Saham

Internet Rakyat WIFI: Strategi, Investor Besar, dan Lonjakan Saham Teknologi

WIFI melalui proyek Internet Rakyat memperluas akses internet nasional dengan dukungan investor strategis, kolaborasi teknologi, dan ekspansi infrastruktur. Strategi ini turut mendorong kinerja saham dan pertumbuhan bisnis perseroan di sektor telekomunikasi.

9 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Ilustrasi proyek Internet Rakyat WIFI dan ekspansi jaringan telekomunikasi nasional

Ilustrasi proyek Internet Rakyat WIFI dan ekspansi jaringan telekomunikasi nasional

Emitenhub.com - Pasar saham teknologi, khususnya subsektor telekomunikasi di Indonesia, menunjukkan sentimen konstruktif seiring meningkatnya fokus sejumlah emiten pada proyek “Internet Rakyat”, yakni upaya pemerataan akses internet ke wilayah pedesaan dan daerah terpencil. Inisiatif ini didorong oleh besarnya potensi pasar yang belum tergarap optimal serta dukungan dari investor strategis yang melihat peluang jangka panjang di sektor tersebut.

Salah satu emiten teknologi yang aktif menggarap proyek “Internet Rakyat” dan menarik perhatian pasar adalah PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge, bersama entitas anaknya, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Keterlibatan kedua entitas ini menempatkan Surge sebagai pemain yang diperhitungkan dalam pengembangan infrastruktur konektivitas berbasis pemerataan.

Untuk diketahui, terdapat tiga figur yang tercatat sebagai pemegang saham tidak langsung di PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), yakni Hashim S Djojohadikusumo, Arwin Rasyid, dan Fadel Muhammad. Kehadiran nama-nama tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat perhatian pasar terhadap strategi dan arah pengembangan bisnis WIFI.

Permulaan “Internet Rakyat”

Gagasan “Internet Rakyat” mulai mencuat seiring pernyataan manajemen WIFI terkait rencana penyediaan layanan internet berbiaya terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Layanan ini dirancang menggunakan teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA) berbasis Open RAN, yang dinilai lebih fleksibel untuk menjangkau wilayah dengan keterbatasan infrastruktur kabel.

Pada tahap awal, Surge menargetkan fase pra-komersialisasi pada akhir 2025, sebelum memasuki tahap komersialisasi penuh pada awal 2026. Dalam jangka panjang, proyek ini diarahkan untuk mencapai penyebaran hingga 20 ribu titik jaringan pada 2030 sebagai bagian dari strategi pemerataan akses internet nasional.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, Surge menandatangani perjanjian komersial dengan OREX SAI, perusahaan patungan antara NTT DOCOMO dan NEC. Kesepakatan ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum of Understanding (MoU) yang sebelumnya disepakati kedua pihak pada Desember 2024.

Direktur Surge, Shannedy Ong, menyampaikan bahwa kerja sama dengan OREX SAI menjadi langkah strategis bagi perseroan dalam menghadirkan layanan internet berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. Melalui proyek ini, Surge menargetkan penyediaan layanan internet dengan tarif sekitar Rp100 ribu dan kecepatan hingga 100 Mbps.

“Dengan menggandeng OREX SAI dan memanfaatkan teknologi Open RAN yang inovatif, perseroan dapat membangun jaringan yang lebih siap menghadapi kebutuhan jangka panjang serta menjangkau komunitas di wilayah terpencil dan kurang terlayani,” demikian pernyataan manajemen Surge dalam keterangan resmi.

Dalam skema kerja sama ini, Surge bertanggung jawab menyediakan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan untuk implementasi layanan Fixed Wireless Access (FWA). Di sisi lain, OREX SAI berperan menyediakan solusi Open RAN berbasis teknologi 5G FWA yang akan digunakan oleh perseroan.

Presiden & CEO OREX SAI, Hiroshi Kobayashi, menyatakan bahwa solusi 5G FWA berbasis Open RAN tidak hanya meningkatkan efisiensi dan keterjangkauan layanan, tetapi juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi digital nasional. Kerja sama dengan Surge diharapkan mampu menghadirkan konektivitas yang andal bagi jutaan masyarakat.

Kehadiran program “Internet Rakyat” diarahkan untuk memperkecil kesenjangan akses internet di Indonesia, di mana tingkat penetrasi masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan ASEAN. Dalam implementasinya, Surge menawarkan paket layanan internet dengan tarif Rp100 ribu untuk kecepatan hingga 100 Mbps, serta paket Rp250 ribu dengan kecepatan mencapai 500 Mbps.

Mendapatkan Investasi Rp4 Triliun dari Jepang

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) memperoleh investasi strategis senilai Rp4 triliun dari Nippon Telegraph and Telephone East Corporation (NTT East), anak usaha utama NTT Group asal Jepang. Investasi ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat pengembangan infrastruktur telekomunikasi berbasis pemerataan akses.

