Saham

Prospek Saham RMKE Menguat: Logistik Batu Bara Terintegrasi Jadi Mesin Pertumbuhan

PT RMK Energy Tbk (RMKE) menunjukkan penguatan fundamental seiring transformasi menjadi pemain logistik batu bara terintegrasi. Ekspansi hauling road, peningkatan kapasitas, serta struktur keuangan yang solid membuka ruang pertumbuhan berkelanjutan bagi kinerja dan saham RMKE.

4 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Prospek saham RMKE didukung bisnis logistik batu bara terintegrasi

Fasilitas logistik batubara PT RMK Energy Tbk di Sumatera Selatan (Foto:RMKE)

Emitenhub.com - PT RMK Energy Tbk (RMKE) menargetkan peningkatan volume coal services secara bertahap, dari sekitar 8 juta ton pada 2025 menjadi lebih dari 12 juta ton pada 2026. Strategi ini mencerminkan fokus perseroan pada pertumbuhan volume yang terukur dan berkelanjutan.

Seiring dengan ekspansi kapasitas dan belanja modal yang dikendalikan, RMKE memperkirakan pendapatan dapat mencapai sekitar Rp4,1 triliun dengan laba bersih di kisaran Rp800 miliar pada 2026. Proyeksi tersebut menunjukkan potensi penguatan kinerja keuangan sejalan dengan peningkatan skala operasional.

Selain itu, perseroan menargetkan penambahan 2–3 pelanggan baru pada 2026. Target tersebut mencakup peluang kontrak berskala besar seiring selesainya jalur hauling yang terhubung dengan tambang PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta pengembangan kontrak eksisting agar terintegrasi dengan tambang-tambang lainnya.

Manajemen juga menegaskan komitmen terhadap pengembalian nilai bagi pemegang saham. Dengan posisi kas di atas Rp250 miliar dan kinerja yang terus membaik, RMKE menargetkan pembagian dividen dengan rasio minimum 20 persen. Nilai dividen diperkirakan dapat melampaui Rp40 miliar dan lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, sehingga diharapkan memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi pemegang saham.

Sementara itu, saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) ditutup menguat di level Rp6.775 per saham. Dalam 12 bulan terakhir, harga saham RMKE mencatatkan lonjakan signifikan dari kisaran Rp486–Rp500 hingga sempat menyentuh level tertinggi Rp6.800 per saham, atau naik lebih dari 1.000 persen secara year-on-year (YoY).

Kinerja saham yang impresif tersebut sejalan dengan penguatan fundamental bisnis logistik batu bara yang menjadi tulang punggung perseroan, khususnya dari pertumbuhan volume layanan dan peningkatan skala operasional yang berkelanjutan.

RMKE terus memperkuat ekosistem operasional melalui integrasi hauling road yang menghubungkan area tambang langsung ke fasilitas angkutan utama. Infrastruktur ini semakin strategis seiring dengan penerapan larangan pengangkutan batu bara melalui jalan umum di Sumatera Selatan mulai 2026, yang secara struktural memperbesar peran jalur hauling khusus dan moda kereta api sebagai tulang punggung distribusi.

Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka menengah dan persiapan menuju 2026, RMKE telah menuntaskan pembangunan hauling road baru yang terhubung dengan tiga pelanggan, yaitu PT Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL), PT Duta Bara Utama (DBU), dan Menambang Muara Enim (MME).

Ketiga pelanggan tersebut berpotensi menambah volume baru sekitar 3 juta ton pada 2026. Untuk mengimbangi pertumbuhan volume yang signifikan, perseroan juga merencanakan peningkatan kapasitas infrastruktur melalui pembangunan container yard baru yang menggandakan kapasitas loading station dari 4 juta ton menjadi 8 juta ton per tahun, serta ekspansi kapasitas pelabuhan dari 20 juta ton menjadi 28 juta ton per tahun.

Dari sisi kinerja keuangan, penguatan operasional mulai tercermin pada kuartal III-2025, ketika RMKE membukukan operating revenue sebesar Rp546,7 miliar atau tumbuh 5,7 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan mulai berjalannya ekspansi operasional terhadap pendapatan perseroan.

Kontribusi pendapatan tercatat relatif berimbang, dengan segmen coal sales menyumbang 53,5 persen dan coal services sebesar 46,5 persen. Komposisi tersebut mencerminkan keberhasilan perseroan dalam mendiversifikasi sumber pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu lini usaha.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, RMKE membukukan laba bersih usaha sebesar Rp138,2 miliar, di mana sekitar 81,2 persen berasal dari segmen jasa. Struktur laba ini menegaskan peran jasa logistik sebagai kontributor utama profitabilitas.

CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menilai penguatan kinerja RMKE ditopang oleh model bisnis yang semakin terintegrasi serta visibilitas pertumbuhan yang lebih jelas ke depan.

Bernadus menilai RMKE tidak lagi semata bergantung pada penjualan batu bara, melainkan telah bertransformasi menjadi pemain logistik terintegrasi dengan dukungan infrastruktur hauling road dan pelabuhan yang solid. Transformasi ini dinilai memberikan stabilitas pendapatan sekaligus membuka ruang pertumbuhan berkelanjutan, terutama di tengah pengetatan regulasi angkutan batu bara.

Untuk mendukung ekspansi ke depan, RMKE juga merencanakan kelanjutan penerbitan obligasi pada Februari 2026 dengan target penghimpunan dana sekitar Rp600 miliar. Instrumen pendanaan ini diharapkan memiliki kupon yang lebih kompetitif dibandingkan penerbitan sebelumnya.

Melalui penerbitan obligasi tersebut, RMKE tetap menjaga rasio utang atau debt to equity ratio (DER) di kisaran 0,6 kali serta memenuhi ketentuan kredit yang berlaku. Tingkat leverage ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan perusahaan infrastruktur lainnya, sehingga memberikan ruang finansial yang relatif longgar untuk ekspansi lanjutan.

Iklan