Prospek Saham Bank 2026 Mulai Cerah, Ini Strategi dan Saham Pilihan Analis
Prospek sektor perbankan Indonesia menunjukkan sinyal pemulihan seiring perbaikan likuiditas dan penurunan biaya dana. Meski berlangsung bertahap, analis menilai peluang pemulihan laba dan kredit mulai terbuka pada 2026.
Prospek saham bank Indonesia di tengah pemulihan sektor perbankan (Foto:Perseroan)
Emitenhub.com - Prospek sektor perbankan Indonesia mulai memperlihatkan titik terang setelah melalui periode tekanan. Sejumlah indikator menunjukkan adanya ruang pemulihan, meski prosesnya diperkirakan tidak berlangsung secara instan.
Sejumlah perusahaan sekuritas melihat sinyal perbaikan mulai terbentuk, namun menilai pemulihan tersebut masih akan dihadapkan pada berbagai tantangan. Dinamika makroekonomi dinilai memegang peran penting dalam menentukan arah kinerja perbankan ke depan.
Henan Putihrai Sekuritas memandang fase pemulihan perbankan bersifat macro-driven recovery. Artinya, perbaikan kinerja bank lebih banyak ditopang oleh faktor eksternal, seperti kebijakan fiskal yang lebih pro-pertumbuhan, percepatan realisasi belanja pemerintah, stimulus ekonomi, serta injeksi likuiditas untuk memulihkan daya beli domestik.
Meski demikian, pemulihan tersebut dinilai masih akan berlangsung secara bertahap. Sejumlah risiko struktural tetap berpotensi membayangi, sehingga perbankan perlu menjaga kualitas aset dan disiplin manajemen risiko di tengah proses pemulihan yang berjalan.
Dalam laporan sektoralnya, equity research analyst Henan Putihrai Sekuritas James Stanley Widjaja menjelaskan bahwa sektor perbankan menghadapi tekanan signifikan sehingga kinerjanya tertinggal dibandingkan laju indeks yang mencatatkan kenaikan sekitar 20,2% hingga akhir periode pengamatan.
Ia memerinci bahwa tekanan likuiditas pada fase awal periode tersebut mendorong kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF). Kondisi ini menahan laju pertumbuhan kredit sekaligus memperburuk kualitas aset, terutama di segmen mikro dan konsumer, seiring melemahnya daya beli.
Meski demikian, Henan Putihrai Sekuritas menilai kinerja kuartal III/2025 sebagai awal titik balik bagi sektor perbankan. Data pada periode berikutnya juga mengindikasikan perbaikan likuiditas, khususnya pada bank-bank beraset besar, yang menjadi fondasi bagi pemulihan yang lebih solid.
James menegaskan bahwa membaiknya kondisi likuiditas tersebut menjadi sinyal awal pemulihan sektor perbankan. Perkembangan ini dinilai membuka ruang perbaikan kinerja yang lebih nyata seiring berjalannya fase pemulihan berikutnya.
Pada 2026, Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 8,9% secara tahunan, meningkat dibandingkan proyeksi 7,5% pada periode sebelumnya. Pertumbuhan tersebut diperkirakan terutama ditopang oleh segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kredit konsumer.
Selain pertumbuhan kredit, biaya dana juga diproyeksikan mengalami penurunan sekitar 10 basis poin. Penurunan ini sejalan dengan transmisi pelonggaran suku bunga acuan serta membaiknya kondisi likuiditas di sistem perbankan.
Meski demikian, di tengah perbaikan faktor makro tersebut, Henan Putihrai Sekuritas tetap menaruh perhatian pada sejumlah risiko. Beberapa bank besar dinilai masih memiliki tantangan pada sisi neraca yang perlu dicermati lebih lanjut.
James menyoroti bahwa tekanan terhadap imbal hasil aset serta biaya kredit masih menjadi pekerjaan rumah bagi sektor perbankan. Faktor-faktor ini dinilai berpotensi membatasi laju pemulihan kinerja secara keseluruhan.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan ruang kenaikan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) pada 2026 akan relatif terbatas, yakni sekitar 5 basis poin.
Selain itu, tekanan pada kualitas aset serta kebutuhan untuk membangun kembali penyangga provisi diperkirakan mendorong kenaikan biaya kredit. James menyebut biaya kredit berpotensi meningkat sekitar 10 basis poin menjadi 1,5% pada empat bank besar.
Ia juga menyoroti potensi penurunan imbal hasil aset sekitar 10 basis poin di kelompok bank besar. Kondisi ini dipicu oleh kecenderungan perbankan mengalihkan penyaluran kredit ke segmen grosir dengan imbal hasil lebih rendah, di tengah lingkungan suku bunga yang lebih rendah serta masih tingginya tingkat kredit bermasalah di segmen konsumer dan mikro.
