Saham

Saham JPFA Dapat Katalis Struktural, Maybank Naikkan Target Harga ke Rp3.200

Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mendapat katalis positif dari pemangkasan kuota impor GPS dan potensi peningkatan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis. Maybank Sekuritas menaikkan proyeksi EPS dan target harga JPFA seiring prospek perbaikan margin yang dinilai bersifat struktural.

3 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Analisis saham JPFA dan prospek industri perunggasan

Analisis saham JPFA dan prospek industri perunggasan (Foto:JPFA)

Emitenhub - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) memperoleh katalis positif dari kebijakan pemangkasan kuota impor Grand Parent Stock (GPS). Sejumlah analis merespons dengan menaikkan target harga saham JPFA, seiring ekspektasi pergerakan harga yang berpotensi menguat lebih cepat.

Dalam laporan riset Maybank Sekuritas, pemangkasan kuota GPS sebesar 21% menjadi 530 ribu ekor pada 2024 dinilai sebagai faktor struktural krusial bagi industri perunggasan. Kebijakan tersebut dinilai menyentuh akar persoalan sektor ayam nasional, yakni kondisi kelebihan pasokan.

Dengan pasokan bibit yang lebih terkendali, harga ayam hidup berpotensi bergerak lebih stabil dan cenderung menguat. Bagi JPFA yang memiliki integrasi kuat dari hulu ke hilir, kenaikan harga livebird umumnya berdampak langsung pada perbaikan margin.

Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi katalis tambahan. Dengan 17.500 Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (PPG) yang telah beroperasi, permintaan daging ayam diproyeksikan meningkat hingga 18% pada 2026.

Persentase kenaikan tersebut dinilai bukan bersifat musiman, melainkan mencerminkan potensi permintaan yang lebih berkelanjutan, sesuatu yang relatif jarang terjadi di sektor perunggasan. Kondisi ini memperkuat prospek pemulihan industri secara struktural.

Kombinasi faktor tersebut mendorong Maybank Sekuritas menaikkan proyeksi laba per saham (EPS) JPFA sebesar 4–8% untuk periode 2025–2027, sekaligus merevisi target harga menjadi Rp 3.200 per saham dengan rekomendasi beli. Dibandingkan harga pasar terakhir di Rp 2.690, terdapat potensi kenaikan sekitar 19%.

Secara valuasi, ruang kenaikan tersebut dinilai masih wajar, terutama apabila perbaikan margin terealisasi seiring penguatan harga ayam hidup. Dengan demikian, secara fundamental, narasi JPFA saat ini dinilai konstruktif dan berbasis data.

Meski demikian, respons pasar belum sepenuhnya agresif. Pada perdagangan Senin siang, 22 Desember 2025, saham JPFA justru ditutup melemah tipis 0,37%.

Pergerakan intraday menunjukkan saham JPFA dibuka di level 2.690, sempat menguat ke 2.700, lalu tertekan hingga 2.630 sebelum kembali ke area penutupan. Pola ini mengindikasikan adanya tekanan jual di level atas, namun belum cukup kuat untuk memicu breakdown harga.

Untuk saat ini, sisi bid saham JPFA menunjukkan antrean yang cukup tebal dan berlapis di kisaran 2.600–2.650, dengan total sekitar 38.900 lot. Kondisi tersebut mencerminkan minat beli yang relatif kuat untuk menahan penurunan harga lebih lanjut.

Namun, dari sisi offer terlihat antrean yang lebih berat dengan total sekitar 88.400 lot, terutama terkonsentrasi di area 2.700–2.790. Situasi ini menunjukkan adanya tarik-ulur pasar, di mana pembeli cenderung masuk di level harga bawah, sementara penjual masih aktif melepas saham setiap kali terjadi kenaikan.

Secara fundamental, kinerja JPFA dinilai tengah membaik dengan dukungan katalis yang bersifat struktural, bukan temporer. Target harga Rp 3.200 dari Maybank Sekuritas dipandang masih rasional apabila asumsi perbaikan harga ayam hidup serta realisasi permintaan dari program MBG berjalan sesuai proyeksi.

Saat ini, pasar masih berada dalam fase konsolidasi sambil menunggu konfirmasi lanjutan, baik dari penguatan harga livebird yang lebih nyata maupun bukti perbaikan margin pada laporan keuangan berikutnya. Selama area bid kuat di kisaran 2.600–2.650 tetap terjaga, sentimen positif terhadap JPFA dinilai belum terganggu. Namun, untuk bergerak lebih konsisten menuju target analis, saham ini masih membutuhkan perubahan perilaku pasar dari pola jual saat naik (sell on strength) menjadi akumulasi di fase kenaikan.

Iklan