Saham

ARKO Klarifikasi Volatilitas Saham, Beberkan Progres PLTA Pongbembe dan Dividen Negatif

PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) memberikan penjelasan resmi kepada BEI terkait volatilitas transaksi saham, termasuk perkembangan proyek PLTA Pongbembe dan PLTM Kukusan 2. Perseroan mengungkap kebutuhan pendanaan sekitar USD 48,52 juta, proyeksi pendapatan Rp 33 miliar pada 2026, serta meluruskan pencatatan dividen negatif yang muncul akibat proses eliminasi konsolidasi.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Arkora Hydro (ARKO) dengan proyek PLTA Pongbembe dan grafik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia

Arkora Hydro (ARKO) dengan proyek PLTA Pongbembe dan grafik pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia

Emitenhub - PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menyampaikan penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) menanggapi permintaan klarifikasi Bursa tertanggal 2 Desember 2025 terkait volatilitas transaksi saham perseroan. Manajemen ARKO memaparkan sejumlah informasi penting, mulai dari perkembangan proyek baru hingga alasan pencatatan dividen bernilai negatif.

Salah satu fokus utama adalah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Pongbembe. Perseroan baru saja menandatangani Perjanjian Jual Beli Listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) pada September 2025, dan konstruksi proyek tersebut telah dimulai sejak November 2025.

Ricky Hartono, Direktur sekaligus Corporate Secretary ARKO, menjelaskan status terkini proyek tersebut. Ia menyebutkan bahwa pekerjaan fisik di lapangan telah berjalan.

“Perkembangan konstruksi saat ini sudah pada tahap persiapan awal pelaksanaan pekerjaan konstruksi jalan akses,” ujar Ricky dalam keterangannya, Selasa (9/12/2025).

Proyek ini membutuhkan investasi yang tidak kecil. ARKO menyiapkan dana dalam kisaran puluhan juta dolar Amerika Serikat, yang bersumber dari kas perseroan dan pinjaman perbankan.

“Nilai pendanaan yang diperlukan untuk pembangunan PLTA Pongbembe adalah sekitar USD 48,521,809 (empat puluh delapan juta lima ratus dua puluh satu ribu delapan ratus sembilan dolar) yang akan dipenuhi melalui kombinasi pendanaan ekuitas perseroan dan pinjaman berjangka dari lembaga pembiayaan,” jelas Ricky.

Kehadiran PLTA Pongbembe diharapkan dapat mendorong kinerja perseroan. Selama masa konstruksi, proyek ini akan berkontribusi melalui pendapatan jasa konstruksi, sementara setelah beroperasi pendapatan akan berasal dari penjualan listrik ke PLN.

“Secara keseluruhan proyek ini memberikan nilai tambah berkelanjutan bagi kinerja perseroan,” tambahnya.

Selain Pongbembe, ARKO juga menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Kukusan 2 beroperasi komersial pada kuartal IV/2025. Perseroan telah menghitung potensi kontribusi keuangan dari proyek ini pada 2026.

“Sehubungan dengan rencana COD pada tahun 2025, kontribusi pendapatan yang ditargetkan untuk tahun 2026 akan mengikuti ketentuan pencatatan ISAK 112 mengenai perjanjian konsesi jasa, sehingga perkiraan pendapatan PT Arkora Energi Baru pada tahun 2026 ditargetkan sekitar Rp 33 miliar,” ungkap Ricky.

Dalam surat tersebut, Ricky juga meluruskan pertanyaan Bursa terkait akun keuntungan lain-lain. Tercatat penerimaan dividen bernilai negatif sebesar Rp 9.108.178.588 yang muncul akibat penerapan standar akuntansi dalam laporan keuangan konsolidasian.

Dividen itu diterima dari entitas anak, PT Arkora Ekon Indonesia, yang sahamnya dimiliki perseroan lebih dari 99%. Sesuai ketentuan, transaksi antar entitas dalam satu grup wajib dieliminasi.

“Dengan demikian, nilai dividen muncul sebagai negatif pada akun keuntungan (kerugian) lain-lain – bersih sebagai bagian dari proses eliminasi konsolidasi sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku,” terangnya.

Menutup penjelasannya, Ricky menegaskan komitmen perseroan terhadap keterbukaan informasi dan transparansi kepada investor. Ia memastikan tidak ada peristiwa penting lain yang belum disampaikan ke publik.

“Sampai dengan surat ini dibuat, perseroan tidak memiliki informasi atau fakta material lain yang belum diungkapkan kepada publik,” pungkas Ricky.

Iklan