Saham

Saham BBCA Bergerak di Kisaran 6.800, Asing Masih Aktif di Tengah Fluktuasi Maret 2026

Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang Maret 2026 bergerak fluktuatif dalam rentang yang relatif terbatas, dari area 7.025 menuju kisaran 6.800. Di tengah pergerakan tersebut, aktivitas transaksi tetap tinggi dan investor asing masih aktif mencatat jual beli dalam nilai besar di pasar reguler.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi pergerakan saham BBCA pada Maret 2026 di tengah aktivitas transaksi tinggi dan aliran dana asing yang aktif

Direksi BBCA Borong Saham Rp22 Miliar Saat Harga Saham Tertekan – Sinyal Rebound Kencang (Foto:BBCA)

Emitenhub.com - Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang Maret 2026 bergerak fluktuatif dalam rentang yang relatif terbatas, meski aktivitas transaksi di pasar reguler tetap tinggi. Arus dana asing juga masih terlihat aktif pada saham ini.

Hingga pertengahan bulan, saham BBCA bergerak dari area di atas 7.000 menuju kisaran 6.800. Perubahan ini terjadi di tengah aliran dana asing yang tetap tercatat aktif dalam beberapa sesi perdagangan.

Pada awal bulan, saham BBCA masih diperdagangkan di area atas rentang pergerakan. Pada 2 Maret, harga ditutup di level 7.025 setelah bergerak dalam kisaran 6.975 hingga 7.150. Nilai transaksi pada hari itu mencapai sekitar Rp1,10 triliun dengan volume sekitar 1,56 juta lot dan frekuensi transaksi sekitar 62.970 kali.

Penguatan sempat berlanjut pada 3 Maret ketika saham BBCA ditutup di level 7.075 setelah menyentuh level tertinggi intraday di 7.125. Nilai transaksi pada sesi tersebut berada di kisaran Rp728,93 miliar dengan volume sekitar 1,03 juta lot. Pada hari yang sama, investor asing membukukan pembelian bersih sekitar Rp6,05 miliar.

Tekanan mulai terlihat pada 4 Maret saat saham BBCA ditutup turun ke level 6.875 dari posisi pembukaan di 7.075. Pada hari itu, aktivitas perdagangan menjadi salah satu yang tertinggi dalam periode tersebut dengan volume mencapai sekitar 2,17 juta lot.

Frekuensi transaksi tercatat sekitar 99.520 kali dengan nilai perdagangan sekitar Rp1,50 triliun. Dalam sesi yang sama, data menunjukkan investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp573,43 miliar.

Saham BBCA kemudian berbalik menguat pada 5 Maret dan ditutup di level 7.100. Posisi ini naik sekitar 225 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Nilai transaksi pada hari itu tercatat sekitar Rp778,36 miliar dengan volume sekitar 1,10 juta lot. Investor asing juga mencatat pembelian bersih sekitar Rp148,24 miliar.

Memasuki pekan berikutnya, tekanan harga kembali muncul. Pada 6 Maret, saham BBCA turun ke level 7.000 dengan nilai transaksi sekitar Rp722,92 miliar dan volume sekitar 1,03 juta lot. Pada sesi ini, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih sekitar Rp91,67 miliar.

Tekanan jual berlanjut pada 9 Maret ketika saham BBCA kembali ditutup melemah ke level 6.875. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp1,03 triliun dengan volume sekitar 1,50 juta lot serta frekuensi transaksi sekitar 56.150 kali. Data perdagangan menunjukkan investor asing membukukan penjualan bersih sekitar Rp106,84 miliar.

Pada perdagangan 16 Maret, saham BBCA bergerak di kisaran 6.800 setelah dibuka pada level 6.850 dan sempat menyentuh level tertinggi intraday di 6.875. Harga terendah pada sesi tersebut berada di area 6.700, dengan rata-rata transaksi tercatat di kisaran 6.777.

Secara keseluruhan, sejak awal Maret hingga pertengahan bulan, saham BBCA bergerak dari level 7.025 menuju kisaran 6.800. Rentang perdagangan hariannya relatif stabil, berada di area 6.700 hingga 7.125.

Aktivitas transaksi selama periode tersebut umumnya berada pada kisaran 900 ribu hingga 1,5 juta lot per hari. Dalam beberapa sesi, nilai transaksi juga tercatat menembus lebih dari Rp1 triliun.

Data aliran dana memperlihatkan investor asing tetap aktif bertransaksi dengan nilai ratusan miliar hingga lebih dari Rp1 triliun per sesi. Arus keluar asing tercatat pada beberapa hari seperti 4 Maret dan 11 Maret.

Di sisi lain, pembelian bersih asing muncul pada sesi lain seperti 5 Maret dan 12 Maret, seiring fluktuasi harga saham BBCA di pasar reguler Bursa Efek Indonesia.

Iklan