Investor Kakap Ramai Jual Saham BUMI, UBS dan Chengdong Pangkas Kepemilikan
Sejumlah investor institusi besar, termasuk UBS AG dan Chengdong Investment Corporation, tercatat aktif melepas saham PT Bumi Resources Tbk sepanjang 2025. Meski aksi jual berlanjut, saham BUMI tetap mencatat lonjakan tajam secara year to date dengan nilai transaksi bulanan memecahkan rekor tertinggi dalam satu dekade.
Pergerakan saham Bumi Resources Tbk BUMI di perdagangan bursa (Foto:BUMI)
Emitenhub.com - Sejumlah investor besar tercatat aktif melepas saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sepanjang 2025. Aksi jual ini melibatkan emiten pertambangan yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Grup Salim.
Terbaru, UBS AG tercatat menjual ratusan juta lembar saham BUMI. Informasi tersebut tercermin dalam laporan kepemilikan saham yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berdasarkan laporan tersebut, UBS AG London melepas sebanyak 627,35 juta saham BUMI pada 15 Desember 2025 dengan harga transaksi Rp366 per saham. Dari aksi tersebut, bank investasi global itu meraup dana sekitar Rp229,61 miliar.
Dengan transaksi tersebut, kepemilikan saham UBS AG di BUMI turun menjadi 21,89 miliar saham atau setara 5,89 persen hak suara. Sebelumnya, UBS AG masih menguasai 22,52 miliar saham atau sekitar 6,06 persen hak suara.
Dalam keterangannya, UBS menegaskan bahwa penjualan saham tersebut tidak terkait perubahan pengendalian, melainkan dilakukan untuk keperluan lindung nilai derivatif klien (client derivative hedging).
“UBS menjual saham untuk aktivitas lindung nilai derivatif klien,” demikian penjelasan UBS AG terkait tujuan transaksi saham BUMI tersebut.
UBS juga menyatakan tetap berstatus sebagai pemegang saham pengendali dan berniat mempertahankan pengendalian atas emiten batu bara tersebut.
Transaksi tersebut diklasifikasikan sebagai penjualan tidak langsung, dengan kepemilikan dilaporkan oleh UBS AG London sebagai bagian dari kelompok terorganisasi UBS yang mencakup UBS AG Hong Kong, UBS AG Singapore Branch, dan UBS Switzerland AG.
Dalam catatan Bisnis, UBS AG tercatat berulang kali melepas ratusan juta hingga miliaran saham BUMI dalam beberapa bulan terakhir, meski sempat kembali menambah kepemilikan. Pola transaksi tersebut menunjukkan dinamika keluar-masuk investor institusi pada saham emiten batu bara tersebut.
Pada 11 September 2025, UBS tercatat menjual 105,42 juta saham BUMI dengan harga Rp108,26 per saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp11,4 miliar. Aksi tersebut menurunkan porsi kepemilikan UBS dari 7,02 persen menjadi 6,99 persen.
Tak lama berselang, UBS kembali mengakumulasi saham Bumi Resources. Pada 22 September 2025, UBS membeli 421,36 juta saham BUMI di harga Rp119,10 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp50,2 miliar, sehingga kepemilikannya meningkat dari 6,95 persen menjadi 7,06 persen.
Namun, strategi tersebut kembali berbalik pada 9 Oktober 2025 ketika UBS melepas 588,91 juta saham BUMI di harga Rp146,53 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp86,3 miliar. Dampaknya, porsi kepemilikan UBS kembali turun ke level 6,92 persen.
Memasuki November 2025, aktivitas transaksi UBS di saham BUMI meningkat signifikan, baik dari sisi volume maupun nilai. Aksi akumulasi dan distribusi terjadi dalam waktu relatif singkat.
Pada 11 November 2025, UBS tercatat memborong 2,29 miliar saham BUMI dengan harga Rp182,20 per saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp416,9 miliar. Langkah tersebut mendorong porsi kepemilikan UBS naik menjadi 7,61 persen.
