Prospek Saham BIPI 2026: Strategi Batu Bara, WtE & LNG Setelah Naik 100%
Pergerakan saham BIPI mencuri perhatian seiring lonjakan harga yang signifikan, meski kinerja keuangan masih tertekan. Emiten ini menyiapkan strategi pertumbuhan melalui peningkatan produksi batu bara, proyek waste-to-energy, dan pengembangan mini LNG.
Prospek saham BIPI dan strategi bisnis Astrindo Nusantara Infrastruktur
Emitenhub.com - Pergerakan saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI) pada awal 2026 menarik perhatian pelaku pasar. Dengan harga Rp180 per lembar, saham BIPI mencatatkan kenaikan lebih dari 100 persen hanya dalam periode perdagangan yang relatif singkat.
Lonjakan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai daya tarik saham BIPI. Menyikapi volatilitas harga, Bursa Efek Indonesia melakukan penghentian sementara perdagangan saham BIPI sebagai langkah cooling down, yang bertujuan memberikan perlindungan bagi investor.
Jika dicermati dari sisi fundamental, kinerja BIPI hingga kuartal III-2025 masih berada dalam tekanan. Berdasarkan laporan keuangan, perseroan membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$5,41 juta, berbalik dari posisi laba sebesar US$3,57 juta pada periode yang sama sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan harga saham belum sepenuhnya sejalan dengan kinerja keuangan perseroan.
Tekanan pada kinerja bottom line tersebut dipicu oleh penurunan pendapatan perseroan. BIPI mencatatkan pendapatan sebesar US$194,82 juta, turun 53,40 persen secara tahunan dari US$418,06 juta.
Pelemahan pendapatan tersebut tidak terlepas dari lesunya kinerja penjualan batu bara yang masih menjadi kontributor utama, dengan porsi di atas 80 persen terhadap total pendapatan. Pada kuartal III-2025, penjualan batu bara BIPI tercatat sebesar US$168,22 juta, turun signifikan dibandingkan US$397,14 juta pada periode sebelumnya.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan BIPI juga mengalami penurunan sebesar 52,18 persen menjadi US$167,98 juta dari US$351,26 juta. Meski demikian, penyesuaian biaya tersebut belum mampu menahan tekanan pada profitabilitas, sehingga laba kotor terkontraksi menjadi US$26,84 juta atau turun 59,82 persen secara tahunan.
Dari sisi neraca, total aset BIPI tercatat sebesar US$1,63 miliar pada kuartal III-2025, sedikit menurun dibandingkan posisi akhir 2024 yang sebesar US$1,69 miliar. Struktur aset tersebut ditopang oleh liabilitas sebesar US$1,04 miliar dan ekuitas sebesar US$588,10 juta.
Rencana Target BIPI 2026
Manajemen BIPI telah mengungkapkan sejumlah rencana bisnis yang menjadi fokus pengembangan pada 2026. Setidaknya terdapat tiga area utama yang menjadi perhatian, yakni segmen batu bara, proyek waste-to-energy (WtE), dan pengembangan pabrik mini LNG. Ketiga lini tersebut mencerminkan upaya perseroan dalam menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus membuka sumber pertumbuhan baru.
Pertama, BIPI masih mengandalkan sektor batu bara sebagai kontributor utama pendapatan. Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur Raymond Anthony Gerungan menyampaikan bahwa mayoritas pendapatan perseroan saat ini masih berasal dari tambang Jembayan dengan produk batu bara, yang menjadi tulang punggung kinerja operasional perseroan.
Raymond menyampaikan bahwa apabila harga batu bara ke depan masih bertahan di level saat ini, potensi peningkatan pendapatan perseroan akan relatif terbatas. Menurutnya, kinerja pendapatan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas yang menjadi sumber utama bisnis BIPI.
Lebih lanjut, manajemen berharap pertumbuhan pendapatan dapat didorong melalui peningkatan total produksi. Produksi batu bara perseroan sebelumnya tercatat lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, seiring belum disetujuinya rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), yang berdampak langsung pada volume produksi.
BIPI berharap persetujuan RKAB dapat diperoleh hingga akhir periode berjalan. Dengan adanya peningkatan produksi pada periode berikutnya, perseroan menilai pendapatan tetap berpeluang tumbuh secara berarti meskipun harga batu bara berada di level yang relatif sama.
Sejalan dengan strategi tersebut, manajemen menegaskan komitmen untuk melakukan efisiensi biaya secara optimal guna menjaga margin dan ketahanan kinerja keuangan.
