Saham

DEWA Kantongi Fasilitas Kredit Rp1 Triliun dari BCA untuk Modal Kerja dan Investasi

PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menandatangani perjanjian fasilitas kredit senilai Rp 1 triliun dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Fasilitas ini terdiri dari kredit modal kerja dan kredit investasi untuk mendukung ekspansi proyek dan pembelian alat berat.

2 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Penandatanganan fasilitas kredit DEWA dengan Bank Central Asia

Penandatanganan fasilitas kredit DEWA dengan Bank Central Asia

Emitenhub - PT Darma Henwa Tbk (DEWA) menandatangani perjanjian fasilitas kredit dengan total nilai Rp 1 triliun bersama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Kesepakatan tersebut dilakukan pada 19 Desember 2025.

Direktur sekaligus Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi, menyampaikan bahwa fasilitas kredit yang diberikan terdiri dari dua jenis, yakni untuk kebutuhan modal kerja dan investasi.

Fasilitas kredit modal kerja diberikan sebesar Rp 850 miliar. Jangka waktu kredit ini adalah dua tahun. Suku bunga efektifnya adalah 7% per tahun.

“Fasilitas kredit modal kerja ini akan digunakan untuk mengambil alih pekerjaan subkontraktor di proyek PT Kaltim Prima Coal. Ini juga akan meningkatkan volume pekerjaan di proyek PT Arutmin Indonesia. Selain itu, fasilitas ini mendukung pengembangan proyek perusahaan di masa depan,” kata Mukson dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (19/12/2025).

Kedua, perseroan memperoleh fasilitas kredit investasi sebesar Rp 150 miliar dengan jangka waktu lima tahun dan suku bunga efektif 7% per tahun.

“Fasilitas kredit investasi ini akan digunakan untuk mendukung pembelian unit alat-alat berat baru,” ujarnya.

Mukson menyampaikan bahwa penandatanganan perjanjian fasilitas kredit tersebut memberikan dampak positif terhadap kegiatan operasional serta kondisi keuangan perseroan.

Ia menegaskan, transaksi ini tidak menimbulkan dampak terhadap aspek hukum maupun kelangsungan usaha DEWA.

Dalam skenario ini, potensi aliran dana asing diperkirakan sangat besar. Diperkirakan mencapai USD180-300 juta atau setara Rp3-5 triliun. Ini terjadi karena masuknya dana dari investor institusional global yang mengikuti indeks MSCI.

Iklan