Prospek Harga Batu Bara 2025–2026 Tetap Terbatas, AADI Jadi Pilihan Utama
Permintaan batu bara global masih lemah akibat tingginya persediaan, terutama di China, sementara produksi Indonesia sempat terhambat cuaca. BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor batu bara, namun melihat peluang kenaikan jangka pendek karena restocking musim dingin. AADI menjadi saham pilihan utama dengan target harga Rp9.850.
Analisis prospek harga batu bara 2025–2026 dan rekomendasi saham AADI menurut BRI Danareksa
Emitenhub - Prospek permintaan batu bara global diperkirakan tetap lemah, meskipun pola musiman pada paruh kedua tahun biasanya memberikan dorongan terhadap harga.
Dalam riset terbaru yang dirilis pada 27 November 2025, BRI Danareksa mencatat harga batu bara Indonesia mulai pulih sejak akhir kuartal II/2025, terutama untuk produk berkalori menengah-rendah (ICI3 dan ICI4) yang masing-masing naik 17 persen dan 20 persen dari posisi terendah pada Juni.
Harga batu bara berkalori menengah dan tinggi turut mengalami pemulihan, meski dengan kenaikan yang lebih terbatas.
BRI Danareksa mencatat bahwa pergerakan harga ini terutama dipicu aktivitas restocking di pelabuhan China yang mengikuti pola musiman menjelang musim dingin. Namun, lembaga tersebut mengingatkan bahwa tingkat persediaan masih jauh di atas rata-rata historis, sehingga ruang penguatan harga hingga 2026 diperkirakan tetap terbatas.
Dari sisi suplai, produksi batu bara Indonesia mengalami hambatan akibat curah hujan yang lebih tinggi dari normal sepanjang semester I/2025.
Data Kementerian ESDM hingga Juli mencatat produksi delapan bulan pertama hanya mencapai 509 juta ton, turun 8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, atau setara 70 persen dari kuota produksi 2025.
BRI Danareksa memperkirakan produksi mulai membaik sejak September seiring normalisasi cuaca, sehingga output hingga kuartal III/2025 diproyeksikan mencapai 577 juta ton, tetap mencatat penurunan 8 persen secara tahunan.
Rencana pemerintah membatasi pertumbuhan produksi pada 2026 dinilai positif untuk menahan tekanan harga.
Sementara itu, permintaan dari dua konsumen terbesar, China dan India, masih belum menunjukkan tanda pemulihan yang signifikan
Impor China pada Januari–September 2025 tercatat turun 11 persen menjadi 388 juta ton karena tingginya stok dan meningkatnya produksi domestik.
Meski begitu, produksi batu bara dalam negeri China mulai melambat sejak pertengahan tahun setelah pemerintah memperketat aspek keselamatan tambang. Perlambatan ini, ditambah kebutuhan restocking menjelang musim dingin, membuat penurunan impor China lebih landai pada Agustus–Oktober, yakni 7 persen secara tahunan.
Permintaan India juga belum menunjukkan perbaikan. Impor negara tersebut dalam 10 bulan pertama 2025 turun 7,5 persen, meski tekanan penurunan mulai stabil dalam beberapa bulan terakhir.
Dengan kondisi tersebut, BRI Danareksa mempertahankan rekomendasi Neutral untuk sektor batu bara. Riset itu menyebut risiko penurunan harga masih berasal dari lemahnya permintaan dan tingginya persediaan, terutama di China, sementara efektivitas pemangkasan produksi domestik masih perlu dicermati.
Walau demikian, peluang kenaikan harga dalam jangka pendek masih terbuka berkat aktivitas restocking menjelang musim dingin.
Untuk horizon jangka pendek, BRI Danareksa tetap menjagokan AADI dengan rekomendasi beli (buy) dan target harga Rp9.850. Urutan preferensi sektor yang disusun lembaga riset tersebut adalah AADI, diikuti ADRO, UNTR, ITMG, dan PTBA.
BRI Danareksa juga mencatat peningkatan porsi kepemilikan fund domestik di sektor batu bara sejak Agustus 2025, sementara minat investor asing masih terbatas.
Prospek harga batu bara berpotensi membaik jika produksi Indonesia lebih rendah dari perkiraan atau jika China memperketat kebijakan pemangkasan produksi. Kondisi tersebut dapat mempersempit pasokan dan meredam tekanan harga.
Sebaliknya, ruang penguatan dapat tertahan bila musim dingin berlangsung lebih hangat dari biasanya, sehingga kebutuhan impor menurun dan permintaan melemah. (Aldo Fernando)


