Kinerja PSAB Melonjak, Utang Menyusut, Saham Emas Ini Masih Murah?
PSAB mencatat lonjakan kinerja keuangan seiring kenaikan harga emas dan perbaikan struktur utang. Artikel ini mengulas target penjualan, valuasi saham, aksi korporasi, serta daya tarik PSAB dibandingkan emiten emas lainnya.
Kinerja dan valuasi saham PSAB emiten tambang emas
Emitenhub.com - Emiten tambang emas, PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) menetapkan target yang relatif moderat sembari fokus pada pembenahan struktur keuangan. Hingga akhir 2025, emiten tambang milik Jimmy Budiarto tersebut menargetkan penjualan sebesar US$286,38 juta atau setara sekitar Rp4,80 triliun dengan asumsi kurs JISDOR Rp16.790 per dolar AS.
Target penjualan emas PSAB disusun dengan asumsi harga jual rata-rata US$3.300 per troy ounce dan target produksi sepanjang periode tersebut sebesar 86.000 ounce. Dengan proyeksi tersebut, perseroan memperkirakan pendapatan dapat tumbuh sekitar 21,34% secara tahunan (year on year/YoY).
Direktur PSAB Sanjaya menjelaskan, proyeksi tersebut mengindikasikan potensi pendapatan di kisaran US$286 juta. Dengan asumsi struktur biaya tunai yang ada, perseroan memperkirakan mampu menghasilkan EBITDA sekitar US$137 juta hingga US$138 juta.
Lebih lanjut, Sanjaya menilai kenaikan harga emas yang signifikan pada paruh kedua 2025 memberikan dampak positif terhadap kondisi keuangan perseroan. Faktor tersebut menjadi salah satu pendorong optimisme manajemen dalam mencatatkan kinerja yang lebih solid sepanjang 2025.
Untuk periode berikutnya, Sanjaya menyampaikan bahwa PSAB memasang target penjualan yang relatif sejalan dengan capaian sebelumnya, yakni di kisaran 85.000–90.000 ounce. Target tersebut mencerminkan pendekatan yang berhati-hati di tengah fokus perseroan pada penguatan fundamental keuangan.
PSAB menilai prospek kinerja keuangan tetap berada dalam jalur perbaikan, seiring dengan proyeksi kenaikan harga emas. Sanjaya menjelaskan, apabila harga emas bergerak ke level 4.400 dan digunakan sebagai asumsi harga rata-rata tahunan, maka terdapat selisih yang cukup signifikan dibandingkan rata-rata harga jual PSAB yang berada di kisaran US$3.300 per troy ounce.
Menurutnya, selisih tersebut berpotensi menciptakan tambahan arus kas bagi perseroan. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa struktur biaya, termasuk kewajiban royalti sebesar 16%, tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan, di mana pada harga US$4.400 per ounce, nilai royalti dapat mencapai sekitar US$700 per ounce.
PSAB menilai kebijakan bea keluar untuk ekspor emas tidak menjadi risiko yang mengganggu kinerja perseroan. Hal ini disebabkan PSAB tidak terikat kontrak eksklusif, sehingga memiliki fleksibilitas untuk menjual produk emas kepada berbagai pihak, termasuk pembeli utama di dalam negeri seperti Antam.
Sebagai konteks, Kementerian Keuangan menetapkan bea keluar ekspor produk emas dengan tujuan menjaga ketersediaan bahan baku domestik, mendorong percepatan hilirisasi, serta meningkatkan penerimaan negara. Kebijakan tersebut dirancang untuk memperkuat pasokan emas di dalam negeri.
Kebijakan bea keluar ini juga selaras dengan pengembangan bank emas atau bullion bank di Indonesia, yang berpotensi meningkatkan kebutuhan emas domestik. Dalam kerangka tersebut, instrumen bea keluar diposisikan sebagai upaya untuk mendukung kesinambungan suplai emas nasional.
