Laba LPPF Turun Jadi Rp725,4 Miliar pada 2025, Penjualan dan EBITDA Ikut Melemah
PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mencatat penurunan laba bersih menjadi Rp725,4 miliar sepanjang 2025, seiring melemahnya penjualan dan turunnya EBITDA. Di tengah efisiensi beban usaha, tekanan pada profitabilitas dan struktur permodalan masih terlihat.
Dividen LPPF Rp250 per saham yield 12,98% tahun buku 2025 Matahari Department Store (LPPF)
Emitenhub.com - PT Matahari Department Store Tbk (LIMO) mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp725,4 miliar sepanjang tahun buku 2025. Nilai itu turun dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp827,7 miliar.
Berdasarkan laporan tahunan 2025 yang dipublikasikan melalui keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia, penurunan laba tersebut berlangsung di tengah pelemahan kinerja penjualan. Kondisi ini menunjukkan tekanan pada sektor ritel modern masih belum sepenuhnya mereda.
Perseroan membukukan penjualan barang dagangan sebesar Rp11,05 triliun, turun dari Rp12,30 triliun pada 2024. Penjualan konsinyasi tercatat Rp7,69 triliun, lebih rendah dari Rp8,64 triliun. Penjualan ritel-gerai juga turun menjadi Rp3,35 triliun dari Rp3,66 triliun.
Pelemahan pendapatan turut menekan profitabilitas Perseroan sepanjang 2025. Laba kotor tercatat Rp3,81 triliun, turun dari Rp4,26 triliun pada tahun sebelumnya. Di tengah kondisi itu, perusahaan melakukan efisiensi dengan menurunkan beban usaha menjadi Rp2,798 triliun dari Rp2,97 triliun.
Langkah efisiensi tersebut belum mampu menahan penurunan laba usaha. Perseroan membukukan laba usaha sebesar Rp1,12 triliun, lebih rendah dibandingkan Rp1,27 triliun pada 2024. Tekanan operasional masih berlanjut.
Pada level laba bersih sebelum pajak, Perseroan mencatatkan Rp892,6 miliar, turun dari Rp1,01 triliun pada tahun sebelumnya. Kinerja per saham juga ikut melemah. Laba per saham tercatat Rp324, lebih rendah dibandingkan Rp366.
Dari sisi neraca, total aset cenderung stagnan di kisaran Rp5,13 triliun, sedikit berubah dari Rp5,14 triliun pada tahun sebelumnya. Meski demikian, tekanan mulai terlihat pada struktur permodalan Perseroan.
Total ekuitas Perseroan turun menjadi Rp272,9 miliar dari Rp325,8 miliar. Pada saat yang sama, liabilitas meningkat menjadi Rp4,86 triliun dibandingkan Rp4,81 triliun pada 2024. Pergeseran ini menunjukkan komposisi pendanaan perusahaan mengalami perubahan.
Secara rasio, margin laba kotor berada di level 65,9 persen, sedikit lebih rendah dari 66,7 persen. Return on assets (ROA) turun menjadi 14,1 persen dari 16,1 persen. Sementara itu, return on equity (ROE) naik ke 265,8 persen karena basis ekuitas yang menyusut.
Dari sisi operasional, adjusted EBITDA tercatat sebesar Rp1,16 triliun, turun dari Rp1,39 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan ini memperlihatkan tekanan pada kinerja inti Perseroan.
Rasio beban operasional terhadap penjualan kotor naik menjadi 26,1 persen dari 25,1 persen. Kenaikan ini menandakan tekanan biaya semakin terasa di tengah pendapatan yang melemah.


