Saham

Saham RLCO ARA 17 Kali Beruntun, Harga Melonjak 1.810% Sejak IPO

Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) mencuri perhatian pasar setelah mencatatkan ARA 17 kali berturut-turut sejak IPO Desember 2025. Lonjakan harga saham RLCO ditopang kinerja keuangan yang tumbuh signifikan serta ekspansi agresif ke pasar ekspor.

5 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Pergerakan harga saham RLCO setelah IPO dengan catatan ARA 17 kali beruntun

Pergerakan harga saham RLCO setelah IPO dengan catatan ARA 17 kali beruntun

Emitenhub.com - Saham RLCO tengah menjadi sorotan di pasar saham domestik seiring pergerakan harga saham emiten industri sarang burung walet tersebut yang terus melesat.

Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO) tercatat melonjak sekitar 1.810,17% dibandingkan harga penawaran perdana (initial public offering/IPO) pada 8 Desember 2025.

Tak hanya itu, saham RLCO juga mencetak rekor baru dengan menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) sebanyak 17 kali berturut-turut. Capaian tersebut melampaui rekor sebelumnya yang dipegang saham PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) atau CDIA Group, emiten terafiliasi Prajogo Pangestu, yang sempat mencatatkan 11 kali ARA beruntun.

Emiten industri sarang burung walet yang menetapkan harga IPO sebesar Rp168 per saham tersebut, pada perdagangan Jumat (9/1/2026), mencatatkan harga saham RLCO telah berada di level Rp4.010 per saham.

Mengacu pada Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Desember 2025, Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata, tercatat memiliki 72,5 juta lembar saham RLCO atau setara dengan 2,32% hak suara.

Selain itu, PT Realco Omega tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan kepemilikan sebanyak 2,42 miliar lembar saham atau setara 77,6%.

Lantas, bagaimana prospek saham RLCO serta strategi bisnis emiten konsumer primer yang bergerak di bidang pengolahan sarang burung walet tersebut ke depan?

Direktur Keuangan PT Abadi Lestari Indonesia Tbk., Dwiadi Prastian Hadi, sebelumnya menyampaikan bahwa RLCO memasuki 2026 dengan menyiapkan sejumlah strategi ekspansi agresif.

Perseroan telah menargetkan penggarapan empat pasar ekspor pada tahun ini, seiring dengan rencana peningkatan utilitas pabrik serta tambahan modal kerja yang diperoleh dari hasil penawaran umum perdana.

Dwiadi juga menyatakan optimisme perseroan untuk mencatatkan pertumbuhan pendapatan dobel digit pada 2026. RLCO menargetkan omzet hingga Rp600 miliar pada tahun ini.

“Kalau utilisasi saat ini memang belum sampai 50%. Diharapkan nanti dengan adanya penambahan dana IPO ini kami bisa meningkatkan produksi di atas 60%,” ujar Dwiadi, Senin (8/12/2025).

Optimisme RLCO juga didukung rencana ekspansi ke sejumlah pasar baru di luar negeri. Pada 2026, perseroan akan mengeksplorasi empat negara tambahan, yakni Thailand, Vietnam, Amerika Serikat, dan Filipina.

Ekspor ke Thailand direncanakan mulai kuartal II/2026, sedangkan ke Amerika Serikat pada kuartal IV/2026. Sementara itu, pasar Vietnam telah mulai dijajaki sejak kuartal IV/2025.

Kontribusi pasar ekspor ditargetkan mencapai 80% terhadap total pendapatan perseroan pada 2026. Dengan demikian, RLCO akan menggarap enam pasar ekspor pada tahun tersebut melalui lini produk olahan.

Terkait penggunaan dana IPO, mengacu pada prospektus, seluruh dana yang dihimpun akan digunakan untuk pembelian sarang burung walet sebagai modal kerja. Sebesar 56,33% dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja RLCO, sementara 43,67% disalurkan kepada PT Realfood Winta Asia (RWA) dalam bentuk penyertaan modal. Saat ini, RLCO menguasai 93,75% saham RWA.

