JPFA Laba Meroket 167%, Dividen Rp140 Cair dan Tetap Masuk MSCI Small Cap
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mencatat laba bersih Rp1,82 triliun per Maret 2026, naik 167,64 persen secara tahunan. Perseroan juga mencairkan dividen Rp140 per saham dan tetap menjadi anggota MSCI Global Small Cap setelah rebalancing Mei 2026.
JPFA mencatat laba bersih Rp1,82 triliun dan tetap masuk MSCI Small Cap setelah rebalancing Mei 2026 (Foto:JPFA)
Emitenhub.com - PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membukukan laba bersih Rp1,82 triliun per 31 Maret 2026. Angka tersebut melonjak 167,64 persen dari Rp680,42 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Laba per saham dasar ikut naik menjadi Rp156 dari sebelumnya Rp59.
Penjualan bersih JPFA mencapai Rp17,71 triliun, meningkat 23,58 persen dari Rp14,33 triliun. Beban pokok penjualan naik menjadi Rp13,19 triliun dari Rp11,63 triliun. Laba kotor tercatat Rp4,52 triliun, tumbuh 68,03 persen dari Rp2,69 triliun pada periode yang sama tahun 2025.
Beban penjualan dan pemasaran mencapai Rp752,19 miliar dari sebelumnya Rp624,29 miliar. Beban umum dan administrasi naik menjadi Rp1,15 triliun dari Rp951,67 miliar. Kerugian dari perubahan nilai wajar aset biologis bertambah menjadi Rp5,15 miliar dari Rp2,27 miliar. Pendapatan lainnya tercatat Rp159,35 miliar.
Beban lainnya meningkat menjadi Rp171,43 miliar dari Rp35,39 miliar. Laba usaha JPFA mencapai Rp2,59 triliun, naik tajam dari Rp1,14 triliun. Pendapatan keuangan tumbuh menjadi Rp27,05 miliar dari Rp12,93 miliar, sedangkan biaya keuangan naik menjadi Rp207,44 miliar dari Rp177,42 miliar. Bagian laba bersih pada ventura bersama mencapai Rp64,63 miliar dari sebelumnya Rp2,34 miliar.
Laba tahun berjalan tercatat Rp1,94 triliun, meningkat 158,66 persen dari Rp754,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Ekuitas naik menjadi Rp22,02 triliun dari Rp20,02 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Total liabilitas turun menjadi Rp17,3 triliun dari Rp20,04 triliun, sementara jumlah aset tercatat Rp39,33 triliun dari Rp40,06 triliun pada akhir 2025.
Dividen JPFA Rp140 per Saham Cair Besok
JPFA akan mencairkan dividen tunai Rp140 per saham untuk tahun buku 2025 pada besok. Keputusan tersebut sesuai hasil RUPS Tahunan pada 29 April 2026. Total dividen mencapai Rp1,62 triliun atau setara 40,68 persen dari laba bersih 2025 yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp4 triliun. Dengan harga saham Rp2.420 pada Selasa, 12 Mei 2026, dividend yield JPFA tercatat 5,78 persen.
Corporate Secretary JPFA, Maya Pradjono, menyampaikan jadwal pembagian dividen dimulai dari cum dividen pasar reguler dan negosiasi pada 8 Mei 2026. Ex dividen pasar reguler dan negosiasi berlangsung pada 11 Mei 2026. Cum dividen pasar tunai ditetapkan pada 12 Mei 2026, sedangkan ex dividen pasar tunai pada 13 Mei 2026.
Recording date ditetapkan pada 12 Mei 2026 pukul 16.00 WIB. Pembayaran dividen akan dilakukan pada 19 Mei 2026. Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, JPFA mencatat saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp15,41 triliun dengan total ekuitas Rp20,01 triliun.
JPFA Bertahan di MSCI Small Cap
Setelah rebalancing edisi Mei 2026, MSCI merilis daftar terbaru yang mencakup 11 saham dalam Global Standard dan 43 saham dalam Global Small Cap. JPFA menjadi salah satu emiten yang tetap tergabung dalam MSCI Global Small Cap bersama 42 saham lainnya.
Perubahan komposisi indeks tersebut akan efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Manajer investasi pasif yang mengikuti indeks MSCI umumnya melakukan penyesuaian portofolio pada periode akhir menjelang tanggal efektif.
MSCI Global Standard Index
Saham big caps yang bertahan dalam MSCI Global Standard Index antara lain Astra International (ASII), Bank Central Asia (BBCA), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Bumi Resources Minerals (BRMS), Barito Pacific (BRPT), Charoen Pokphand Indonesia (CPIN), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Telkom Indonesia (TLKM), dan United Tractors (UNTR).
Segmen MSCI Small Cap Index
Emiten yang bertahan di segmen MSCI Small Cap Index antara lain Alamtri Resources Indonesia (ADRO), Andalan Indonesia (AADI), AKR Corporindo (AKRA), Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), Bank Jago (ARTO), Avian Brands (AVIA), Bank Tabungan Negara (BBTN), BFI Finance (BFIN), Bukalapak (BUKA), Bumi Resources (BUMI), Cisarua Mountain Dairy (CMRY), Ciputra Group (CTRA), Elang Mahkota Teknologi (EMTK), Essa Industries Indonesia (ESSA), Energi Mega Persada (ENRG), dan XL Smart (EXCL).
Daftar lain mencakup MD Entertainment (FILM), Gudang Garam (GGRM), Medikaloka Hermina (HEAL), Vale Indonesia (INCO), Indofood Sukses Makmur (INDF), Indah Kiat Pulp & Paper Corp (INKP), Indocement Tunggal Prakarsa (INTP), Indo Tambangraya Megah (ITMG), Japfa Comfeed Indonesia (JPFA), Jasa Marga (JSMR), Kalbe Farma (KLBF), MNC Land (KPIG), MAP Aktif Adiperkasa (MAPA), dan Mitra Adiperkasa (MAPI).
MSCI Small Cap Index juga masih dihuni Merdeka Copper Gold (MDKA), Medco Energi Internasional (MEDC), Mitratel (MTEL), Pertamina Gas Negara (PGAS), Bukit Asam (PTBA), Petrosea (PTRO), Pakuwon Jati (PWON), Raharja Energi Cepu (RATU), Rukun Raharja (RAJA), Semen Indonesia (SMGR), Transcoal Pacific (TCPI), Sarana Menara Nusantara (TOWR), dan Solusi Sinergi Digital (WIFI).


