Saham

Saham Tambang Nikel Melonjak, MBMA dan MDKA Pimpin Penguatan

Saham-saham tambang nikel menguat serempak seiring pergerakan positif harga nikel global. Penguatan dipimpin MBMA dan MDKA, di tengah perhatian pasar pada kebijakan pasokan dan eksekusi RKAB.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Ilustrasi pergerakan saham tambang nikel dan harga nikel global

MBMA memanfaatkan sisa tambang melalui fasilitas AIM untuk bahan baku baterai kendaraan listrik (Foto: PAM Mineral)

Emitenhub - Penguatan berlanjut pada saham PT PAM Mineral Tbk (NICL) yang naik 3,93 persen ke level Rp1.190 per saham. Saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) juga bergerak menguat 3,44 persen dan diperdagangkan di level Rp1.505 per saham.

Saham PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) turut mengalami kenaikan. Hingga waktu yang sama, harga saham DKFT terkerek 3,07 persen ke level Rp840 per saham.

Penguatan juga tercatat pada saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) yang naik 2,72 persen serta PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang menguat 2,55 persen.

Di pasar global, kontrak berjangka nikel bergerak naik. Harga nikel tercatat menguat 3,6 persen ke level USD17.393 per ton pada perdagangan Rabu (19/2).

Sebelumnya, harga nikel sempat mendekati USD18.000 per ton pada pekan lalu. Kenaikan ini dipicu kebijakan pemerintah yang memangkas tajam produksi di PT Weda Bay Nickel, tambang nikel terbesar di dunia yang berlokasi di Indonesia, sehingga memunculkan ekspektasi pengetatan pasokan.

Seiring berjalannya waktu, sebagian investor mulai mengevaluasi kembali skala serta waktu penerapan pembatasan produksi tersebut. Penyesuaian posisi oleh pelaku spekulatif turut mendorong terjadinya koreksi harga.

Di sisi permintaan, faktor musiman menjelang perayaan Tahun Baru Imlek di China menekan aktivitas perdagangan fisik. Kondisi ini membatasi tambahan dorongan bagi pergerakan harga nikel.

Pelaku pasar terus memantau perkembangan sinyal pasokan berikutnya yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan sektor tambang logam.

Sebelumnya, dalam riset yang dirilis pada 14 Januari 2026, Bahana Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor tambang logam.

Sebagai respons, Bahana menaikkan target harga berbasis valuasi untuk PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Selain itu, target harga berbasis sum of the parts analysis (SOTP) untuk PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) turut direvisi naik.

Penyesuaian target harga tersebut sejalan dengan rerating global sektor logam. Rata-rata valuasi emiten sejenis di pasar global kini diperdagangkan pada EV/EBITDA tahun fiskal 2026–2027 sebesar 10,7 kali dan 8,6 kali, meningkat dari 8,5 kali dan 6,6 kali pada November 2025.

Bahana menempatkan MDKA sebagai saham pilihan utama dan mempertahankan NCKL dalam daftar rekomendasi. Emiten tambang terintegrasi dinilai memiliki peluang lebih besar dalam merealisasikan kuota produksi dibandingkan produsen yang bergantung pada penjualan pihak ketiga.

Meski demikian, keberlanjutan reli harga dinilai sangat bergantung pada eksekusi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Aspek implementasi menjadi faktor kunci dalam menjaga konsistensi pasokan ke depan.

Komentar terbaru dari Kementerian ESDM mengindikasikan penyesuaian kuota akan disesuaikan dengan kebutuhan smelter. Pendekatan ini berpotensi menahan ekspektasi pemangkasan produksi yang sebelumnya diperkirakan dapat mencapai 34 persen secara tahunan.

Di sisi lain, ruang kenaikan harga dinilai masih terbuka apabila pengendalian pasokan diperketat, sebagaimana preseden yang pernah terjadi pada komoditas minyak sawit mentah (CPO) dan timah.

Bahana juga menilai penguatan harga saham saat ini lebih dipicu oleh posisi spekulatif, bukan oleh pengetatan pasokan fisik. Risiko utama tetap berasal dari potensi pelemahan harga nikel, ketidakpastian kebijakan, serta keterlambatan eksekusi proyek.

Iklan