Saham

IPO Superbank (SUPA) Oversubscribed, Himpun Dana Rp 2,79 Triliun di Harga Rp 635

IPO PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) resmi menetapkan harga di Rp 635 per saham, berada di tengah kisaran harga awal dan sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme bookbuilding. Minat investor sangat kuat hingga IPO Superbank tercatat oversubscribed, dengan dana segar sekitar Rp 2,79 triliun yang mayoritas akan dialokasikan untuk penyaluran kredit dan penguatan infrastruktur digital.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
IPO Superbank (SUPA) oversubscribed di Bursa Efek Indonesia dengan harga Rp 635 per saham

IPO Superbank (SUPA) oversubscribed di Bursa Efek Indonesia dengan harga Rp 635 per saham

Emitenhub - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau Superbank bersiap melantai di bursa. Perseroan telah menetapkan harga penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) di level Rp 635 per lembar.

Harga tersebut berada di kisaran tengah dari rentang harga awal Rp 525 hingga Rp 695 per saham. Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, menjelaskan alasan harga tidak dipasang di batas atas maupun bawah.

Ia menegaskan, penetapan harga tersebut sepenuhnya mengacu pada mekanisme pasar. Mandiri Sekuritas bertindak sebagai salah satu penjamin pelaksana emisi efek dalam aksi korporasi ini.

“Itu kan supply dan demand ya. Jadi memang demand-nya ada di situ, ya kita tetapkan seperti biasanya IPO aja,” ujar Oki dalam acara Media Gathering, Economic and Market Outlook 2026 di Jakarta.

Oki menegaskan posisi harga tersebut mencerminkan titik temu minat investor. Permintaan yang masuk selama masa penawaran awal atau bookbuilding menjadi acuan utama.

“Jadi ada demand di kiri dan di kanan, akhirnya kita tetapkan di tengah, sekitar di tengah. Itu murni berdasarkan supply and demand,” tambahnya.

Ia menegaskan tidak ada alasan khusus ataupun intervensi dalam penentuan harga Rp 635 per saham. Penetapan harga sepenuhnya mengikuti dinamika permintaan yang terbentuk.

“Enggak ada, itu kan mekanisme pasar. Jadi waktu bookbuilding, pricing-nya diatur di situ. Kan tidak mungkin kita pasang di paling bawah atau paling atas kalau tidak ada demand-nya,” jelas Oki.

Minat investor terhadap bank digital ini tercatat sangat tinggi. Oki memastikan saham SUPA mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe).

“Oversubscribe. Oh iya, semuanya oversubscribe,” tegasnya, seraya berkelakar, “Mantap ya. Jangan lupa, beli Superbank.”

Superbank melepas sebanyak 4.406.612.300 saham ke publik, setara 13% dari modal disetor perseroan setelah IPO.

Dengan harga pelaksanaan Rp 635 per saham, Superbank berhasil menghimpun dana segar sekitar Rp 2,79 triliun dari publik.

Masa penawaran umum saham SUPA berlangsung pada 10–15 Desember 2025. Proses penjatahan dan distribusi saham secara elektronik dijadwalkan pada 15 dan 16 Desember 2025, sementara pencatatan perdana saham SUPA di Bursa Efek Indonesia akan dilakukan pada 17 Desember 2025.

Selain Mandiri Sekuritas, terdapat tiga sekuritas lain yang juga bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek, yakni PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk (TRIM), dan PT Sucor Sekuritas.

Dana hasil IPO ini telah memiliki rencana penggunaan yang terstruktur. Sekitar 70% akan digunakan sebagai modal kerja untuk mendukung penyaluran kredit.

Sisa 30% dialokasikan untuk belanja modal perseroan yang akan direalisasikan secara bertahap mulai 2026 hingga lima tahun ke depan.

Fokus utama belanja modal tersebut adalah pengembangan produk pendanaan, pembiayaan, dan sistem pembayaran, dengan sasaran solusi digital bagi nasabah ritel dan pelaku UMKM.

Dukungan teknologi informasi juga menjadi prioritas. Investasi akan diarahkan ke infrastruktur, sistem operasional, AI & data analytics, serta penguatan cybersecurity guna membangun fondasi digital yang kuat, aman, dan efisien.

Iklan