Saham

Saham BUMI Tembus Rekor Baru, Diincar Asing dan Diantisipasi Masuk MSCI Indonesia

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menguat tajam hingga menyentuh level tertinggi baru sejak 2018, dengan kenaikan lebih dari 230% dalam tiga bulan dan kapitalisasi pasar menembus Rp 138 triliun. Analis menilai pasar mulai mengantisipasi potensi masuknya BUMI ke MSCI Indonesia Index, didukung lonjakan likuiditas dan derasnya arus dana asing yang memposisikan BUMI sebagai kandidat investasi struktural jangka panjang.

2 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
saham BUMI menguat tajam dengan lonjakan volume dan sorotan peluang masuk MSCI Indonesia Index

Pergerakan saham BUMI dan strategi diversifikasi Bumi Resources (Foto:BUMI)

Emitenhub - Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali menguat signifikan pada perdagangan Kamis (11/12/2025). Nilai dan volume transaksi saham ini masih menempati peringkat teratas pada sesi I hari ini.

Hingga pukul 11.18 WIB, saham BUMI naik 14,11% ke Rp 374 per saham, menyentuh level tertinggi baru sejak 2018. Dalam lima tahun terakhir, harga saham BUMI sudah menguat lebih dari 51% dan melonjak lebih dari 230% dalam tiga bulan terakhir.

Kenaikan tersebut mendorong kapitalisasi pasar emiten batu bara yang dikendalikan Grup Bakrie ini melesat menjadi Rp 138,13 triliun. BUMI tercatat sebagai saham emiten batu bara dengan kenaikan harga paling agresif dalam tiga bulan terakhir.

Sebelumnya, analis pasar modal yang juga Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyampaikan bahwa potensi masuknya saham BUMI ke dalam daftar Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Index pada Februari 2026 menjadi sorotan pasar. Ekspektasi tersebut menguat seiring lonjakan harga dan likuiditas saham BUMI dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menilai, narasi masuknya BUMI ke MSCI bukan lagi sekadar rumor, melainkan mulai bertumpu pada perhitungan kapitalisasi pasar berbasis free float, yang menjadi salah satu metrik utama penilaian MSCI. “Dengan struktur kepemilikan publik yang membaik serta likuiditas yang meningkat, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan BUMI naik kelas ke panggung global,” ujar Hendra.

Hendra juga menyoroti derasnya arus dana asing yang masuk. Investor asing tercatat membukukan net buy sekitar Rp 520 miliar dengan volume transaksi mencapai 1,8 miliar saham.

“Lonjakan likuiditas dan aliran dana asing menunjukkan bahwa BUMI mulai diposisikan bukan hanya sebagai saham trading, tetapi sebagai kandidat investasi struktural yang tengah diuji kelayakannya oleh pasar global,” ujarnya.

Meski demikian, Hendra menegaskan proses masuk ke MSCI mensyaratkan konsistensi harga, kapitalisasi pasar, dan likuiditas. Volatilitas jangka pendek tetap mungkin terjadi setelah lonjakan yang ditopang ekspektasi.

Namun, jika BUMI mampu bertahan di atas ambang harga kelayakan hingga periode evaluasi MSCI, peluang konfirmasi akan semakin besar. “Dalam skenario itu, bukan tidak mungkin BUMI kembali diperdagangkan di kisaran Rp 500,” ungkapnya.

Secara historis, level tersebut bukan area baru bagi BUMI. Jika benar masuk MSCI, aliran dana pasif dari ETF dan reksa dana indeks global berpotensi menciptakan permintaan struktural yang menopang harga saham dalam jangka panjang. “Dana pasif biasanya masuk bertahap namun konsisten, sehingga dapat menjaga harga di level yang lebih tinggi,” tutup Hendra.

Iklan