Saham

JP Morgan Overweight Saham Nikel Indonesia, INCO dan MDKA Naik Peringkat

JP Morgan merevisi naik peringkat saham penambang nikel Indonesia di tengah kebijakan izin dan penguatan harga produk turunan. INCO dan MDKA dinaikkan ke overweight, sementara ANTM tetap menjadi pilihan utama dengan target harga lebih tinggi. Pengetatan pasokan dan arah RKAB dinilai menjaga profitabilitas rantai pasok nikel.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
JP Morgan menaikkan peringkat saham nikel Indonesia INCO MDKA ANTM

Aktivitas smelter nikel di kawasan industri Indonesia di tengah lonjakan investasi China dan sorotan dampak lingkungan (Foto:PT Vale Indonesia Tbk)

Emitenhub.com - Penyesuaian pandangan JP Morgan terhadap sektor nikel Indonesia mencuat seiring dinamika penerbitan izin di awal tahun serta tren kenaikan harga produk turunan sepanjang 2025. Perkembangan tersebut mendorong perubahan sikap bank investasi global itu terhadap sejumlah emiten tambang nikel di dalam negeri.

Melalui laporan riset terbarunya bertajuk Asean Metals, JP Morgan mengerek rekomendasi saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) menjadi overweight (OW) dari sebelumnya neutral. Langkah ini menempatkan kedua emiten dalam radar utama investor yang mengikuti sektor logam regional.

Sementara itu, pada saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), JP Morgan menaikkan target harga menjadi Rp4.500 per saham dengan tetap mempertahankan peringkat overweight. Penyesuaian tersebut menggarisbawahi posisi ANTM sebagai salah satu emiten nikel yang dinilai menarik dalam cakupan riset JP Morgan.

Fokus JP Morgan pada Saprolit dan RKAB

Penjelasan Benny Kurniawan dan tim menempatkan disiplin Indonesia dalam ekspansi kapasitas pengolahan serta pembatasan bijih saprolit berkadar tinggi sebagai fondasi prospek sektor. Kebijakan tersebut mendorong harga saprolit melonjak sekitar 40% sepanjang tahun lalu, melampaui kenaikan harga nikel di London Metal Exchange (LME) yang tercatat 9% pada 2025.

Saprolit dikenal sebagai bijih nikel dengan kadar tinggi di kisaran 1,5% hingga 3%. Karakteristik ini membuat proses pengolahannya relatif lebih sederhana karena dapat menggunakan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).

Sebaliknya, bijih nikel limonit memiliki kadar lebih rendah dan membutuhkan metode High Pressure Acid Leach (HPAL) dalam proses ekstraksinya. Perbedaan teknologi ini membedakan struktur biaya dan rantai nilai kedua jenis bijih tersebut.

“Kami memperkirakan kontrol pasokan yang didorong oleh izin akan semakin mendukung harga saprolit dan menguntungkan [produk] perantara seperti NPI [nickel pig iron],” tulis para analis dalam riset yang terbit Kamis (15/1/2026).

ANTM tetap menjadi pilihan utama JP Morgan di sektor ini, ditopang kuatnya harga bijih saprolit. Bijih berkadar tinggi ANTM sekitar 1,7% masih menjadi preferensi pabrik peleburan untuk kebutuhan pencampuran, sementara pemulihan volume penjualan emas dari impor serta aktivitas penambangan di blok Freeport diperkirakan terjadi pada paruh kedua 2026.

Untuk INCO, JP Morgan sebelumnya mempertahankan peringkat neutral dengan mempertimbangkan porsi 70% penjualan bijih masa depan yang berasal dari limonit. Komposisi tersebut tidak berubah. Namun, pandangan analis bergeser lebih positif terhadap kualitas dan cakupan cadangan bijih perseroan, termasuk limonit.

“Kami yakin bahwa kelebihan pasokan limonit saat ini akan diserap oleh pengoperasian HPAL tahun ini, sehingga menghasilkan pasar limonit yang lebih seimbang selama 18 bulan ke depan,” tulis mereka. JP Morgan juga berasumsi INCO akan memanfaatkan opsi pada proyek HPAL mendatang, yang berujung pada kontribusi pendapatan afiliasi yang lebih besar.

Pada saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), Benny dan tim menyoroti kinerja yang tertinggal dibandingkan anak usahanya yang telah tercatat, yakni MBMA dan EMAS. Dalam enam bulan terakhir, selisih kinerja tersebut berada di kisaran 20% hingga 77%, sementara valuasi MDKA dinilai berada pada level yang lebih menarik.

JP Morgan memperkirakan MDKA akan mencatat pertumbuhan pendapatan yang signifikan dari posisi impas pada 2025. Katalis utamanya berasal dari peningkatan produksi tambang emas Pani yang didukung oleh harga emas yang lebih tinggi.

“Kami percaya harga tembaga yang lebih tinggi juga akan menghasilkan kelayakan yang lebih tinggi untuk TBCopper, tetapi kami tetap menetapkan aset tersebut dengan diskon 50% dari nilai teoritis kami,” tulis mereka.

Terkait perkembangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), JP Morgan menilai persetujuan yang telah terbit untuk INCO mencerminkan arah kebijakan yang masih konstruktif. Pendekatan tersebut dipandang mendukung keberlanjutan profitabilitas di seluruh rantai pasok nikel.

Sebelumnya, pemerintah menurunkan target produksi nikel nasional untuk 2026 menjadi 250–260 juta ton, lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 yang sebesar 370 juta ton.

Pemerintah tidak lagi memberikan keringanan pajak bagi smelter dan refiner, kecuali bagi proyek yang disertai rencana hilirisasi yang jelas. Kebijakan ini mempertegas selektivitas dukungan fiskal di sektor pengolahan mineral.

Menurut JP Morgan, pengetatan pasokan oleh pemerintah Indonesia semestinya berdampak pada penguatan harga produk antara. Harga nickel pig iron (NPI) sebelumnya telah pulih dari level terendah sekitar US$11.300 pada Desember menjadi kisaran US$12.200, dengan ruang penguatan lanjutan. “Kami tetap optimistis terhadap saprolit dibandingkan dengan limonit tahun ini. Kami percaya penerbitan izin yang lebih seimbang akan terus menekan pasar cadangan bermutu tinggi yang sudah langka dan mendorong harga saprolit mendekati harga bijih di Filipina,” jelas para analis.

Adapun pasar limonit diperkirakan bergerak relatif datar sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi berubah pada paruh kedua 2026, seiring mulai beroperasinya lebih banyak fasilitas HPAL yang dapat menyerap stok eksisting dan mendorong harga sedikit lebih tinggi.

Pergerakan harga emas dinilai memberikan dorongan langsung bagi kinerja ANTM dan MDKA. ANTM memiliki bisnis pemurnian emas, sementara MDKA mengoperasikan dua tambang emas, yakni TB Gold dan Pani, sehingga sensitif terhadap perubahan harga komoditas tersebut.

Iklan