Saham

Saham CDIA Terbang Tinggi, Ini Prospek, Dividen, dan Aksi Bisnis Chandra Daya Investasi

Saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) mencatat lonjakan signifikan didorong aksi korporasi, pembagian dividen interim, serta ekspansi bisnis lintas sektor. Artikel ini mengulas kinerja keuangan, strategi diversifikasi, hingga prospek pertumbuhan CDIA ke depan.

7 menit membaca
T
Oleh Tim Redaksi EmitenHub
Ilustrasi Chandra Daya Investasi atau pergerakan saham CDIA di Bursa Efek Indonesia

Ilustrasi Chandra Daya Investasi atau pergerakan saham CDIA di Bursa Efek Indonesia Foto:CDIA

Emitenhub.com - Pergerakan harga saham emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) atau CDI Group, menunjukkan tren penguatan yang konsisten. Kinerja positif tersebut mencerminkan respons pasar terhadap berbagai langkah strategis yang telah dijalankan perseroan.

Sejumlah aksi korporasi yang direalisasikan, disertai rencana pengembangan lanjutan, menjadi sentimen pendukung bagi pergerakan saham CDIA. Faktor-faktor tersebut mendorong minat investor dan menjaga momentum kenaikan harga saham dalam beberapa periode terakhir.

Di Bursa Efek Indonesia, saham CDIA sempat diperdagangkan pada kisaran Rp1.685 hingga Rp1.765 per saham, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp212,68 triliun. Valuasi tersebut menempatkan CDIA sebagai salah satu emiten dengan nilai pasar terbesar di bursa.

Dibuka pada level Rp1.690 per saham, CDIA menutup perdagangan di harga Rp1.715 per saham. Dengan posisi tersebut, saham CDIA mencatat lonjakan signifikan sebesar 1.459 poin atau setara 569,92% dalam periode enam bulan terakhir hingga satu tahun, serta menguat 25 poin atau 1,48% secara year-to-date.

Sebagai anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), CDIA terus melakukan manuver strategis untuk memperkuat portofolio bisnis. Ekspansi dilakukan ke berbagai sektor, mulai dari kepelabuhanan, logistik, dan pergudangan, hingga pengembangan bisnis energi baru terbarukan (EBT).

Selain ekspansi usaha, CDIA juga berencana membagikan dividen interim untuk pertama kalinya sejak resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia. Rencana pembagian dividen interim tersebut menjadi salah satu sentimen positif yang turut diperhatikan pelaku pasar.

Manajemen Chandra Daya Investasi dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia menyampaikan bahwa rencana pembagian dividen interim telah diputuskan oleh Direksi dan memperoleh persetujuan dari Dewan Komisaris.

Manajemen CDIA menyampaikan rencana pembagian dividen interim untuk periode tahun buku 2025 sebagai bagian dari komitmen perseroan kepada pemegang saham. Dividen interim yang diputuskan sebesar Rp1,34 per saham.

Dividen tersebut bersumber dari laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2025, dengan nilai mencapai US$67,84 juta. Pada saat yang sama, perseroan juga mencatat saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar US$78,4 juta serta total ekuitas mencapai US$995,99 juta.

Dari sisi pandangan analis, BCA Sekuritas turut memberikan sentimen positif terhadap prospek pertumbuhan CDIA. Emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu ini dinilai memiliki ruang ekspansi yang solid seiring penguatan portofolio bisnis dan strategi jangka panjang yang terus dijalankan.

Analis BCA Sekuritas, Muhammad Fariz, memproyeksikan pertumbuhan yang signifikan bagi CDIA dalam beberapa tahun mendatang. Dalam proyeksinya, pendapatan CDIA diperkirakan dapat menembus US$523 juta pada 2029, seiring penguatan fundamental bisnis perseroan.

Menurut Fariz, CDIA tengah mendorong diversifikasi sumber pendapatan guna memperkuat arus kas ke depan. Langkah ini dinilai penting mengingat saat ini sebagian besar pendapatan perseroan masih bertumpu pada sektor energi.