Dari sisi keuangan, PSAB terus mengupayakan penurunan beban utang, salah satunya melalui aksi pelepasan anak usaha. Perseroan telah menyepakati penjualan saham anak usahanya, PT J Resources Nusantara (JRN), di PT Arafura Surya Alam (ASA) sebanyak 2.331.139 lembar saham atau setara 99,99% kepada PT Danusa Tambang Nusantara (DTN), anak usaha PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Selain itu, anak usaha UNTR lainnya, PT Energia Prima Nusantara (EPN), turut menandatangani perjanjian dengan pemegang saham individu Jimmy Budiarto untuk membeli 0,00004% saham ASA serta 0,2% saham PT Mulia Bumi Persada (MBP).
Seluruh perjanjian jual beli tersebut telah dilaksanakan pada 12 September 2025, dengan nilai transaksi yang mencerminkan enterprise value sekitar US$540 juta. Nilai tersebut mencakup pembelian saham sekaligus pengalihan utang pemegang saham JRN di ASA.
Direktur PSAB Sanjaya menjelaskan bahwa sebagian besar dana yang diperoleh dari aksi korporasi tersebut dialokasikan untuk pembayaran utang. Berdasarkan materi public expose, PSAB memperkirakan total utang perseroan pada akhir 2025 turun menjadi sekitar US$248,86 juta, atau berkurang US$73,46 juta dibandingkan posisi per Desember 2024.
Perfoma dan Valuasi PSAB
Dari lantai bursa, saham PSAB bergerak di kisaran harga Rp565–595. Pergerakan tersebut melanjutkan tren positif yang terbentuk seiring dengan penguatan harga emas, yang turut menopang sentimen terhadap saham emiten tambang emas.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan emiten emas lainnya, valuasi PSAB dinilai masih relatif menarik. Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, PSAB memiliki price earning ratio (P/E) sebesar 28,49 kali dan price book value (PBV) sebesar 1,99 kali.
Tingkat valuasi tersebut terpaut cukup jauh dibandingkan dengan emiten emas lain. Sebagai perbandingan, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) tercatat memiliki P/E sebesar 211,74 kali dengan PBV mencapai 9,81 kali.
Dari sisi kinerja, PSAB mencatatkan penjualan sebesar US$221,59 juta pada sembilan bulan pertama 2025. Penjualan emas dan perak perseroan tersebut meningkat 27,45% dibandingkan periode yang sama sebelumnya yang tercatat sebesar US$173,86 juta.
Metalor Technologies Singapore Pte., Ltd. tercatat sebagai pembeli terbesar produk PSAB dengan nilai transaksi mencapai US$209,92 juta, tumbuh 39,94% secara tahunan (year on year/YoY). Nilai tersebut setara dengan sekitar 94,73% dari total penjualan emas dan perak perseroan.
Selain Metalor, PSAB juga mencatatkan penjualan kepada Beijing Fuhaihua Import and Export Corp Ltd serta Kewangsa Group Sdn Bhd. Sementara itu, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang pada kuartal III/2024 menyumbang penjualan sebesar US$15,82 juta, tidak lagi tercatat sebagai pembeli pada kuartal III/2025.
Peningkatan penjualan PSAB tersebut diikuti oleh kenaikan beban pokok penjualan. Namun, laju pertumbuhan beban pokok tercatat lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan, sehingga memberikan ruang perbaikan pada margin.
Beban pokok penjualan PSAB tercatat sebesar US$88,60 juta, meningkat 14,46% YoY. Dengan struktur biaya tersebut, laba kotor perseroan mencapai US$134,99 juta atau tumbuh 37,46% secara tahunan.
Setelah memperhitungkan beban umum dan pajak, PSAB membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$25,80 juta. Capaian tersebut melonjak 478,74% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan laba bersih sebesar US$4,45 juta pada periode yang sama sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset PSAB tercatat sebesar US$854,17 juta pada September 2025, sedikit menurun dibandingkan posisi US$866,71 juta pada akhir 2024. Penurunan aset ini terutama dipengaruhi oleh berkurangnya liabilitas perseroan.
Liabilitas PSAB turun menjadi US$412,57 juta dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar US$464,22 juta. Seiring dengan penurunan kewajiban tersebut, ekuitas PSAB justru meningkat menjadi US$441,59 juta per September 2025, naik dari US$402,48 juta pada akhir 2024.


