Saham

Saham Big Banks Melonjak, Asing Borong BBRI hingga BBCA Jelang Window Dressing

Saham empat bank besar kompak menguat dan diborong investor asing setelah tertekan sepanjang pekan lalu. Momentum window dressing, valuasi murah, dan stabilisasi fundamental menjadi katalis utama penguatan saham perbankan.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Pergerakan saham bank besar BBRI BBCA BMRI BBNI di Bursa Efek Indonesia

Prospek saham bank Indonesia di tengah pemulihan sektor perbankan (Foto:Perseroan)

Emitenhub - Saham empat bank besar atau big banks kompak menguat pada perdagangan Senin (15/12/2025). Kinerja positif ini tercermin pada pergerakan saham emiten perbankan berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 4,13% ke level Rp3.780. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 3,75% menjadi Rp8.300, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik 3,53% ke Rp4.990 dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) meningkat 4,72% ke Rp4.440.

Penguatan saham-saham blue chip tersebut turut ditopang aksi beli investor asing. Tercatat, asing mencatatkan net buy sebesar Rp211,79 miliar pada saham BMRI, Rp190,71 miliar di BBCA, Rp131,98 miliar pada BBNI, serta Rp127,75 miliar di saham BBRI.

Saham keempat bank besar tersebut bangkit dan diborong investor setelah sepanjang pekan sebelumnya cenderung berada dalam tekanan. Pergerakan ini menandai kembalinya minat pasar pada saham perbankan berkapitalisasi besar.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai saham perbankan berpeluang memperoleh momentum window dressing. Penilaian tersebut didasarkan pada kinerja saham bank yang masih underperform terhadap IHSG, valuasi yang relatif murah, serta fundamental yang mulai menunjukkan stabilisasi.

Menurut BRIDS, katalis pendukung berasal dari potensi rotasi dana institusi menjelang akhir tahun, di mana saham bank yang likuid dan berkapitalisasi besar menjadi pilihan utama. Selain itu, kebijakan moneter yang lebih longgar dinilai berpotensi menurunkan cost of fund, sehingga mendukung pertumbuhan kredit dan margin bunga bersih (NIM).

Dari sisi fundamental, pertumbuhan kredit dinilai mendekati titik terendah dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang tetap terkendali. Valuasi saham perbankan juga dinilai menarik, tercermin dari price to book value (PBV) yang berada di bawah rata-rata historis serta dividend yield di kisaran 7–9%.

“Bank besar diunggulkan karena laba yang stabil, likuiditas tinggi, dan konsistensi dividen,” tulis BRIDS dalam ulasannya yang dikutip Selasa (16/12/2025).

Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati, antara lain risiko global berupa potensi arus keluar dana akibat penyesuaian bobot MSCI serta pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi. Selain itu, terdapat risiko musiman karena momentum window dressing bersifat jangka pendek dan rawan koreksi jika tidak didukung volume dan arus dana yang kuat.

Kendati demikian, BRIDS tetap menilai saham perbankan berpeluang memperoleh dorongan window dressing dengan dukungan valuasi yang masih murah dan fundamental yang mulai stabil. Fokus diarahkan pada bank besar yang likuid dan defensif seperti BBRI, BMRI, BBNI, dan BBCA, dengan strategi buy on weakness atau breakout yang terkonfirmasi, sembari tetap mencermati volume dan arus dana asing.

Sementara itu, Mandiri Sekuritas dalam Investor Digest 15 Desember menetapkan target harga saham BBRI di level 4.400, BBNI 5.000, dan BBCA 11.000. Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham Bank Mandiri (BMRI) dengan merevisi target harga menjadi Rp5.500 dari sebelumnya Rp5.000.

Iklan