Berdasarkan paparan publik sebelumnya, Direktur BIPI Michael Wong menyampaikan bahwa volume pada segmen jasa pertambangan melalui Mitratama Perkasa (MP) dan Nusa Tambang Pratama (NTP) diproyeksikan mencapai 68 juta ton pada akhir 2025 dan ditargetkan meningkat menjadi 70 juta ton pada 2026.
Pada segmen pertambangan, produksi batu bara dari konsesi perseroan tercatat mencapai 2,6 juta ton. Untuk periode berikutnya, dengan asumsi ABE telah beroperasi, manajemen menargetkan peningkatan produksi menjadi sekitar 4,8 juta ton, atau naik signifikan dibandingkan capaian sebelumnya.
Faktor kedua, BIPI secara terbuka menyatakan rencana masuk ke proyek waste-to-energy (WtE) dengan nilai investasi berkisar US$300 juta hingga US$350 juta. Direktur Utama Raymond menjelaskan bahwa perseroan sebenarnya telah mengembangkan proyek WtE sejak beberapa tahun terakhir. Namun, dinamika kebijakan serta perubahan di tingkat pemerintah pusat dan daerah membuat proyek tersebut perlu melalui sejumlah penyesuaian sebelum dapat direalisasikan.
Raymond menyampaikan bahwa mandat pemerintah kepada perusahaan nasional untuk masuk ke sektor waste-to-energy memperkuat relevansi rencana BIPI di bidang tersebut. Menurutnya, proyek pengolahan limbah menjadi energi bukanlah hal baru bagi perseroan karena telah dijalani dalam beberapa tahun terakhir.
Meski demikian, BIPI terus melakukan penyesuaian dari waktu ke waktu agar selaras dengan kebutuhan pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Penyesuaian ini mencakup aspek teknis hingga struktur kerja sama proyek.
Manajemen juga mengungkapkan adanya salah satu proyek WtE yang berpotensi mulai berjalan pada periode berikutnya. Untuk merealisasikan hal tersebut, perseroan menilai kesiapan pembiayaan dan struktur pendanaan menjadi faktor kunci yang perlu dipastikan sejak awal.
Manajemen menyampaikan bahwa fokus BIPI saat ini adalah mencari pendanaan setelah studi kelayakan proyek waste-to-energy dirilis dalam waktu dekat. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi di kisaran US$300 juta hingga US$350 juta, yang mencerminkan skala pengembangan yang cukup besar bagi perseroan.
Selain proyek WtE, BIPI juga berencana mengembangkan mini pabrik LNG di Batam. Raymond menjelaskan bahwa pabrik tersebut telah melalui proses pembongkaran selama sekitar satu tahun terakhir dan selanjutnya akan dipindahkan ke Jawa Timur sebagai bagian dari penataan ulang aset dan strategi pengembangan bisnis ke depan.
Jawa Timur dipilih karena BIPI telah memiliki alokasi gas, sementara tingkat permintaan gas di wilayah tersebut dinilai sangat besar. Kondisi ini membuat pengembangan bisnis LNG memiliki prospek yang menarik dari sisi pasar.
Update Maret 2026 — Saham BIPI mencatatkan reli luar biasa sejak awal 2026. Pada 26 Februari 2026, harga saham BIPI melonjak 17,78% ke level Rp318 per saham, dengan kenaikan YTD mencapai +269%.
Lonjakan ini didorong oleh beberapa sentimen positif:
• Strategi diversifikasi bisnis ke waste-to-energy (WtE) dan mini LNG plant yang disambut positif pasar
• Potensi pemulihan volume produksi batu bara yang diproyeksikan mendorong BIPI kembali ke positive earnings di 2026
• Bursa Efek Indonesia sempat melakukan trading halt sebagai langkah cooling down akibat volatilitas tinggi
Dari sisi fundamental, BIPI masih membukukan rugi bersih US$5,41 juta di Q3-2025. Investor disarankan tetap mencermati perkembangan realisasi proyek WtE dan LNG sebagai katalis utama ke depan.
Manajemen menilai potensi penyerapan LNG di Jawa Timur relatif kuat seiring kebutuhan energi industri dan komersial yang terus meningkat. Dengan asumsi proses mobilisasi berjalan sesuai rencana, perseroan berharap aktivitas penjualan dapat mulai terealisasi.
BIPI menargetkan penjualan dari mini pabrik LNG tersebut sudah dapat dilakukan pada kuartal II-2026, sebagai bagian dari diversifikasi bisnis di luar sektor batu bara.


