Saham

RLCO Dibuka Kembali, Masuk Papan Pemantauan Khusus usai Lonjakan Tajam

Bursa Efek Indonesia membuka kembali suspensi perdagangan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) pada 24 Desember 2025. Saham emiten sarang burung walet ini masuk papan pemantauan khusus setelah mengalami lonjakan harga signifikan sejak IPO.

2 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Perdagangan saham RLCO di Bursa Efek Indonesia usai suspensi

Pergerakan harga saham RLCO setelah IPO dengan catatan ARA 17 kali beruntun

Emitenhub - Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kembali perdagangan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) di Pasar Reguler dan Pasar Tunai pada Rabu (24/12/2025).

Saham RLCO mulai masuk ke papan pemantauan khusus hari ini. Saham ini baru tercatat di bursa sejak 8 Desember. Jadi, saham ini belum genap satu bulan melantai.

“Dengan ini diumumkan bahwa perdagangan saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) dibuka kembali. Ini mulai sesi I pada tanggal 24 Desember 2025,” tulis pengumuman Bursa, Rabu (24/12/2025).

Saham emiten sarang burung walet tersebut sebelumnya disuspensi lebih dari satu hari bursa berturut-turut pada 22–23 Desember 2025. Dengan kondisi tersebut, RLCO dikenakan notasi X dan diperdagangkan menggunakan skema full-call auction (FCA).

Sebelum disuspensi, saham RLCO mencatatkan auto reject atas (ARA) selama tiga hari berturut-turut dengan kenaikan rata-rata harian 24,80 persen. Bursa juga sempat menghentikan sementara perdagangan saham tersebut pada 16 Desember setelah RLCO mencetak ARA selama lima hari.

Saham RLCO terakhir diperdagangkan di level Rp1.330 pada Jumat (19/12/2025). Sejak penawaran umum perdana (IPO), harga saham RLCO telah melonjak hampir 700 persen dari Rp168 menjadi Rp1.330.

PT Abadi Lestari Indonesia Tbk memecahkan rekor penawaran umum perdana dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscribed) mencapai 134 kali. Pada fase penjatahan terpusat (pooling allotment), tingkat oversubscription bahkan menembus 948 kali.

Perseroan menetapkan harga IPO sebesar Rp168 per saham dan menghimpun dana sekitar Rp105 miliar. Dana hasil IPO tersebut direncanakan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian bahan baku sarang burung walet bagi perseroan dan anak usahanya.

Iklan