Dalam kemitraan tersebut, NTT East menanamkan investasi sebesar 49 persen melalui skema kepemilikan saham dan komponen non-tunai di PT Integrasi Jaringan Ekosistem (WEAVE), yang merupakan anak perusahaan Surge. Struktur kerja sama ini dirancang untuk mempercepat pengembangan jaringan broadband nasional.

Kolaborasi dengan NTT East diharapkan mendorong percepatan penyediaan akses broadband yang terjangkau, andal, dan inklusif di berbagai wilayah Indonesia. Pengalaman NTT East selama puluhan tahun dalam membangun, mengelola, dan mengoperasikan infrastruktur serat optik berskala besar menjadi nilai tambah utama dalam kemitraan ini.

Melalui kerja sama tersebut, WEAVE juga memperoleh akses terhadap program alih teknologi, sistem manajemen kualitas, serta standar desain infrastruktur dari NTT East. Dukungan ini ditujukan untuk memastikan keunggulan operasional dalam pembangunan dan pemeliharaan jaringan Fiber-To-The-Home (FTTH) dalam skala besar.

Mengajak Telkom (TLKM) Kembangkan Internet untuk Rakyat

Surge (WIFI) menjalin kerja sama dengan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) dalam pengembangan infrastruktur jaringan serta ekosistem internet nasional atau “Internet Rakyat”. Kolaborasi ini diformalkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) sebagai langkah strategis memperluas sinergi antarpenyedia infrastruktur telekomunikasi.

MoU tersebut bertujuan mempercepat pemerataan akses digital di berbagai wilayah Indonesia dengan memanfaatkan kekuatan infrastruktur dan layanan yang dimiliki masing-masing pihak. Sinergi ini diharapkan mampu menjadi katalis dalam menghadirkan layanan internet yang terjangkau, inklusif, dan berkelanjutan bagi lebih dari 40 juta rumah tangga.

Ruang lingkup kerja sama mencakup pemanfaatan dan pembangunan infrastruktur jaringan metro-ethernet serta IP Transit, penguatan layanan digital berbasis cloud dan messaging, hingga optimalisasi layanan Edge Data Center melalui platform neuCentrIX. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat fondasi ekosistem digital secara menyeluruh.

Selain itu, kerja sama juga meliputi pemanfaatan infrastruktur pasif seperti tiang, tower dan/atau pole, ducting kabel optik, serta dark fiber. Implementasi teknologi FTTX melalui skema Virtual Unbundling Line Access (VULA) turut menjadi bagian dari kesepakatan, bersama penyediaan layanan Managed Service berbasis collaborative network optimization dan integrated monitoring system.

Memenangkan Lelang Frekuensi 1,4 GHz

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) bersama PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyatakan berhasil memenangkan lelang pita frekuensi 1,4 GHz setelah mengajukan penawaran tertinggi di masing-masing regional. Kemenangan ini menjadi langkah penting dalam penguatan kapasitas layanan akses nirkabel pitalebar.

Lelang pita frekuensi untuk layanan Broadband Wireless Access (BWA) tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi Digital (Komdigi) dan dibagi ke dalam tiga regional. Regional I mencakup wilayah Pulau Jawa, Maluku, dan Papua. Regional II meliputi Sumatera dan Bali, sementara Regional III mencakup Kalimantan dan Sulawesi.

Dalam hasil lelang tersebut, WIFI melalui entitas usahanya, PT Telemedia Komunikasi Pratama, memenangkan pita frekuensi 1,4 GHz untuk Regional I. Adapun Regional II dan Regional III dimenangkan oleh DSSA melalui anak perusahaannya, PT Eka Mas Republik.

WIFI berhasil menguasai wilayah yang merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi Indonesia. Dengan dukungan jaringan backbone fiber yang telah terhubung di Pulau Jawa, struktur biaya investasi per pelanggan dinilai dapat ditekan secara signifikan, sehingga memperkuat efisiensi pengembangan layanan.

Surge, melalui merek layanan internet Starlite, keluar sebagai pemenang setelah mengajukan penawaran tertinggi senilai Rp403,8 miliar. Nilai tersebut melampaui dua pesaingnya, yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dengan penawaran Rp399,8 miliar serta PT Eka Mas Republik sebesar Rp331,8 miliar.

Di sisi lain, PT Eka Mas Republik dengan merek MyRepublic berhasil memenangkan dua regional pita frekuensi 1,4 GHz. Untuk Regional II, perusahaan tersebut mengajukan penawaran Rp300,9 miliar, sementara untuk Regional III nilai penawarannya mencapai Rp100,9 miliar.

Penawaran dari perusahaan penyedia layanan internet milik Sinar Mas Group tersebut mengungguli Telkom dan Surge di kedua regional tersebut, sehingga memperoleh hak pemanfaatan spektrum frekuensi mid-band sebagai basis pengembangan layanan akses nirkabel pitalebar.