Berdasarkan laporan keuangan hingga kuartal III/2025, kontributor terbesar pendapatan CDIA berasal dari penjualan daya listrik dan jasa kelistrikan lainnya yang mencapai US$68,23 juta, tumbuh 13,85% secara tahunan. Segmen kelistrikan tersebut menyumbang sekitar 65,09% terhadap total pendapatan perseroan.

Kontributor pendapatan terbesar berikutnya berasal dari jasa sewa kapal dengan nilai US$24,67 juta, meningkat tajam dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, CDIA juga membukukan pendapatan dari penjualan bahan bakar serta sewa tangki dan dermaga, masing-masing sebesar US$7,72 juta dan US$4,19 juta.

Dalam horizon tiga hingga lima tahun ke depan, CDIA menargetkan struktur pendapatan yang lebih seimbang. Komposisi pendapatan diarahkan berasal dari sektor energi sebesar 47%, pelabuhan dan penyimpanan 40%, serta logistik sekitar 13%.

Strategi diversifikasi tersebut akan dipercepat melalui monetisasi aset yang berada dalam ekosistem Grup Chandra Asri, sekaligus memperluas basis pelanggan ke pihak ketiga. Pendekatan ini dinilai mampu membentuk portofolio bisnis yang lebih seimbang, dengan kombinasi aset berkarakter pertumbuhan dan aset defensif.

Sejalan dengan upaya penyeimbangan pendapatan, analis memproyeksikan pertumbuhan pendapatan CDIA yang berkelanjutan. Pendapatan diperkirakan mencapai US$401 juta pada 2026, meningkat menjadi US$510 juta pada 2027, dan berlanjut ke level US$519 juta pada 2028.

Proyeksi kinerja laba juga menunjukkan tren positif. Laba bersih CDIA diperkirakan dapat mencapai US$79 juta pada 2026, meningkat menjadi US$109 juta pada 2027, US$123 juta pada 2028, dan US$129 juta pada 2029.

BCA Sekuritas menilai CDIA memiliki sejumlah katalis yang berpotensi mendorong kinerja secara signifikan. Dari sisi operasional, CDIA disebut mampu melayani lebih dari 1.800 pelanggan. Selain itu, keberadaan fasilitas terpadu di kawasan industri Cilegon, yang didukung infrastruktur energi, air, pelabuhan dan penyimpanan, hingga logistik, menjadi keunggulan kompetitif yang memperkuat prospek jangka panjang perseroan.

Selain faktor fundamental internal, keterkaitan CDIA dengan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebagai entitas holding turut menjadi daya tarik tersendiri bagi perseroan. Sinergi dalam grup dinilai memperkuat posisi CDIA dalam pengembangan bisnis jangka panjang.

Aliansi strategis dengan sejumlah pelaku industri nasional maupun global, termasuk Salim Group dan Krakatau Steel, juga disebut mampu memperkokoh fondasi pertumbuhan CDI Group. Kolaborasi tersebut memberikan dukungan dari sisi jaringan bisnis, akses pasar, serta penguatan ekosistem usaha yang berkelanjutan.

Strategi Bisnis CDIA

Chandra Daya Investasi terus melakukan langkah strategis untuk memperkuat portofolio bisnisnya di berbagai lini. Melalui anak usaha di pilar logistik, PT Chandra Shipping International (CSI), perseroan menambah armada kapal logistik kimia cair berkapasitas 9.000 deadweight tonnage (DWT) yang diberi nama Novah.

Kapal tersebut direncanakan beroperasi untuk melayani rute domestik maupun internasional. Penambahan armada ini juga menjadi bagian dari dukungan CDIA terhadap agenda hilirisasi industri kimia yang dijalankan oleh Chandra Asri Group sebagai induk usaha.

Di sektor kepelabuhan dan penyimpanan, CDIA meresmikan pembangunan fasilitas tangki bitumen dengan kapasitas total 12.000 meter kubik yang dikelola oleh PT Redeco Petrolin Utama (RPU). Fasilitas ini diharapkan dapat memperkuat layanan penyimpanan dan distribusi produk energi serta turunannya.