Tiga hari kemudian, tepatnya 14 November 2025, UBS kembali menambah 2,92 miliar saham BUMI di harga Rp197,72 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp578 miliar. Kepemilikannya pun sempat menembus 8,10 persen.
Namun, fase akumulasi tersebut tidak berlangsung lama. Pada 17 November 2025, UBS melakukan penjualan besar-besaran sebanyak 3,57 miliar saham di harga Rp226,59 per saham dengan nilai transaksi diperkirakan Rp808,7 miliar, sehingga kepemilikannya turun dari 8,05 persen menjadi 7,09 persen.
Tekanan jual berlanjut pada 20 November 2025 ketika UBS kembali melepas 769,45 juta saham di harga Rp228,99 per saham atau senilai Rp176,2 miliar. Kepemilikannya kembali menyusut menjadi 6,90 persen.
Rangkaian transaksi tersebut berlanjut hingga 15 Desember 2025 sebagaimana dipaparkan sebelumnya, sehingga kepemilikan UBS AG di saham emiten pertambangan batu bara ini tersisa 5,89 persen.
Strategi Chengdong di Pasar Saham BUMI
Aksi jual saham BUMI juga dilakukan oleh Chengdong Investment Corporation yang melanjutkan distribusi kepemilikan memasuki Desember 2025.
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang dikutip Jumat (5/12/2025), Chengdong melepas 84,76 juta saham BUMI pada 2 Desember 2025. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Chengdong menyusut menjadi 25,98 miliar saham atau setara 7 persen.
Sebelumnya, melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Chengdong melaporkan penjualan sebanyak 3,71 miliar saham BUMI dalam periode 19–28 November 2025. Rangkaian transaksi tersebut dilakukan pada harga rata-rata Rp238,08 per saham.
Manajemen Chengdong menyatakan bahwa persentase hak suara atas saham BUMI pertama kali turun ke level 6,99 persen pada 28 November 2025, setelah penjualan 84.769.000 saham dengan harga rata-rata Rp240,72 per saham.
Adapun status kepemilikan Chengdong atas saham BUMI tercatat sebagai kepemilikan langsung dengan tujuan divestasi.
Berdasarkan catatan Bisnis, rangkaian penjualan saham tersebut tidak merupakan bagian dari repurchase agreement, yakni kesepakatan transaksi efek jangka pendek dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya.
Perseroan juga menyatakan tidak berniat mempertahankan pengendalian, sehingga aksi divestasi saham BUMI oleh Chengdong diperkirakan masih akan berlanjut.
Pergerakan Harga Saham BUMI
Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham BUMI tercatat melemah 4,74 persen pada perdagangan Rabu (24/12/2025) ke level Rp362 per saham.
Meski demikian, kinerja saham perseroan masih menunjukkan penguatan signifikan dalam jangka menengah. Dalam satu bulan terakhir, saham BUMI melesat 64,55 persen, sementara dalam tiga bulan terakhir menguat 158,57 persen, dengan kenaikan sejak awal tahun (year to date/YtD) mencapai 206,78 persen.
Data BEI juga mencatat Bumi Resources masuk dalam jajaran 10 emiten dengan kontribusi terbesar terhadap penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun berjalan. Saham BUMI menempati posisi kedelapan dengan kontribusi sebesar 61,09 poin terhadap penguatan indeks.
Seiring lonjakan harga saham BUMI, nilai transaksi bulanan juga meningkat tajam. Berdasarkan data Bloomberg, total nilai transaksi saham BUMI pada November 2025 mencapai Rp39,53 triliun, melonjak signifikan dibandingkan Rp10,50 triliun pada Oktober 2025.
Penelusuran Bisnis menunjukkan capaian tersebut menjadi rekor tertinggi nilai transaksi saham BUMI dalam 10 tahun terakhir, atau sejak 2015.