Tunjukkan Rekan Distributor Produk Internet Rakyat

PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) menjalin kemitraan strategis dengan PT Telemedia Komunikasi Pratama, salah satu anak usaha PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Kerja sama ini menempatkan PADA sebagai Mitra Distributor untuk produk Internet Rakyat (IRA), layanan internet berbiaya terjangkau yang dikembangkan oleh WIFI.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa teknikal dan pemeliharaan telekomunikasi, PADA dipercaya untuk mendukung distribusi sekaligus operasional layanan IRA. Manajemen PADA menilai skema kerja sama ini berpotensi menghadirkan recurring income dari aktivitas pemeliharaan jaringan, yang dinilai dapat memberikan stabilitas finansial serta prospek pertumbuhan jangka panjang bagi perseroan.

Dalam implementasinya, PADA akan mengandalkan kompetensi di bidang jasa teknikal untuk memastikan kualitas instalasi dan pemeliharaan jaringan Internet Rakyat. Di saat yang sama, kapabilitas Jasa Sumber Daya Manusia yang dimiliki PADA juga dioptimalkan untuk mendukung operasional layanan secara berkelanjutan.

Kemitraan ini diharapkan dapat mempercepat penetrasi layanan Internet Rakyat ke wilayah-wilayah yang membutuhkan akses internet, sekaligus memperkuat posisi PADA sebagai penyedia jasa outsourcing di sektor telekomunikasi dan layanan teknikal.

Sebagai informasi tambahan, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) saat ini tengah dalam proses akuisisi saham PADA. Dalam rencana tersebut, INET akan membeli sebanyak 1,68 miliar saham PADA yang dimiliki oleh Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat).

Ringkasan Pergerakan Harga Saham 2025

Pada awal Januari 2025, saham WIFI berada di kisaran Rp407,74 per saham. Seiring berjalannya waktu, pergerakan harga tercatat mengalami tren kenaikan yang cukup konsisten. Memasuki Maret 2025, saham WIFI sempat menyentuh level Rp2.496,19 per saham sebelum mengalami koreksi ke area Rp1.790 pada akhir bulan.

Momentum kenaikan kembali terjadi pada perdagangan Rabu, 15 Oktober 2025, bertepatan dengan kabar kemenangan perseroan dalam lelang pita frekuensi 1,4 GHz. Pada sesi intraday, saham WIFI mencetak level tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) di Rp4.190 setelah menguat lebih dari 6 persen.

Memasuki sesi II perdagangan, pergerakan saham emiten yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo dan mitra tersebut mulai melandai, meski masih bertahan naik sekitar 3 persen di level Rp3.870. Namun, pada penutupan perdagangan di hari yang sama, saham WIFI berbalik terkoreksi tajam sebesar 12,23 persen ke posisi Rp3.300.

Kinerja Finansial sampai September 2025

WIFI membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang sembilan bulan pertama 2025. Emiten subsektor telekomunikasi ini mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp1,01 triliun, melonjak 101 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp504,95 miliar.

Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen telekomunikasi yang mencapai Rp739,44 miliar atau sekitar 73 persen dari total pendapatan. Sementara itu, segmen periklanan menyumbang Rp276,67 miliar atau setara 27,23 persen.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba bruto WIFI meningkat 124 persen menjadi Rp689,5 miliar. Peningkatan ini ditopang oleh beban pokok pendapatan yang relatif terkendali di level Rp325,4 miliar.

Dari sisi operasional, perseroan mampu menjaga efisiensi dengan beban umum dan administrasi sebesar Rp155,4 miliar. Kondisi tersebut mendorong laba usaha tumbuh 127 persen menjadi Rp574,2 miliar, sementara laba bersih periode berjalan naik 71 persen menjadi Rp260 miliar.

Meski demikian, kinerja laba bersih pada kuartal III-2025 tercatat mengalami tekanan di tengah lonjakan pendapatan. Tekanan tersebut terutama dipicu oleh peningkatan beban keuangan yang berasal dari utang obligasi, yang kemudian memicu respons negatif dari pasar.

Meski mengalami koreksi signifikan, secara kumulatif saham WIFI tetap mencatatkan lonjakan harga yang sangat kuat sepanjang 2025, dengan kenaikan mencapai sekitar 705 persen. Pengamat Pasar Modal Michael Yeoh menilai, penurunan tajam pada periode tersebut lebih dipicu oleh dinamika aksi pasar dibandingkan perubahan fundamental perseroan.

“Dimanfaatkan sell on the news oleh market,” ujar Michael.

Secara keseluruhan, WIFI menempati posisi kedua sebagai saham dengan kinerja terbaik di sektor teknologi sepanjang 2025. Hingga 30 Desember 2025 sore, saham WIFI tercatat berada di level Rp3.250 atau tumbuh sekitar 697,08 persen secara tahunan.

Dengan jumlah saham beredar sekitar 5,30 miliar lembar dan harga pasar Rp3.250 per saham, kapitalisasi pasar WIFI tercatat mencapai sekitar Rp17,22 triliun.

Iklan