International

Minyak Dunia Meledak 5%, Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz Bikin Pasar Panik

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 5% setelah Iran menghentikan pembicaraan dengan Amerika Serikat dan mengancam menutup Selat Hormuz. Kenaikan ini mendorong Brent mendekati USD95 per barel dan memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Lonjakan harga minyak dunia akibat ancaman penutupan Selat Hormuz dan memanasnya konflik Timur Tengah

Lonjakan harga minyak dunia akibat ancaman penutupan Selat Hormuz dan memanasnya konflik Timur Tengah

Emitenhub.com - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (1/6/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (2/6/2026) WIB. Kenaikan lebih dari 4% terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Juli melesat lebih dari 5% dan ditutup di level USD92,16 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional juga menguat lebih dari 4% dan berakhir di posisi USD94,98 per barel di London ICE Futures Exchange.

Reli harga minyak dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan tidak mempermasalahkan apabila perundingan nuklir dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan.

Sentimen pasar semakin memanas setelah media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran menghentikan pembicaraan dengan Amerika Serikat sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.

Iran bahkan mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak bergerak lebih tinggi.

Trump menyampaikan sikap tegas terkait kelanjutan negosiasi dengan Iran saat diwawancarai CNBC. Menurutnya, proses perundingan tersebut sudah berlangsung terlalu lama dan tidak lagi menarik untuk diikuti.

“Saya benar-benar tidak peduli. Saya sangat tidak peduli,” ujar Trump saat ditanya mengenai kemungkinan berakhirnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.

Trump menilai proses negosiasi berjalan terlalu lambat tanpa perkembangan yang berarti. Ia bahkan menyebut dialog yang berlangsung selama ini mulai terasa membosankan.

“Menurut saya mereka menyita terlalu banyak waktu. Terus terang, saya pikir itu mulai menjadi sangat membosankan,” kata Trump.

Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak hingga sekitar 8% dalam sesi perdagangan intraday seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ancaman gangguan pasokan global.

Meski demikian, Trump mengaku tidak terlalu khawatir dengan lonjakan harga energi tersebut. Ia menilai kenaikan yang terjadi saat ini bersifat sementara dan memperkirakan harga minyak pada akhirnya akan kembali mengalami koreksi.

Trump tetap optimistis lonjakan harga minyak tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, pasar energi berpotensi kembali stabil dalam waktu dekat meski ketegangan geopolitik masih berlangsung.

“Saya pikir harga minyak akan turun drastis dalam waktu yang sangat dekat, Anda tahu, dalam jarak yang sangat dekat,” kata Trump.

Ketegangan pasar sempat mereda setelah Trump menyampaikan perkembangan terbaru melalui media sosial. Ia mengklaim Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyetujui bahwa pasukan Israel tidak akan melanjutkan operasi ke Beirut, ibu kota Lebanon.

Trump juga menyebut komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung dengan intensitas yang tinggi, meskipun sebelumnya muncul laporan mengenai penghentian sementara pembicaraan.

Meski demikian, pasar tetap mewaspadai potensi memburuknya situasi di Timur Tengah. Investor khawatir gencatan senjata yang selama ini menjadi dasar komunikasi antara Washington dan Teheran dapat runtuh sewaktu-waktu.

Iran sendiri dilaporkan menuntut penghentian operasi militer Israel di Gaza serta penarikan pasukan dari Lebanon sebagai syarat agar dialog dengan Amerika Serikat dapat terus berlanjut.

Laporan kantor berita Tasnim menyebut Iran tengah mempertimbangkan langkah untuk memblokade Selat Hormuz secara penuh. Selain itu, muncul pula rencana membuka front tekanan baru di kawasan Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu rute perdagangan energi paling penting di dunia.

Sebelum lonjakan terbaru, harga minyak sebenarnya sempat mengalami tekanan cukup dalam. Sepanjang pekan lalu, harga Brent terkoreksi 11,1%, sementara WTI turun 9,6%, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak pertengahan April 2026.

Saat itu, pelaku pasar masih menaruh harapan pada kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai berpotensi meredakan risiko gangguan pasokan energi global.

Namun situasi berubah cepat. Sejak konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memanas pada 28 Februari 2026, harga minyak dunia tercatat masih menguat lebih dari 30%. Kondisi tersebut menunjukkan premi risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang menggerakkan pasar energi.

Pelaku pasar kini terus mencermati setiap perkembangan terbaru di Timur Tengah, terutama terkait potensi gangguan distribusi minyak dari kawasan tersebut.

Analis Goldman Sachs menilai prospek harga minyak pada kuartal IV 2026 masih menghadapi risiko dari dua arah. Di satu sisi, gangguan pasokan dari Timur Tengah berpotensi mendorong harga Brent dan WTI bergerak lebih tinggi.

Di sisi lain, perlambatan permintaan global masih menjadi ancaman utama yang dapat menekan harga minyak apabila aktivitas ekonomi dunia melemah lebih dalam dari perkiraan.

Iklan