Saham

MBMA Ubah Sisa Tambang Jadi Bahan Baku Baterai EV, ESG Makin Diperkuat

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memanfaatkan material sisa tambang melalui fasilitas Acid Iron Metal untuk mendukung rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekonomi sirkular, efisiensi operasional, dan penguatan praktik ESG perseroan.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
MBMA memanfaatkan sisa tambang melalui fasilitas AIM untuk bahan baku baterai kendaraan listrik

MBMA memanfaatkan sisa tambang melalui fasilitas AIM untuk bahan baku baterai kendaraan listrik (Foto: PAM Mineral)

Emitenhub.com - PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mulai memanfaatkan material sisa tambang sebagai bagian dari rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik. Langkah ini dilakukan melalui pengembangan fasilitas pengolahan Acid Iron Metal (AIM).

Fasilitas AIM dibangun oleh PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI), perusahaan patungan antara MBMA dan Eternal Tsingshan Group Limited. Pengembangan ini menjadi bagian dari strategi MBMA untuk memperkuat praktik ekonomi sirkular di industri bahan baku baterai kendaraan listrik.

MBMA menjelaskan fasilitas AIM memanfaatkan bijih pirit sisa pengolahan Tambang Tembaga Wetar yang dioperasikan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

Material sisa tambang tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan asam sulfat dan uap. Keduanya digunakan sebagai bahan baku dalam proses produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) di pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL).

Integrasi fasilitas AIM diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan material tambang sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik nasional. Langkah ini mencerminkan upaya MBMA membangun proses produksi yang lebih terhubung di dalam ekosistem Grup Merdeka.

Presiden Direktur PT Merdeka Battery Materials Tbk, Teddy Oetomo, menyampaikan pengembangan industri kendaraan listrik perlu ditopang rantai pasok yang efisien dan bertanggung jawab. Menurutnya, integrasi operasional yang dibangun MBMA menjadi bagian dari dorongan menuju praktik tersebut secara bertahap.

MBMA menyatakan pengembangan fasilitas AIM juga menjadi upaya perusahaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku eksternal. Strategi ini dilakukan melalui integrasi operasional di lingkungan Grup Merdeka.

Selain mengembangkan ekonomi sirkular, MBMA menyebut seluruh entitas operasional perseroan telah memperoleh sertifikasi ISO 14001:2015 untuk sistem manajemen lingkungan hingga akhir 2025.

Perseroan juga membentuk Tim Manajemen Energi di dua anak usaha, yakni PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) dan PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI). Tim tersebut dibentuk untuk mendukung efisiensi energi dan pengurangan emisi secara lebih terintegrasi.

Sepanjang 2025, MBMA mempertahankan Gold Rank dalam Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025. Perseroan juga memperoleh predikat “Verified” dalam Indeks Integritas Bisnis Lestari (INSTAR) 2025 dengan skor tertinggi di sektor basic materials.

Dari sisi penilaian ESG, Sustainalytics ESG Risk Rating MBMA membaik menjadi 34,07 dari sebelumnya 35,20.

Iklan