Ekspansi juga dilakukan di sektor pergudangan melalui pembelian lahan di kawasan Cilegon, Banten, yang akan dikembangkan untuk mendukung bisnis logistik dan penyimpanan perseroan. Langkah ini sejalan dengan strategi memperluas ekosistem layanan terpadu di kawasan industri.

Pada lini pelayaran, CDIA meningkatkan kepemilikan saham di dua anak usaha, yakni PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT Marina Indah Maritim (MIM). Aksi ini bertujuan memperkuat kendali operasional serta meningkatkan kontribusi segmen pelayaran terhadap kinerja grup.

Sementara itu, di sektor energi baru terbarukan, CDIA melalui PT Krakatau Chandra Energi (KCE) telah mengoperasikan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 4,7 megawatt-peak (MWp) di Cilegon. Kehadiran fasilitas ini menandai langkah perseroan dalam memperluas portofolio energi bersih sekaligus mendukung transisi energi jangka panjang.

Sebagai gambaran, CDI Group merupakan entitas khusus di bawah Chandra Asri Group yang berfokus pada investasi dan pengelolaan aset infrastruktur strategis. Cakupan bisnisnya meliputi sektor energi, air, kepelabuhanan, penyimpanan, hingga logistik.

Saat ini, CDIA mengelola portofolio infrastruktur dengan skala yang cukup besar. Aset tersebut mencakup pembangkit listrik berkapasitas total 320 MW, fasilitas pengolahan air dengan kapasitas 4.874 liter per detik, dua jetty, fasilitas tangki penyimpanan dengan kapasitas gabungan 130.000 meter kubik, serta sembilan armada kapal dengan ukuran antara 5.000 hingga 8.600 deadweight tonnage (DWT).

Berdasarkan informasi resmi perseroan, salah satu aset utama CDIA adalah PT Krakatau Chandra Energi (KCE). Entitas ini mengoperasikan pembangkit listrik berkapasitas 120 MW yang melayani kebutuhan energi internal perusahaan, sektor industri, serta kawasan perumahan di Cilegon.

Strategi pertumbuhan CDIA bertumpu pada pengembangan proyek-proyek strategis di kawasan industri Cilegon, didukung oleh kontrak jangka panjang dengan pelanggan bereputasi. Pendekatan ini memberikan visibilitas pendapatan sekaligus menopang stabilitas bisnis dalam jangka panjang.

Kawasan industri Cilegon ditempatkan sebagai pusat operasional utama CDIA. Melalui KCE, perseroan telah memasok listrik kepada lebih dari 216 pelanggan industri dan sekitar 1.600 pelanggan rumah tangga di wilayah tersebut. KCE mengoperasikan pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) berkapasitas 120 MW serta pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 2,2 MWp, yang terhubung dengan jaringan distribusi tegangan tinggi hingga rendah di Kawasan Industri Krakatau.

Dari sisi kinerja keuangan, CDIA membukukan laba bersih sebesar US$77,60 juta hingga kuartal III/2025. Capaian tersebut melonjak signifikan dibandingkan laba bersih sebesar US$21,19 juta pada periode sembilan bulan pertama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, pendapatan perseroan tercatat mencapai US$104,82 juta, tumbuh 41,97% secara tahunan.

Pada sisi neraca, total aset CDIA meningkat menjadi US$1,60 miliar pada kuartal III/2025. Angka tersebut naik 48,08% dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar US$1,08 miliar, didorong oleh kenaikan liabilitas dan penguatan ekuitas perseroan.

Liabilitas CDIA tercatat sebesar US$449,58 juta, meningkat dari US$328,35 juta pada akhir 2024. Sementara itu, ekuitas perseroan melonjak lebih tinggi menjadi US$1,15 miliar dari sebelumnya US$752,18 juta. Peningkatan ekuitas tersebut terutama dipengaruhi oleh adanya suntikan modal dari Chandra Asri Group dan EGCO Group dengan total nilai mencapai US$185 juta.

Iklan