.
Andri menyebut pengembangan teknologi di Elnusa tidak hanya mengadopsi inovasi global. Pendekatan tersebut juga disesuaikan dengan karakteristik lapangan migas domestik yang memiliki tantangan berbeda di tiap wilayah.
Menurutnya, banyak inovasi perusahaan lahir dari persoalan operasional yang muncul langsung di lapangan. Tantangan seperti pasir, air, hingga gangguan produksi pada sumur minyak menjadi dasar pengembangan solusi teknologi.
“Teknologi yang kita komersialkan itu berdasarkan permasalahan yang muncul dari setiap lapangan, sehingga solusinya lebih tepat,” kata Andri.


