Saham

Buyback Rp1,7 Triliun Digelar, Saham MBMA Masih Diskon dari Target Analis

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menyiapkan buyback saham hingga Rp1,7 triliun dengan jumlah maksimal 1,8 miliar lembar. Di tengah tekanan intraday, saham MBMA masih diperdagangkan di bawah rata-rata target harga analis, sementara proyeksi kinerja beberapa tahun ke depan menunjukkan kenaikan pada pendapatan, laba usaha, laba bersih, dan EPS.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Buyback saham MBMA senilai Rp1,7 triliun di tengah harga yang masih di bawah rata-rata target analis

MBMA memanfaatkan sisa tambang melalui fasilitas AIM untuk bahan baku baterai kendaraan listrik (Foto: PAM Mineral)

Emitenhub.com - Saham MBMA berada dalam tekanan intraday saat rencana buyback diumumkan. Di tengah perdagangan, harganya tercatat di kisaran Rp675 atau turun sekitar 4,26% dari penutupan sebelumnya.

Dalam sepekan terakhir, saham MBMA masih membukukan kenaikan sekitar 2,27% dengan rentang pergerakan di level Rp670 hingga Rp770. Untuk periode satu bulan, saham ini justru melemah sekitar 6,90% dengan kisaran harga Rp630 sampai Rp945.

Pada horizon yang lebih panjang, penguatan saham MBMA masih terlihat. Selama tiga bulan terakhir, harga saham naik sekitar 26,17% dengan rentang Rp525 hingga Rp945, sedangkan dalam enam bulan terakhir kenaikannya mencapai sekitar 38,89% pada kisaran Rp454 hingga Rp945.

Secara tahunan, saham MBMA tercatat menguat sekitar 132,76% dibandingkan posisi terendah tahunannya di sekitar Rp238.

Pandangan analis terhadap saham MBMA masih cenderung positif. Dari 16 analis yang memantau emiten ini, sebanyak 14 memberikan rekomendasi buy, satu analis merekomendasikan hold, dan satu analis lainnya memberi rekomendasi sell.

Rata-rata target harga saham MBMA dalam konsensus analis berada di level Rp783 per saham. Perkiraan tertinggi tercatat di kisaran Rp1.000, sedangkan estimasi terendah berada di sekitar Rp510 per saham.

Dengan harga saham yang berada di kisaran Rp680, posisi MBMA saat ini masih di bawah rata-rata target harga analis tersebut. Dari perspektif pasar modal, level ini menempatkan pergerakan saham MBMA dalam perhatian investor terhadap ruang valuasi yang masih terbuka.

Proyeksi kinerja juga menunjukkan perubahan pada sejumlah indikator keuangan dalam beberapa tahun ke depan. Konsensus analis memperkirakan pendapatan perusahaan yang pada 2024 tercatat sekitar Rp29,24 triliun akan berada di kisaran Rp24,30 triliun pada 2025.

Untuk 2026, konsensus analis memperkirakan pendapatan MBMA meningkat menjadi sekitar Rp40,78 triliun.

Pada pos laba usaha, proyeksi analis menunjukkan kenaikan dari sekitar Rp1,26 triliun pada 2024 menjadi sekitar Rp2,10 triliun pada 2025. Angka itu kemudian diperkirakan bertambah menjadi sekitar Rp6,86 triliun pada 2026.

Laba bersih perusahaan juga diperkirakan tumbuh dari sekitar Rp361 miliar pada 2024 menjadi sekitar Rp624 miliar pada 2025. Pada 2026, nilainya diproyeksikan mencapai sekitar Rp3,15 triliun.

Gambaran tersebut turut tercermin dalam proyeksi laba per saham atau earnings per share. Pada 2024, EPS tercatat sekitar 3,34, lalu dalam konsensus analis diperkirakan meningkat ke sekitar 29,63 pada 2026.

Iklan