Perusahaan yang berbasis di Bojonegoro, Jawa Timur, tersebut berdiri sejak 2014 dan sejak awal berfokus pada kegiatan ekspor sarang burung walet. Produk RLCO saat ini telah dipasarkan ke China, Hong Kong, dan Amerika Serikat.

Dari sisi operasional, RLCO memiliki kapasitas produksi sarang burung walet hingga 32 ton per Mei 2025. Selain itu, melalui anak usaha, perseroan juga memiliki kapasitas produksi sebesar 5,40 juta unit consumer goods jar, 2,52 juta unit jelly, dan 1,29 juta unit powder.

Portofolio produk perseroan saat ini mencakup minuman sarang burung walet, kaldu ayam, suplemen kolagen, hingga produk nutrisi berbasis protein.

“Perseroan tumbuh dari eksportir sarang burung walet menjadi salah satu pemimpin kesehatan konsumen di Indonesia. Sejalan dengan perubahan preferensi konsumen dan kebutuhan kesehatan, perseroan bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk superfood melalui anak usaha,” ujar manajemen dalam prospektus.

Performa Keuangan RLCO

Berdasarkan prospektus dan laporan keuangan periode berjalan yang dikutip dari dataindonesia.id, RLCO membukukan pendapatan bersih sebesar Rp231,32 miliar sepanjang lima bulan pertama 2025. Capaian tersebut melonjak 47,56% dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar Rp156,76 miliar.

Peningkatan pendapatan tersebut berdampak positif terhadap laba kotor yang tumbuh 44,28% menjadi Rp52,78 miliar, dari Rp36,58 miliar pada Mei 2024.

Selain itu, RLCO mencatatkan pendapatan lain-lain sebesar Rp1,72 miliar, meningkat signifikan dibandingkan Rp0,58 miliar pada periode Januari—Mei 2024. Di sisi lain, beban pemasaran tercatat sebesar Rp1,43 miliar, turun 76,28% dari Rp6,02 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp14,56 miliar, lebih tinggi dibandingkan Rp12,58 miliar pada 2024. Beban pendanaan juga meningkat menjadi Rp17,08 miliar dari Rp12,48 miliar, sedangkan beban lain-lain mencapai Rp2,80 miliar.

Meski demikian, peningkatan pendapatan yang ditopang segmen sarang burung olahan turut mendorong lonjakan laba bersih RLCO sebesar 608,29% menjadi Rp12,34 miliar, dari Rp1,74 miliar pada periode yang sama 2024.

Dari sisi struktur pendapatan, mayoritas kontribusi RLCO hingga Mei 2025 berasal dari segmen sarang burung olahan sebesar Rp204,67 miliar atau setara 88,48% dari total pendapatan. Nilai tersebut meningkat 46,76% dibandingkan Rp139,46 miliar pada Mei 2024.

Sementara itu, segmen produk konsumen menyumbang pendapatan sebesar Rp26,65 miliar atau 11,52% dari total penjualan. Angka tersebut tumbuh 54,02% dibandingkan Rp17,30 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi neraca, total aset RLCO tumbuh 7,66% menjadi Rp685,77 miliar per Mei 2025, dibandingkan Rp636,97 miliar pada Desember 2024. Total aset tersebut terdiri atas aset lancar sebesar Rp569,77 miliar dan aset tidak lancar Rp116 miliar.

Pada saat yang sama, total liabilitas tercatat turun 10,97% menjadi Rp509,25 miliar. Liabilitas tersebut terdiri dari liabilitas jangka pendek sebesar Rp477,97 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp31,29 miliar. Sementara itu, ekuitas RLCO melonjak signifikan 171,74% menjadi Rp176,52 miliar dari Rp64,96 miliar pada akhir 2024.

Iklan