International

Pemerintah Siapkan BLU Khusus Impor Minyak Rusia 150 Juta Barel – Cadangan RI Cuma 20 Hari!

Pemerintah sedang membahas pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) khusus untuk mengimpor minyak mentah dalam volume besar dari Rusia. Kontrak pembelian mencapai 150 juta barel hingga akhir 2026. Impor dilakukan bertahap karena cadangan minyak nasional saat ini hanya mencukupi sekitar 20 hari.

2 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Pemerintah Siapkan BLU Khusus Impor Minyak Mentah Rusia 150 Juta Barel

Harga minyak Brent melonjak ke USD126 per barel dan rupiah di level terlemah sepanjang masa

Emitenhub.com - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyatakan pemerintah sedang membahas mekanisme impor minyak mentah dalam volume besar. “Jadi sekarang itu adalah bagaimana kita mengimpornya, apakah langsung badan usaha milik negara atau ini ada BLU,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Yuliot menjelaskan, impor dalam jumlah besar dikhawatirkan membawa risiko jika sepenuhnya ditangani oleh BUMN seperti PT Pertamina (Persero). Oleh karena itu muncul opsi pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) baru yang memberikan kemudahan pembiayaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Opsi ini kita sedang siapkan payung regulasinya. Karena kalau BUMN itu ada konsekuensi. Kemudian kalau BLU, itu apakah ada kemudahan termasuk pembiayaan juga. Kita sedang bahas antar kementerian/lembaga,” katanya.

Impor minyak dari Rusia akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun 2026. Langkah ini mempertimbangkan kapasitas penyimpanan minyak dalam negeri yang masih terbatas.

Cadangan minyak nasional saat ini diperkirakan hanya mencukupi sekitar 20 hari.

Yuliot menuturkan bahwa kesepakatan yang diraih dari lawatan Presiden Prabowo Subianto tidak hanya mencakup kontrak pembelian minyak, melainkan juga gas.

Meski demikian, kesepakatan pembelian gas dengan Rusia masih dalam proses dan belum tercapai. Gas menjadi komoditas penting sebagai penopang keberlanjutan industri di setiap negara.

“Gas ini yang masih kita dorong bagaimana pengadaan melalui Rusia. Kita juga memiliki komitmen dengan Amerika, kita rapat dengan Menlu, saat ini tim Pertamina sedang ada di Rusia. Jadi perusahaan mana yang bisa melakukan pengiriman secara cepat,” ujar Yuliot.

Iklan