Secara keseluruhan, Henan Putihrai Sekuritas memberikan peringkat netral untuk sektor perbankan. Untuk saham perbankan yang menjadi pilihan utama, sekuritas ini menjatuhkan pilihan pada BBCA, ARTO, dan BBNI, seiring ekspektasi pemulihan laba per saham atau earning per share (EPS) yang ditopang oleh kualitas aset serta model bisnis masing-masing bank.
Sementara itu, saham BBRI dan BMRI diinisiasi dengan pandangan netral. Penilaian ini didasarkan pada terbatasnya ruang rerating, di tengah masih berlanjutnya kebutuhan penanganan kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), khususnya pada segmen tertentu.
James menilai peningkatan peringkat untuk BMRI dan BBRI masih menjadi tantangan. Hal tersebut berkaitan dengan perlunya pembangunan kembali cadangan provisi pada BMRI serta proses pembersihan kredit macet yang masih berlanjut di BBRI, sehingga berpotensi menahan laju perbaikan kinerja dalam jangka menengah.
Tanda Baik dari Likuiditas Bank
Maybank Sekuritas Indonesia turut melihat prospek sektor perbankan mulai membaik seiring pelonggaran likuiditas dan penurunan biaya dana. Meski demikian, pemulihan kinerja dinilai masih berlangsung bertahap dan tetap dibayangi risiko pada kualitas aset.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad, menilai fondasi pendanaan perbankan kini berada dalam kondisi yang lebih sehat dibandingkan fase tekanan sebelumnya. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tercatat melampaui pertumbuhan kredit, mencerminkan perbaikan struktur likuiditas di industri perbankan.
Kondisi tersebut turut mendorong rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan-to-deposit ratio (LDR) bergerak ke level yang lebih longgar. Penurunan LDR ini menunjukkan meredanya tekanan pendanaan yang sempat tinggi, sekaligus menjadi titik awal pemulihan sektor perbankan secara lebih berkelanjutan.
Meski likuiditas menunjukkan perbaikan, Maybank Sekuritas menilai pemulihan permintaan kredit belum berlangsung merata. Sepanjang periode pengamatan, pertumbuhan kredit masih didominasi oleh kredit investasi dan konsumsi, sementara kredit modal kerja cenderung tertahan. Pola ini mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi domestik yang masih berjalan secara bertahap.
Dari sisi margin, Maybank mencermati dampak positif penurunan suku bunga deposito yang mulai terlihat sejak fase pelonggaran likuiditas. Injeksi likuiditas ke perbankan, khususnya bank-bank BUMN, dinilai membantu menekan biaya dana.
Penurunan biaya dana tersebut menjadi penyangga penting bagi margin perbankan. Meski imbal hasil kredit mengalami penyesuaian, tekanan terhadap net interest margin relatif terjaga berkat perbaikan struktur pendanaan yang lebih seimbang.
Dari sisi kualitas aset, Maybank Sekuritas menilai kondisi industri perbankan secara agregat masih berada pada level yang relatif stabil. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat bertahan di kisaran 2,2%–2,3%, mencerminkan ketahanan sektor perbankan di tengah tekanan ekonomi.
Meski demikian, Maybank tetap mengingatkan potensi tekanan lanjutan, terutama pada segmen mikro dan konsumsi. Tekanan tersebut sejalan dengan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, sehingga berpotensi memengaruhi kualitas kredit di segmen tersebut.
Memasuki fase pemulihan berikutnya, Maybank Sekuritas Indonesia memproyeksikan dukungan kebijakan makro akan semakin berperan. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah, peningkatan belanja pemerintah, serta perluasan program kredit bersubsidi seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dinilai berpotensi mendorong pertumbuhan kredit, khususnya pada segmen UMKM.
Secara terpisah, RHB Sekuritas Indonesia turut menyampaikan pandangan yang lebih optimistis terhadap prospek sektor perbankan. Dalam laporan Market Strategy 2026, sektor perbankan dinilai berpeluang menjadi salah satu penerima manfaat utama dari siklus penurunan suku bunga dan proses normalisasi likuiditas.
Analis RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, menilai kombinasi suku bunga yang lebih rendah, likuiditas yang semakin longgar, serta akselerasi pertumbuhan kredit berpotensi mendorong pemulihan laba perbankan ke level dua digit. Perbaikan margin bunga bersih juga diperkirakan mulai terasa seiring turunnya biaya dana dan membaiknya struktur pendanaan.
RHB Sekuritas memproyeksikan perbankan dapat mencatatkan pertumbuhan laba hingga 12,0% secara tahunan. Proyeksi tersebut ditopang oleh pelebaran NIM dan penurunan biaya pendanaan, sementara risiko kredit bermasalah dinilai relatif terkendali dalam konteks pemulihan ekonomi yang berjalan bertahap.


