Saham

Saham EXCL Reli Kencang, Analis Nilai Masih Ada Ruang Naik ke 4.500

Saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatatkan reli signifikan dalam beberapa bulan terakhir, didukung sentimen positif sektor telekomunikasi. Analis menilai saham EXCL masih memiliki ruang kenaikan meski dibayangi biaya integrasi merger hingga 2026.

3 menit membaca
R
Oleh Rio Henanto
Pergerakan saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) di Bursa Efek Indonesia

Pergerakan saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) di Bursa Efek Indonesia (EXCL)

Emitenhub.com - Saham emiten telekomunikasi PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) mencatatkan reli dalam beberapa bulan terakhir.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 11.16 WIB, saham EXCL melesat 12,00% dalam sepekan terakhir dan diperdagangkan di level Rp 4.200 per saham.

Dalam periode satu bulan terakhir, saham EXCL tercatat melonjak 27,27%. Sementara itu, dalam tiga bulan terakhir, saham emiten telekomunikasi tersebut telah terbang 58,49%.

Pengamat pasar modal Michael Yeoh menilai saham PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) masih memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan, seiring membaiknya sentimen di sektor telekomunikasi.

Menurut Michael, tekanan persaingan harga yang selama ini membebani kinerja emiten telekomunikasi diperkirakan akan segera mereda.

“War pricing dari para perusahaan telekomunikasi diproyeksikan oleh banyak analis akan berakhir di tahun ini,” ujar Michael, Jumat (9/1/2026).

Ia menambahkan, dari sisi pergerakan harga saham, EXCL juga menunjukkan sinyal yang dinilai cukup konstruktif. Aksi akumulasi yang terjadi mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek emiten ke depan.

“Melihat area teknikalnya, maka EXCL berpeluang menuju ke level 4.500,” imbuhnya.

Sementara itu, UOB Kay Hian dalam riset yang dirilis pada 17 November 2025 menilai kinerja PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) tetap solid, meskipun masih dibebani oleh besarnya biaya integrasi merger.

Sepanjang sembilan bulan 2025, biaya integrasi EXCL tercatat mencapai Rp 4,4 triliun. Beban serupa masih berlanjut pada kuartal IV-2025 sebelum diperkirakan mulai mereda pada 2026.

Di tengah tekanan tersebut, pertumbuhan average revenue per user (ARPU) dinilai mampu mendorong peningkatan pendapatan sekaligus memperbaiki margin perseroan. Selain itu, potensi penjualan Link Net dipandang dapat menjadi katalis tambahan untuk mendukung pembagian dividen serta memperbaiki posisi utang.

Dari sisi sektoral, UOB Kay Hian menyoroti preseden positif pascamerger Indosat (ISAT), yang mencatatkan perbaikan kinerja harga saham seiring dengan kenaikan margin EBITDA.

Selain itu, potensi perubahan struktur kepemilikan, termasuk kemungkinan keluarnya Axiata serta meningkatnya porsi kepemilikan Sinarmas, dinilai dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan saham EXCL ke depan.

Sementara itu, Ciptadana Sekuritas dalam riset yang dirilis pada 17 November 2025 mempertahankan rekomendasi beli untuk saham EXCL dengan memperbarui basis valuasi ke tahun 2026.

Ciptadana menilai laba bersih EXCL masih berpotensi tertekan hingga akhir 2026 seiring berlanjutnya biaya integrasi merger, sebagaimana disampaikan manajemen dalam paparan kinerja.

Kondisi tersebut dinilai telah tercermin dalam proyeksi kinerja tahun 2026. Meski demikian, kinerja perseroan diperkirakan mulai membaik secara signifikan sejak 2027, seiring dengan meredanya beban biaya integrasi merger.

Ciptadana mencatat, apabila biaya integrasi dikecualikan, laba bersih normalisasi pada kuartal III-2025 diperkirakan mencapai Rp 1,2 triliun. Angka tersebut melonjak 278,4% secara kuartalan dan 219,6% secara tahunan.

Capaian tersebut mencerminkan fundamental profitabilitas EXCL yang dinilai masih kuat dan membuka peluang pertumbuhan laba yang lebih agresif setelah tekanan biaya integrasi berkurang.

Sementara itu, Ciptadana juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, antara lain potensi stagnasi pertumbuhan average revenue per user (ARPU), pelemahan daya beli konsumen yang berkepanjangan, serta risiko kegagalan perseroan dalam mengoptimalkan sinergi pascamerger.

Iklan